Rabu, 09 Februari 2022

Buya Hamka; Pribadi Tangguh lagi Bermartabat

 

**
“….. Kalau saya dihukum, nyatalah semata-mata karena dianiaya. Terhukum dengan aniaya lebih saya ridha menerimanya, dari pada saya dihukum karena bersalah melanggar Undang-Undang Negara, karena melanggar Undang-Undang tidak pernah menjadi tujuan hidup saya. Saya berjuang selama ini hanyalah dengan jalan legal. Dan, sebagai seorang yang telah berumur, tidaklah saya mau menempuh satu jalan yang sia-sia, yang tidak ada faedahnya.”

 

[Keterangan Prof. Dr. Hamka yang tertulis dalam lampiran pada halaman 296]

**

 

“Buku ini bukanlah sebuah biografi Buya Hamka yang sarat dengan data, tapi sekadar kenang-kenangan seorang anak terhadap ayahnya yang baru meninggal. Dalam suasana duka cita, dan diliputi oleh berbagai ingatan tatkala Almarhum masih hidup dan berada di tengah-tengah keluarga, buku ini ditulis sekadar untuk menghalau yang belum kunjung berakhir dari seorang anak yang selalu menyertai dan mengurusi Almarhum tatkala hidupnya. Oleh karena itu, subjektivitas pasti tidak bisa dihindarkan. Untuk itu, paling-paling penulis minta dimaklumi dan dimaafkan oleh pembacanya.” Begitulah ungkapan jujur dari seorang H. Rusydi Hamka. Dalam pembukaan di paragraph pertama dari ucapan terima kasih.

 

Sebagai peresensi buku-buku Hamka, jujur baru kali ini, saya membaca catatan yang sangat runut dan kuat ruh tulisannya, terutama dalam setiap lampiran yang tertera. Semua lampirannya sungguh sangat jelas, lugas, benar-benar Hamka adalah sosok jurnalis sejati, mendokumentasikan setiap kejadian dalam untaian kata begitu sangat jelas, terang dan spesifik sejauh yang dia tahu tentang suatu daerah atau kejadian, sehingga tergambarlah betapa sulit, terjal, semak belukarlah jalanan dakwah yang dilaluinya. Melewati banyak tuduhan, fitnah, yang kesemuaannya membutuhkan nurani yang tulus untuk melewatinya, dan harus memiliki kedekatan yang super luar biasa pada Allah swt untuk menguatkan niat dakwah dalam perjuangannya. Ingin mengetahui alurnya, para pembaca bisa membaca pada judul “Lampiran 1 Catatan dalam Tahanan Rezim Soekarno.” Pada halaman 262 s/d halaman 296.

 

Sebagai ulasan singkat, maka saya coba tuliskan judul-judul dalam bab yang tertulis dengan beberapa petikan kata beliau yang walaupun singkat, saya rasa cukup untuk menjadi pelipur dalam hati yang sangat dilanda rindu akan hadirnya beliau dimasa-masa sekarang ini.

 

Pada Bab. I

Judul pertama: Catatan Latar Belakang Kehidupan Hamka. (h. 2)

“Di usia belasan tahun, Hamka sudah merantau ke Makkah. Meski merasa kehilangan, ayahnya bangga karena Hamka mampu berpijak pada kakinya sendiri.” 

 

Judul kedua: Tongkat-Tongkat Buya. (h. 12)

“Tongkat yang telah menopang tubuhnya selama 23 tahun. Dengan itu pula, Buya Hamka menjangkau dunia.”

 

Judul ketiga: Ibu, Obat Hati Ayah dan Anak. (h. 26)

“Ucapan-ucapannya selalu menguatkan hati dan membantu suaminya mengambil keputusan yang tepat. Dialah Ummi, seorang wanita sederhana pendamping Buya Hamka”

 

Judul keempat: Tahun-Tahun yang Cerah. (h. 43)

“Ibu adalah obat hati anak-anakku, karena duka cita kami ditinggalkan Ummi,” begitu kata Ayah, memuji istrinya. Kami pun memujinya sebagai ibu tercinta sejak kelahiran kami, sampai kelak Tuhan memisahkan.

 

Judul kelima: Kenangan Akan Buya Hamka yang Mengharukan. (h. 51)

“Makan sirih ujung-ujungan

Kurang kapur tambahi ludah

Tanah Deli untung-untungan

Hidup syukur matipun sudah…”

Apa yang dilihat dan dikenangnya, bisa dia pantunkan dengan indahnya.

 

Judul keenam: Pribadi Buya Hamka yang Menakjubakan. (h. 68)

“Daya ingat dan kesan dalam mata…Iitulah kelebihan Buya Hamka, yang kemudian dia tuangkan dengan penanya, dalam mesin tik-nya. Menulis telah menyatu dengan jiwanya.”

 

Judul ketujuh: Fatwa dalam Humor. (h. 89)

“Buya Hamka selalu bisa menceritakan suasana. Meskipun kondisi tengah pedih, tak lupa dia menyelipkan humor-humornya untuk melupakan suasana duka.”

 

Masih tersisa sekitar 10 judul lagi di bab ke 2, dan ada sekitar 9 untaian lampiran yang merupakan catatan orisinil seorang Hamka yang kemudian diketik kembali dan lalu disimpan, tidak pernah dikeluarkan, namun pada buku inilah baru lampiran itu dipublikasikan, menjadikannya sangat orisinil memuat memori kerinduan teramat dalam dari seorang anak yang mengetahui betul bagaimana sosoknya, bagaimana perjuangannya, bagaimana kiprahnya, bagaimana sikapnya dalam menjalani setiap permasalahan yang terjadi selama ini. 

 

Jika ingin sempurna ingatan tentang Buya Hamka, dan mengerti jelas bagaimana kiprah dan bentuk perjuangannya, maka lampiran ini adalah kata kuncinya, bacalah satu persatu lampiran tersebut, akan tampak jelas situasi ketika itu sejelasnya matari yang telah terbit sejak waktu dhuha.

 

Sebagai pembaca yang mungkin lebih awal dari teman-teman membaca buku ini, agaknya saya merasa terkesan, dan sangat menyukai buku ini. Untuk itu tidak ragu saya rekomendasikan buku ini, untuk dibaca dengan seksama, walaupun buku ini terkesan seperti pandangan subjektif dari seorang anak kepada ayahnya; seperti yang saya kemukakan di awal, namun dengan adanya tambahan data, berupa lampiran-lampiran yang orisinil, dapat menghilangkan kesan tersebut dan menjadikan buku ini adalah buku yang sangat kuat riwayat catatan kakinya.

 

Kiranya pembaca dapat menilai sesuai keadaan hatinya, untuk selanjutnya saya ucapakan selamat membaca & semoga terinspirasi. J

 

**

Judul Buku      : Pribadi dan Martabat Buya Hamka 

Penulis             : H. Rusydi Hamka

Penerbit          : PT. Mizan Publika, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Januari 2017 

Tebal               : 387 hlm

ISBN                : 978-602-385-240-6

Genre              : Memori

Harga              : Rp. 

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

0 komentar :

Posting Komentar