Kamis, 17 Februari 2022

Seimbangkanlah Hidupmu; Maka Kau Akan Bahagia


**

“Apabila seseorang telah bersyahadat  dengan kalimat tauhid, maka baginya pantang menundukkan muka kepada yang selain Allah.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Dalam buku ini, Buya Hamka menegaskan bahwa pertanda kosongnya jiwa serta binasanya hati yaitu ketika seorang Muslim sekadar mengaku beriman tapi ia enggan dan lalai mengerjakan amal-amal saleh secara berkelanjutan. Padahal untuk menyeimbangkan hidup sesuai tuntunan Islam maka harus ada keterpaduan (keharmonisan) antara iman dan amal saleh. Artinya, seorang Muslim tidak cukup saja mengaku beriman, tapi ia juga harus kontinu melaksanakan dan menggiatkan ibadah dan amal-amal salehnya. Dengan begitu, maka keimanan seorang Muslim bisa dikatakan telah sempurna. Sebab, Islam adalah agama yang syamil, sempurna. Agama yang sesuai dengan fitrah manusia, harmonis, dan tidak memberatkan manusia.

 

Karya emas Buya Hamka ini, memberikan deskripsi dan perspektif bagaimana seharusnya menempatkan porsi iman dan amal saleh secara tepat sesuai tuntunan syariat. Sehingga ketika mengerjakan perintah agama, merasa tenang hatinya, itulah tandanya hati itu baik. Dan hati bisa tenang adalah gambaran keimanan yang kokoh, telah berdiri pada pilar yang seharusnya.

 

Dalam hal ini  dengan tegas IbnuTaimiyah di dalam fatwa-fatwanya menegaskan tentang arti iman.

 

الإِيْمَانُ عَقِيْدَةٌ وَعَمَلٌ فَهُوَ إِذًا يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

 

“Iman ialah aqidah dan amal. Sebab itu ia bertambah atau susut.”

 

Tafsiran dari fatwa di atas adalah situasi bertambah banyaknya amal dan atau mungkin semakin menyusut ada alunannya. Namun bagaimanapun amal itu tetap ada. Misalnya, satu waktu amalnya naik , sehingga shalat lima waktu ditambahnya dengan rawatib, tahajud, shalat sunnah, dhuha dan lain-lain. Sedangkan gambaran keimanan menyusut tidak mengerjakan apapun ibadah tambahan kecual yang wajib lima waktu itu saja. Namun kalau sudah ditinggalkannya shalat lima waktu itu, walaupun satu waktu dengan sengaja nisacaya bukan mukmin lagi! Tegas Buya Hamka menjelaskan hal ini.

 

Luar biasanya buku ini menceritakan banyak hal yang telah menjadi rutinitas tapi seketika dikupas apa inti dari semua yang dikerjakan sehingga tambah jernih hati dan pikiran untuk menatap hidayah dan cahaya.

 

Pernahkah terpikirkan oleh kita apakah filosofi dari berwudhu’ sebelum shalat?


Imam Ghazali, ahli falsafah dan tasawuf Islam yang amat terkenal itu melukiskan hikmah wudhu yang amat menarik hati. Bagaimana hikmah yang terkandung dalam membasuh muka, kedua tangan, menyapu kepala, dan membasuh kaki. Dibaginya wudhu itu kepada tiga bagian. Pertama, Membasuh anggota wudhu dari kotoran karena pekerjaan kita yang sibuk setiap hari mungkin dihinggapi najis-najis. Kedua, lalu ia masuk ke dalamnya lagi, yaitu membasuh muka. Siapa tahu entah tadi terlihat, terdengar atau terhirup oleh hidung daki-daki dosa yang merusak iman kita. Demikian juga membasuh tangan, entah terjamah dan terpegang barang yang tidak diridhai Allah, entah kepala ini telah penuh dengan panas dan hawa duniawi yang kacau balau, entah mengacau pikiran isi-isi koran dan majalah yang bersimpang siur, sehingga perlulah kepala disapu dengan air supaya dingin. Membasuh kaki, entah terlangkah kepada yang mengganggu jiwa. Akhirnya pada tingkat ketiga, beliau katakan bahwasannya yang menjadi inti dari wudhu ialah membersihkan hati dari pada segala kotoran, dosa besar dan dosa kecil, dan menegakkan ilahi dalam jiwa, tidak bercampur dengan ingatan yang lain.

 

Maka tepat sekali kiranya shalat itu, salah satu manfaatnya dapat memelihara dan memupuk jiwa, supaya jangan sampai sakit, karena hebatnya perjuangan akal batin dengan akal lahir.

 

وَاسْتَعِنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَوةُ، وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الخشِعِيْنَ (٤٥)

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (al-Baqarah: 45)

 

Khusyu artinya mengakui kekuasaan Allah dan tunduk kepada-Nya. Bila pengakuan telah ada kepada-Nya, tidaklah ada yang berat lagi. Semuanya menjadi ringan. Oleh sebab itu, alat penguji kemurnianan batin yang paling praktikal ialah shalat.

 

Sesuai dengan judulnya, Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, dalam buku ini Buya Hamka menitik beratkan pembahasan pada kesesuaian antara iman seseorang dengan amal salehnya sebagai aplikasi dari keimanan. Seseorang yang mengaku beriman, tetapi tidak melakukan ibadah dan amal saleh maka diragukan keimanannya.

 

Masih banyak analogi lebih mendalam, anasir-anasir lebih gamblang, dan penjelasan-penjelasan yang lebih mendetail dari sekedar yang tersurat di atas ini, untuk itu menurut saya, bagi para pembaca budiman dapat menjadikan buku ini termasuk daftar list yang harus dibaca berulang-ulang, sebab buku ini memiliki keajaiban-keajaiban sendiri, semakin dibaca, ada saja hal baru yang di dapatkan, seakan magnet yang membuat hati semakin lengket untuk terus mengkajinya ulang, agaknya seirama dengan jawaban Socrates ketika ditanyai tentang bagaimana kesannya ketika menuntut bergai ilmu pengetahuan. Jawaban kesannya adalah “suatu posisi dimana yang dapat saya ketahui, bahwa saya tidak tahu” juga sama seperti jawaban Imam Syafi’I “Tiap-tiap bertambah ilmuku, bertambah pulalah aku insaf bahwa aku tidak tahu.”

 

Semoga terinspirasi, Selamat membaca J

 

 

 

**

Judul Buku      : Kesepaduan Iman Dan Amal Saleh

Penulis                        : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Jumadil Awwal 1437 H/Februari 2016 M

Tebal               : xiv + 190 hlm; 20,5 cm

ISBN                : 978-602-250-290-6

Genre              : Umum

Harga              : Rp. 50.000,-

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

 

 

0 komentar :

Posting Komentar