Kompetisi Bahasa Itu Penting; Tetapi Etika Dalam Menjalaninya Jauh Lebih Penting*
Sebuah kesyukuran mendapatkan undangan dalam Pembukaan Perlombaan “Syahrul Lughah” (baca: bulan bahasa) pada sore hari ini, sangat senang rasanya berada di tengah-tengah teman mahasiswa yang aktif, kreatif dan berjiwa muda ini.
Kami mengapresiasi setinggi-tingginya terhadap acara ini, sebuah acara yang diinisiasi dari kelompok belajar bahasa Arab mahasiswa; tidak cukup hanya belajar dalam kelompok, kini berevolusi menjadi sebuah pergerakan budaya bahasa, bahkan mulai melebarkan sayap mejadi duta bahasa Arab di kampus.
Lewat acara Perlombaan “Syahrul Lughah” ini, menjadi langkah awal kreatifitas mahasiswa terasah, serasa kunci keberhasilan mulai tampak dari sela-sela proses perkuliahan, besar harapan kelak menjadi alumni yang mengharumkan kampusnya, salah satunya lewat budaya bahasa Arab ini.
Dalam hal kepanitiaan, pelaksanaan, dan perlombaan, saya sangat yakin teman-teman mahasiswa dengan musyrif telah mempersiapkannya dengan sangat baik dan sangat matang, di dalamnya ada beragam perlombaan bahasa yang telah disusun oleh panitia. Seperti: Ma Huwa (baca: Tebak Kata Berbahasa Arab), Qiroah Kutub (baca: Baca Kitab Kuning), Insya (baca: Mengarang Berbahasa Arab), dan Cerdas Cermat.
Terima kasih untuk kerja kerasnya. Terima kasih untuk semangat berprosesnya. “Idza tammal Amru Zoharon Nuqson, atimma sa’yaka wallahu musta’aan.”; even the best must be improve, selalu saja ada evaluasi atau pengingat di setiap kegiatan; berguna sebagai daya dorong maksimal untuk terus berproses maju dan lebih baik dari waktu ke waktu.
Maka dengan itu, pada kesempatan kali ini 1 bulan ke depan Anda akan menghadapi kompetisi bahasa, satu catatan penting, bahwa makna kompetisi tidak sekedar perlombaan dan kejuaraan namun harus dimaknai lebih dalam lagi dengan makna peningkatan satu derajat adab menuju manusia sempurna.
Kompetisi itu penting, prioritas dan sakral, sebab erat dikaitkan dengan kompetensi. Ketika seseorang memiliki kompetensi, di saat itulah dia bisa membuktikan bahwa dia contoh pembelajar yang sukses mempertahakan prosesnya hingga menjadi ‘inheren’, menjadi bagian dari tubuh, pikiran, akal yang tidak terpisahkan dari dirinya sendiri, proses internalisasinya mengakar hingga ke sumsum kehidupannya.
Hal ini seirama dengan tagline kampus ini “Menuju Lahirnya Insan Beradab”, dengan semboyan tertulis besar “Addabni Rabbie, Fa Ahsana Takdibie” dalam terjemahan bebas, mahasiswa dapat mengartikan Tuhanku mencintaiku, karena itu Dia memperbaiki Adabku; Tuhanku mengjarkanku adab, sehingga baiklah adabku; Tuhanku menanamkan adab yang baik, akhlak yang sempurna, maka ku rasakanlah nikmatnya memiliki adab yang baik itu; banyak gubahan kata penerjamahan bebas untuk menjadikan Anda dekat dengan tagline ini, satu langkah lebih dekat dengan jargon kampus yang berbasis pesantren ini, sama dengan Anda telah merasakan “halawatul Ilmu” (baca: manisnya ilmu).
Menguatkan kembali adanya kompetisi yang kemudian menciptakan kompetensi, menurut Abu Said Al Kharraz, memaknai kompetensi itu mesti mengindikasikan penguasaan prinsip-prinsip mendasar dari etika, sedikitnya tiga hal penting yang harus dikuasai yaitu Keikhlasan, Kebenaran atau kejujuran dan kesabaran; kelak jika tiga hal ini telah dijalakan dengan sebenar-benarnya, maka akan terciptalah generasi-generasi yang kuat karakternya, kokoh mentalnya, lurus keyakinannya, indah etikanya dan luhur adab pekertinya.
Mengupas kembali perkataan Abu Said Al Kharraz di atas, pertama dalam keikhlasan, mahasiswa suka rela untuk meniatkan segala sesuatunya lillah, baik dalam bentuk lahir ataupun batin. Dan tidak hanya itu, mahasiswa juga mesti ikhlas dalam mempelajari hal baru, dengan penuh harapan, jika ini terus dipraktekkan maka ilmu pengetahuan manusia tersebut akan bertambah, kelak dengan ilmu itu hati dan jiwanya dapat terlindungi dari penyakit-penyakit diluar sana, menjadikan jiwanya tetap dalam kondisi “jiwa muthamainnah.”
Kedua, dari kejujuran dan dan kebenaran, mudahnya kita memahaminya adalah menyelaraskan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Ketepatan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilaksanakan, dengan sendirinya akan menciptkan kebenaran yang bertahan sehingga jujur menjadi identitias yang melekat. Maka dalam kompetisi yang akan dibuat ini, hendaknya selaras dengan ketentuan yang telah ditetapkan, tidak ada praktek ‘ordal’ (baca: Orang Dalam) dan lain sebagainya yang serupa dan sejenis untuk merusak nilai-nilai kebenaran dan kejujuran.
Ketiga, dalam kesabaran. Banyak tokoh, ulama dan para ‘alim telah menjelaskan ini dengan matang, maka mengulas konsep ini, sama halnya mengulang kaji kembali, namun kesabaran yang saya maksudkan adalah adalah kesabaran dalam konteks membiasakan diri dalam melakukan apa yang dibenci oleh ‘jiwa mazmumah’, sehingga secara otomatis jiwa kita akan berpola dan berbentuk menjadi jiwa sebaliknya yaitu ‘jiwa muthmainnah’, ‘jiwa mahmudah’.
Akhir kata, terima kasih untuk setiap perjuangan yang telah berhasil dilaksanakan, sebagai penutup kata, pesan KH. Imam Zarkasyie: “al-‘amalu Bikhoatimiha” Terhitungnya pahala amal seseorang, ketika tuntas perkerjaannya hingga akhir. Maka tuntaskanlah apa yang sudah kamu mulai dengan penuh dedikasi keikhlasan, kejujuran/kebenaran dan kesabaran.
Waallahu’alam bissoab.
· Sambutan ini disampaikan dalam rangka pembukaan Perlombaan “Syahru al Lughah 2026” Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh grub belajar An-Nahdah, di Lapangan Hijau STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan. Kamis Sore, 1 Otkober 2026.
0 comments :
Post a Comment
Terima kasih telah mengunjungi dan berkomentar bijak di situs ini.