Senin, 21 Februari 2022

Tradisi Mengumbar Aib

 

Adalah suatu tradisi keliru ketika seorang mengumbar aib orang lain dengan tanpa merasa bersalah. Perbuatan yang sangat menjijikkan, sama menjijikkannya seperti memakan daging bangkai dari saudaranya yang sudah meninggal. Tidak muntahkah dia? Jika tidak muntah, mungkin akan lebih baik segera mengunjungi klinik terdekat atau bahkan ke rumah sakit, periksakan segera indra penciumanmu dan indra perasamu, kali saja semuanya telah tidak berfungsi. Karena jika tidak, lambungmu yang akan merasakan derita, dan menahan pedih dan jijiknya dari makanan yang kamu makan.

 

Satu ilustrasi di atas dibuat menyikapi suatu tradisi buruk yang telah dianggap maklum. Mengumbar kesalahan adalah pemakluman yang keliru rasanya, sebab yang beredar adalah energi negative. Coba dibalik dengan memberikan solusi positif, ambil solusi dari kesalahan yang diperbuat oleh orang terkait, setelah semuanya selesai terkendali, lalu tanyai secara personal alasannya, kemudian sampaikan pemakluman, jika kebetulan alasannya syar’I (dapat diterima), sampaikan kita paham akan kondisinya, namun tetap jelaskan bahwa di waktu yang sama perbuatan ini adalah kesalahan. Jika disampaikan kepada orang yang bermasalah tanpa harus mengumbarnya di depan umum, rasanya lebih membuatnya arif, bijak dan cukup untuk bisa disegani. Bah terlalu lambat! Memang begitulah seni memimpin. Melelahkan! Mendidik memang pekerjaan besar yang melelahkan, memang demikianlah adanya.

 

Barometernya adalah dirimu. Senangkah engkau jika hal yang sama diperlakukan terhadapmu? Lebih terima diperlakukan sebagaimana manusia terhormat atau diperlakuan sebagai orang yang paling berdosa? Ada banyak hal yang perlu dijaga dalam setiap pengumbaran, entah itu dirinya yang kebetulan memiliki alasan yang jauh lebih penting dari pada yang kewajiban yang harus dia lakukan, atau menjaga dirimu; sebab tanpa kamu sadari aktifitas mengumbarmu mengundang orang lain untuk membacamu, bisa jadi borokmu jauh lebih banyak dan lebih parah dari orang yang dibongkar aibnya denganmu. Mari bersama mawas diri.

 

Pada akhirnya, silahkan membaca, tapi tidak semua yang dibaca harus dibacakan. Silahkan menilai, namun tidak semua yang dinilai mesti disampaikan. Pembacaan dan penilaianmu cukup disimpan untuk bekal dirimu, agar tidak pernah kamu ulangi di sepanjang hidupmu nantinya. Dan terakhir, berhati-hatilah sebab bola yang dilemparkan, akan kembali menyerang orang yang melempar. Teori boomerang itu berlaku pada kebaikan dan keburukan.

 

0 komentar :

Posting Komentar