VALUE PESANTREN

Saturday, February 12, 2022

Kepalang Tanggung Memperbaiki Segalanya


**

“Belalah perempuan ini dengan sehabis-habis dayamu, tumpahkanlah segenap kekuatan pikiran dan kepandaianmu dalam perkara ini.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Novel pelajaran hidup yang sangat menyentuh hati, awal membuka lembaran pertama buku telah menyentuh emosi pembaca untuk melanjutkan membacanya, tidak kurang 2 jam novel ini tuntas dihabiskan, sebuah mahakarya fiksi yang luar biasa mengesankan.

 

Penulis pemula ini, mencoba memberanikan diri mendeskripsikan sekelumut isinya, sekedar untuk mengambarkan alurnya; agar terasa sensasi emosi naik turunnya, berawal kisah tentang seorang suami dan istri yang hidup rukun tiada pernah cekcok, hidup saling setia satu sama lainnya, hingga satu ketika suatu kejadian menjebak istrinya sehingga istrinya terfitnah, dan karena kalutnya sang suami, cepat mengambil keputusan untuk mengusir sang istri dari rumah, saat itu juga. Disinilah awal perjalanan novel terusir ini mulai berombak bergelombang.

 

Digambarkan seorang wanita jelita, istri yang sholehah, istri baik-baik awalnya, tetiba kehilangan penghidupan, kehilangan tempat bernaung, tidak memiliki sandaran hati, tidak memiliki tempat berlindung, malam itu terpikir hanya sebuah tempat teman akrab orang tuanya dulu semasa hidupnya, yang kerap dipanggilnya pakcik. Malam itu kesanalah tempat tujuannya menginap.

 

Tak lama dia tinggal disana, sebab istri pakcik cemburu, mencari beragam cara agar wanita yang menumpang lekas hengkang dari rumahnya, hingga akhirnya terpikirkannya cara busuk untuk menuduhnya mencuri tusuk konde miliki istri pakcik yang berbahan emas, singkat cerita malam itu juga, dia (wanita penumpang) berangkat meninggalkan rumah itu; untuk kedua kalinya ia terusir dari rumah.

 

Dengan pikiran kalutnya ia kemudian membuat taruhan dalam hidupnya, jikalau habis usahanya mentok arah tujuannya ada dua jalan yang terpampang dipikirannya pertama menjual diri untuk bertahan hidup dan kedua bunuh diri. Cukup sekali berdosa namun tidak terjerumus dalam dunia kelap yang hina dina dipandangan manusia. Begitu cetek pikirnya malam itu.

Lama ia berusaha mencari keberuntungan untuk bekerja hingga pada akhirnya dia diterima menjadi pembantu rumah tangga di sebuah rumah tuan dan nyonya berkebangsaan Belanda, sekitar 5 tahun dia bersama mereka, lalu tuan dan nyonyapun pergi ke kembali ke kampung halamannya di Eropa, terpaksa istri yang terbuang bernama Mariah itu pun mulai mencari kehidupan baru, tetiba Yasin satu tempat kerja yang biasa mengurusi taman tuan dan nyonya tersebut menawarkan diri untuk menjadikannya istri, singkat cerita mereka menikah. Namun malang nian nasibnya Mariah, berharap dilindungi malah ditipu dengan lelaki ini, hartanya habis, emasnya digadai, dan terpaksa ia harus bercerai untuk kedua kalinya. Kisah terusir ketiga kalinya terpaksa harus ia telan pahit-pahit. Dalam kehidupan lurus dan usahanya untuk tetap baik, kini mulai goyah diterpa ombak cobaan yang serasa tiada hentinya.

 

Hingga usai dari peruntungan terkahir kali ini, tidak lagi terpandang olehnya apakah itu baik dan buruk, apakah itu semua, sebab semuanya telah sama dipandangannya, semuanya hanyalah hidup yang tidak berpihak padanya, akhirnya dia terjerumus, jatuh, terprosok dalam kumbangan pelacuran hina, dina, seketika itu ia sadar bahwa dirinya memupus harapannya, merubah namanya menenggelamkan nama aslinya dan berganti nama menjadi “neng siti” seketika nama sitipun harum dan viral di kalangan para pelanggan; hanya mengenalnya dengan sebutan barunya itu, dan diapun terkenal, oleh sebab kecantikannya yang masih alami.

 

Selanjutnya ia dengan sekian roda kehidupan yang terus berputar, awalnya berada di atas kini telah mulai beruntun turun putaran roda ke bawah, sehingga namanyapun redup berganti dengan nama pemain baru, yang itu lebih gellis, lebih muda, lebih cantik, lebih menawan dan lebih menarik nafsu bagi mereka yang sedang dirundung syahwat membara.

 

Namun ada satu keajaiban dalam posisi seperti ini, didapatkannya sepucuk koran yang tergeletak dan dibacanya satu nama yang tak asing baginya, ialah nama anaknya Sofyan Azhar, dalam haru biru ia bangga melihat anaknya telah menjadi tuan master pengacara, dengan gagah photonya terpampang disana, betapa bangganya ia, betapa rindunya ia akan anak kandungnya.

 

Teringat kenanganan masa lalu, saat malam ia meninggalkan rumah, sang anak sedang tertidur di usianya yang baru 7 tahun, tidak mengerti apa dan bagaimana sebab ibunya meninggalkan rumah, karena kangen yang mendera beberapa kali sang ibu melewati pagar pintu rumah anaknya yang gedong, hanya untuk melihat buah hatinya, keluar masuk pintu pagar rumahnya, tak terbayang bagaimana rindunya Ibu ingin memeluk buah hatinya yang tertahan berpuluh-puluh tahun lamanya.

 

Singkat cerita, ada sosok pria muda yang iri akan kejayaan anaknya ibu Mariah, mendengarkan hal itu, sang ibu tidak rela, dan mengatakan jangan demikian, dia jelaskan perlahan-lahan, hingga akhirnya diceritakan sang ibu bahwa sosok yang dimusuhinya adalah tidak lain anak kandungnya sang ibu, bertambah sumringah musuh anaknya tadi, seraya ingin mengabarkan berita ini ke seantero jagad raya, agar hilang pamor anaknya, agar kacau hidup anaknya, saat media mengetahui sosok yang viral saat ini adalah putra dari seorang pelacur yang saat ini tua tidak laku.

 

Dimintanya untuk bertahan dan merahasiakan hal itu, namun ia tetap bersi keras meninggalkan Mariah dengan segenap nafsu ingin menjatuhkan anaknya, seketika ibu yang tak rela marwah anaknya terancam, dalam hidupnya tidak ada yang lebih berharga kecuali melihat hidup anaknya bahagia, sebab itulah hakikat hidupnya saat ini. Membela dan menjaga kehidupan anaknya, sama seperti menjaga jiwa dan nyawanya sendiri, dari pada nyawa dan hidup anaknya terancam, maka dengan segera ia mengambil satu keputusan besar dalam hidupnya, diambilnya sebilah pisau yang telah disimpannya sejak awal, diraihnya tubuh pria yang telah menendangnya tersungkur tersebut, dirobeknya perut lelaki itu, dan selanjutnya ditujukan pada lehetnya, seketika darah mengalir, nyawa naik kepermukaan dibawa malaikat izrail ke dalam dimensi yang berbeda, sambil termenung dia lega dan menunggu polisi menangkap dan mengadilinya, dengan ikhlas ia menyerahkan dirinya.

 

***

 

Alurnya cepat mengalir, didalamnya mengambarkan arti dari sebuah kesetiaan, keinsafan, kegelapan masa muda, kecemerlangan, kesedihan, penyesalan, keilmuan, impian, cita-cita, kefanaan, kenuniaan, keakhiratan, perjuangan, kecintaan seorang ibu pada anaknya, dan pengorbanan orang tua akan anaknya, hingga bagaimana rasa rindu yang terpendam dalam kurun waktu panjang, tahunan. Dalam sebuah novel mini, yang hanya memiliki 129 halaman dapat menghadirkan semua yang tersebut di atas secara bersamaan, sungguh sangat memukau.

 

Tidak akan pernah luput khas tulisannya Buya Hamka, Nampak jelas, bagaimana proses persidangan itu berjalan, bukan lagi seperti persidangan yang sekedar sketsa akan tetapi realita itu tergambar begitu sangat jelas sekali, kekayaan imajinasi dan informasi serta pengetahuan akan pengadilan, pengacara, dan rentetan demi rentetan persidangan sekilas menggambarkan beliau ahli dalam menciptakan imajinasi tempat.

 

Yang memilikukan dari cerita ini, ketika tuan master pengacara mengetahui siapakah sebenarnya ibu kandungnya! Dan ketika ia tahu bagaimana cerita sebenarnya! Sampai ketika ia tanpa sadar mengumpulkan keluarga dalam satu tempat seperti reunion famili di bilik persidangan, menjadikannya lebih terlihat alami dan memukau, ada rasa takjub, sebuah keajaiban takdir yang mengantarkan perjumpaan yang tak terpikirkan namun kemungkinan itu nyata adanya. Semuanya berkumpul, semua terbongkar seketika.

 

Jika dalam novel ini Buya Hamka mengatakan takdir tidak akan terjadi kecuali ada sebabnya maka dengan penyebab puluhan tahun yang telah berlalu, terasa sangat tidak mungkin bertemu dalam satu suasana pengadilan yang memilukan, menghujam bagi mereka yang tersangka, baik itu secara terucap nama atau terselubung nama.

 

Mariah, ia Mariah. Ibu sekaligus perempuan halus perasaan dan cantik rupanya ini harus terusir karena sang suami, Azhar, termakan dan menelan fitnah dengan bulat-bulat. Lika-liku kehidupannya yang tak berantah pun dimulai. Mariah harus terusir dari rumah suaminya, kemudian terdampar di Medan hingga terjerembab di dunia gelap dan reman di Jakarta. Sebuah mahakarya dari Buya Hamka, sang sastrawan Pujangga Baru. Novel yang akan memaikan dan mencampuradukkan emosi dan perasaan terdalam kita soal cinta, kehilangan, fitnah, permusuhan dan kasih sayang.

 

Terkesan mungkin ceritanya hanya layak dikonsumsi untuk orang dewasa tidak untuk anak-anak, sebab di dalamnya tergambar kehidupan keras khas orang dewasa, namun kembali saya urungkan niat untuk mengutarakan hal ini, saat melihat ujung cerita yang menceritakan bagaimana perasaan sayangnya orang tua pada anaknya, dan bagaimana baktinya anak pada orangtuanya, seakan menjadikan novel ini legal untuk remaja muda. Jadi kelihatan ambigu ya, ulasannya. Yah begitulah sastra, susah untuk direka dan diterka.

 

Terlepas dari itu semua, semoga semuanya terinspirasi, dan selamat membaca J

 

**

Judul Buku      : Terusir

Penulis             : HAMKA

Penerbit             : Gema Insani, Jakarta

Cetakan             : Pertama, Rabi’ul Akhir 1437H / Januari 2016 M

Tebal                  : viii + 132 hlm; 18,3 cm

ISBN                  : 978-602-250-292-0

Genre                : Novel

Harga                : Rp. -

Resensator        : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

0 comments :

Post a Comment

Terima kasih telah berkenan mengunjungi situs ini.