Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Sunday, September 23, 2018

“Crazy Rich Asians” Mengajarkan Makna Integritas Yang Seharusnya

Awalnya terkesan datar, namun seiring berjalannya durasi, perlahan gambaran, kultur, budaya kaum berada sangat jelas lengkap dengan watak dan lakon yang sesuai dengan dunia nyata. Tampilan drama kehidupan yang sederhana, namun memiliki kharisma tersendiri dalam penyajiannya. Poin penting yang sulit terlupa:

  • Walaupun kamu terlahir dari keluarga biasa saja, maaf katanya terlahir dari keluarga kurang mampu, keluarga broken sekalipun, kamu tetaplah pejuang, petarung, dan pemegang stir kehidupanmu sendiri jangan pedulikan benalu di sekitarmu.
  • Menyalahkan orang lain bukanlah solusi untuk permasalahan apapun itu, sebab inti permasalahan dan solusi ada di dalam diri kita sendiri.
  • Kesempatan boleh datang sekali, ketika kesempatan itu datang, jangan di buang ambil kesempatan itu, jangan pikirkan sisanya. Sebab sisanya tinggal keahlian dan mental beranimulah yang mengambil alih
  • Seberapa kuatpun seseorang mendadani orang yang bermental miskin agar menjadi kaya, tetap akan percuma jika dia tidak ingin. Sebab mental berasal dari  dalam jiwa, jika tidak mau berubah tidak akan terubah.
  • Faktanya orang kaya selalu selangkah lebih maju dari rata-rata orang biasa. Sebelum kekayaan menyelimuti diri dan kehidupannya dia sudah kaya mental terlebih dahulu.
  • Tampil apa adanya, tampil bagaimana adanya adalah satu solusi membuat gerak lebih lues, tanpa ada yang di tutup-tutupi, sebab tampil apa adanya akan membuat hidupmu lebih berarti dan bernilai lebih. Walaupun dihadapan orang paling berkuasa sekalipun
  • Selalu yang cocok yang akan bersatu, dan itulah yang dikatakan jodoh. Cocok bukan hanya sekedar materi, sikaya dengan si kaya, si miskin dengan si miskin namun lebih kepada mental dan passion sendiri. Sebab harta bukanlah pemisah, dan bukan satu-satunya pemersatu pertalian, namun konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan diri itulah penunjang diri yang sesungguhnya.
  • Kamu dan cara kamu menjalani harimu adalah masa depanmu.
  • Ada yang bisa kaya dengan intelektual biasa namun usaha yang luar biasa. Ada yang tidak kaya namun semangat belajar tinggi menjadikannya lebih tinggi dari siapa saja, sebab dia memiliki integritas yang selalu di jaganya.
  • Jangan menyembunyikan sesuatu yang tidak mesti disembunyikan walaupun itu demi menjaga perasaan orang lain, jika ujung-ujungnya menyakitkan. Pilihannya cukup katakan apa adanya, katakan bagaimana seharusnya, jangan di tutup-tutupi, dan jangan curang, nanti kamu yang rugi
  • Patah tumbuh hilang berganti, adalah sunnah kehidupan. Tidak akan ada kesedihan yang berkepanjangan, begitu juga sebaliknya, hanya di butuhkan kesetiaan dan kejujuran.


Note:

In-teg-ri-tas: mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. (sumber KBBI)  

Me: 
Irwan Haryono S

Monday, May 14, 2018

Malaikat Tanpa Sayap

14 Mei 2013. By: Irwan Haryono S

Kali ini aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga, tiada sedikitpun keraguanku untuk mengatakan bahwa pelajaran yang ku dapat ini sangat berguna untuk membuka cara pandang dunia kepada satu wujud tanggung jawab yang terus bermuara pada sisi reliji penuh pesan terkendali.



Tadi malam aku baru saja menonton film, malaikat tanpa sayap, filmnya tidak begitu wah, tapi cukup untuk mengangkat emosiku dalam mengikuti alur  jalannya cerita. Banyak dilema kehidupan, yang selalu beriring berirama berjalan mewarnai dari pada perjalanan hidup kita, terkadang indah dan tak jarang juga sangat gelap, hancur-legam tanpa secercah cahaya sediktpun.


Dari sebuah tayangan yang menarik ini aku mendapatkan banyak pesan tersirat yang alhamdulillah dapat aku serap sejauh daya nalarku memahami arti dan maksud dari apa yang terselubung didalamnya.


1. Ternyata mengetahui akan kematian merupakan matinya seseorang sebelum waktu ajal tiba. Mengapa saya katakan demikian? Dalam ilustrasi langsung yang di perankan oleh artis dan aktor dalam film ini, terdapat dua sejoli muda yang  begitu akrab dan merasa cocok ketika awal bertemu di rumah sakit secara tidak sengaja, dalam karakteristiknya yang lelaki memiliki background keluarga yang broken sedangkan sang wanita di derita dengan penyakit jantung yang terpaksa mengikuti pembelajaran untuk konsumsi otaknya dengan pendidikan homeschooling, ditampilkan dalam sebuah petang mereka berbincang satu sama lain di beranda rumah di lantai 2, disana sang cewek bernama mura membuka perbincangan dengan kata “Burung-burung itu rutin melintas disana sore-sore seperti ini padahal mereka kan tidak memiliki jam” itu namanya insting (jawa vidu; sebagai aktor dalam film tersebut). Mungkin begitu juga dengan kematian dia akan datang karena memang dia telah memiliki waktunya hanya saja kita tidak mengetahui kapan datangnya.


2. Cinta itu adalah kasih sayang untuk saling mengisi. Satu hal yang sangat indah ketika kita memiliki kenalan seorang yang sangat sesuai dengan kepribadian kita, tanpa sedikitpun rasa kekurangan teman, kita akan selalu merasa tenang. Satu contoh yang sangat riil seorang  teman yang kelak memiliki rasa cinta kasih jauh lebih berharga dari pada semua teman yang kaya akan warna bunglonnya.


3. Perjalanan hidup tidak ada yang tahu. Dalam gambaran film tersebut tergambar bayangan ajal terus menghantui sang vino karena ia telah terikat janji dengan pencari donor organ dalam yang ternyata orang tersebut mencari donor jantung untuk di berikan kepada mura, dalam hari-harinya vino selalu melakukan yang terbaik dan selalu menebus akan semua yang kesalahan yang pernah dia lakukan sebelumnya termasuk mengikuti shalat berjama’ah dengan sang ayah  dan di lanjutkan dengan ungkapan maafnya pada ayahnya


    4. Orang miskin tu kebanyakan di pandang sebelah mata; sebuah adegan yang benar-benar mengusik daya berontak mahasiswaku ketika melihat seorang manager bank yang memerlakukan papanya si vino layaknya najis. Terlihat dari dibuangnya bolpoint yang digunakan ayahnya untuk menandatangani surat pembebasan rumah yang dahulu disita oleh orang bank. Dan juga terhadap sikapnya yang langsung mencuci tangannya dengan sabun antiseptick untuk mensterilkan kuman-kuman di tangannya.

   
    5. Curhatan seorang ayah: Nak vino, 3 hal yang paling membuat seorang ayah sedih adalah: ketika melihat anaknya lahir didunia, ketika melihat anaknya sakit dan terakhir ketika melihat anaknya pergi duluan dari pada ayahnya.”


    6. Ternyata jalan kehidupan itu MISTERI. Dalam banyak kasus kita di dunia ini selalu menganggap bawah dunia ini ada di genggaman kita.Naluri sombong manusia tersebut mengatakan bahwa dialah yang berhak mengatur jalan hidupnya dan menjadikan dirinya sesuai dengan yang ia inginkan; padahal semua yang dia lakukan tidak terlepas dan tidak akan pernah terlepas oleh yang namanya takdir Allah, siapa sangka yang sebenarnya ingin mendonorkan jantungnya adalah vino tergantikan dengan jantung ayahnya yang ketika itu tertempak oleh lelaki simpanan istrinya yang telah meninggalkannya jauh-jauh hari ketika hidup mereka benar-benar menyedihkan.



   


 7. Ujian itu salah satunya akan datang tepat dala posisi yang sangat menyedihkan sekali, bayangan manusia selalu ingin menyudahinya. Cobaan dengan sebuah kegembiraan tapi kenyataan seringnya berbeda dari aslinya, tidak semuanya akan selesai sesuai dengan apa yang kita cita-citakan, akan tetapi, akan terus berlanjut dan berlanjut tanpa mengerti kapan akan usainya akan tetapi satu keyakinan pasti akhir dari perjalaan hidup itu akan benar-benar menyenangkan dan menggembirakan jika kita terus bersabar dan juga terus berusaha untuk memperbaikinya. Karena hanya Allahlah yang tahu persis akan nasib dan masa depan  seorang hambanya, terlepas apakah itu berakhir dengan husnul khotimah atau suul khotimah, tapi yang selayaknya kita lakukan adalah pasrah secara total dengan semua kehendak Allah dan selalu memohon akan husnul khotimah yang menjadi akhir dari perjalanan hidup kita.
   

      8. Kenikmatan cinta itu terbukti manakala kita dapat memberi dan menyemangati satu sama lain. Dalam film ini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, sebuah pengalaman hidup yang begitu indah ketika kita merasakan cinta yang tulus dari kedua belah pihak yang di ridhoi oleh kedua orang tua, malah didukung dan menjadi ridho kedua orang tua. Bukanlah tampilan cinta yang sering aku dengar dan aku lihat sendiri kenyataannya dengan kedua bola mata ini.


    9. Semua yang berpisah, semua yang kita tinggalkan dan meninggalkan kita, pasti ada gantinya.
Ini adalah keyakinan yang benar-benar hampir mendarah daging dan membumi dalam nalar logikaku yang kemudian membuatku benar-benar ikhlas terhadap semua kesedihan yang pernah ku alami, membuat aku begitu lapang dengan kenyataan indah yang dalam kehidupan yang benar-benar tertata indah setelah kepasrahan secara totalitas.


     10.   Kegembiraan itu akan muncul ketika kita tahu pahitnya perjuangan hidup, nilai sesuatu akan tampak lebih berharga ketika kita tahu berapa harga yang harus kita bayar untuk mendapatkannya, perjuangan belum berakhir selama kita masih hidup, tidak ada hidup yang kita  batasi, kita tidak tahu dan mengerti kapan semuanya akan berakhir.


     11.   Jadilah dirimu sendiri dan katakan ini lah aku dan apa yang kau nilai terhadapku hanya sekelumit dari rahasia terkecil dari ruang hati dalam jasad hidupku.

Saturday, April 14, 2018

Ilmu dan Amal selalu beriringan.


“ Al-ghazali mengatakan bahwa nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya”.

      Ada dua perkara yang saling mengisi dan tidak dapat dipisahkan, yaitu ilmu dan amal, ilmu berperan sebagai pemimpin, sedangkan amal sebagai bawahannya. Ada pula yang mengibaratkan ilmu laksana pohon, dan amal adalah buahnya. Ilmu tanpa amal tidak berguna, tapi amal tanpa ilmu hanya akan sia-sia.

لَوْ كَا نَ لِلْعِلْمْ مِنْ دُوْنِ التُقَى شَرَفُ*
لَكَانَ اَشْرَفُ خَلْقِ اللهِ اِبْلِيْسُ*

Seandainya ilmu tanpa takwa suatu bentuk kemuliaan 
tentulah makhluk yang paling mulia adalah iblis.

Yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu dharuri’ yaitu ilmu yang berisikan perintah dan larangan Allah SWT. Oleh karena itu waspadalah terhadap ilmu yang dimiliki tapi tidak diamalkan, karena Allah berkata mengenai hal ini:

      “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Jumu’ah: 5)

Bayangkanlah! Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya diibaratkan Allah SWT seperti keledai yang punggungnya penuh dengan buku-buku. Ia sama sekali tidak dapat mengambil manfaat dari yang dibawanya itu.
**
      Maka dari itu Akal tidak dapat dikatakan berfungsi sebagai akal dengan sebenar-benarnya jika sipemiliknya tidak memikirkan hal-hal yang layak dan yang tidak layak dilakukan.

      Orang telah diberi pertolongan oleh Allah dalam mengendalikan akal dan hawa nafsunya, kehidupannya akan sukses dan selamat. Insya Allah, surga adalah tempat kembalinya. Sebaliknya, bila seseorang telah diperbudak hawa nafsunya hingga akal sehatnya sudah tidak jalan lagi, maka kelak ia akan hidup di tempat yang hina, yaitu neraka hawiyah. Wal ‘iyadzu billah!

Sumber dari buku yang berjudul:

Judul : Kepada Anakku Dekati Tuhanmu
Penulis : Abu Hamid Al-Ghazali
Penerbit   : Mathba'ah Al-Ma'arif, Baghdad 1968
Penerjemah : A. Mudjab Mahali
Penerbit         : Gema Insani


Saturday, April 7, 2018

Kesan Menulisku dengan Bang Ma'mun Affany



Kursus Penulisan berasama Bang. Ma’mun Affany.

Mahasiswa Insitut Studi Islam Darussalam
Sumatera Utara –Medan-
Ahad, 07 April 2013
     Assalammu’alaikum... teman-teman calon penulis bangsa, sebelumnya ku perkenalkan diriku dulu ya, namaku Irwan Haryono Sirat, akrab di panggil irwan. Aku tidak mengira mengapa akhirnya jalan untuk menempuh impianku semakin jelas dan terang; meskipun terjalani dalam step yang lambat, tapi bagiku luar biasa hebatnya, sampai ketika aku bertemu dengan bang Ma’mun Affany (penulis novel: ‘Kehormatan dibalik kerudung’), dalam banyak kesempatan aku dan teman-teman sering berjumpa dengan beliau, dalam forum tidak begitu resmi sering tercipta dialog cair seputar penulisan. ya... mungkin bagi beliau terkesan biasa dengan pertanyaan-pertanyaan general yang memang sangat umum dipertanyakan setiap pemula dalam dunia kepenulisan. Dari mulai apakah ada cita-cita ingin jadi penulis sebelumnya? apakah menulis novel itu sulit? Bagaimana cara mendapatkan inspirasinya? Dan beberapa pertanyaan remeh lainnya...  mungkin bagi beliau pertanyaan tersebut tidak lebih dari hal biasa yang sering terulang,  tapi berbanding terbalik dengan kami yang menganggap itu dialog berharga yang tak kan pernah terlupakan. Sangat luar biasa bagi kami yang animo menulisnya sedang menggebu-gebu. Sampai aku merasa ada keanehan dalam diriku, biasanya selalu merasa bosen ketika mendengar penjelasan yang sama dan berulang-ulang tapi ntah mengapa tidak untuk yang satu ini, (mungkin terkesan berlebihan tapi sejujurnyalah yang ku katakan dalam tulisan ini), sama sekali tidak pernah bosan mendengar penjelasan beliau meskipun berulang-ulang; Penjelasan beliau bak magnet, yang memiliki dua kutub; beliau di kutub utara dan aku dikutub selatan, sehingga saling tarik-menarik. Menjadikan proses tulis-menulispun terasa mudah dan nikmat untuk di konsumsi tidak sekedar hari itu, besoknya bahkan lusa, rasa keingainan untuk menulis juga belum bisa pudar dari ingatan. Aku rasa memang dunia kepenulisan itu tidak ada habisnya untuk di perbincangkan.

Menanggapi animo masyarakat kampus yang bersistemkan asrama membuat interaksi kami semakin mudah, beliau tinggal di bagian depan kampus tepat di asrama pascasarjana ISID (tahun 2012 kemaren), sedang kami tinggal di Rusunnawa belakang kampus (hingga detik ini), terlihat begitu banyak yang berminat dan merasa haus imajinasi, dengan segala kerendahan, selayaknya seorang murid yang notabene selalu meminta, maka dengan harap cemas kami menjumpai beliau dan mencoba berkomunikasi dengan selapang-lapangnya dan seluas-luasnya, kami tak dapat menutup-nutupi keinginan kami dengan bahasa lebih indah lagi; agar beliau menangkap pesan tersirat yang kami verbalkan, kami juga belum banyak tau gudang kosa kata  indah untuk menyampaikan maksud tanpa harus terucap jelas bunyinya, sampai akhirnya tercetuslah keinginan untuk mengikuti kursus menulis dengan beliau. Teramat terkejutnya kami ketika beliau menjawab “oke ana siap”, jawaban santai sambil menganggukkan wajahnya, tidak tampak keragu-raguan beliau menerima kami sebagai muridnya.

Sampai akhirnya kami diangkat secara informal, dalam arti kata; sah, menurut kesepakatan, tanpa harus mengundang Rektor untuk memberikan sambutan sebagai pembukaan kursus. Dengan forum yang begitu mahasiswa ini; selalu kondisional, kami tetap dihadapkan pada satu konsekuensi awal yang harus kami matangkan sabagai i’tiqod di permulaan, yaitu dengan mengingat pesan beliau: “Belajar menulis jangan setengah-setengah; dalam artian fokus, dan pertahankan kontiniunitas/ keistiqomahan”, sebab dalam kursus penulisan itu kami diajarkan bahwa segala sesuatu itu harus berawal dan diawali dengan usaha dan proses, tidak ada sesuatu yang INSTAN ‘sim salabim abra kadabra’, “Ingat selalu ada proses” begitulah kalimat yang sering diulang-ulang beliau.

Berikutlah konsekuensi yang harus kami sanggupi, dan kami rasa itu hal yang teramat sangat tidak memberatkan, tapi ternyata seleksi alam itu selalu ada; diawal sebagian banyak masih bertahan dengan segenap keistiqomahan, mulai  pertengahan masa kursus, hanya yang benar-benar bertekad bulatlah yang tersisa. Hingga akhirnya beberapa orang sajalah yang dapat mencicipi manis hasil didikan seorang novelis produktif yang telah melahirkan 5 novel legendaris tersebut. Diantara mayoritas komentar yang beredar dan berhasil ku tulis, beginilah bunyinya: “Cerita dan alur yang luar biasa, beliau selalu menghadirkan nuansa baru dalam alur cerita, tidak ada kesamaan antara novel satu dengan novel yang lainnya, notabene kesemuaannya membahas tentang cinta. Hebatnya  lagi obat  dan ramuan yang digunakan untuk menyelesaikan klimaks permasalahan terasa begitu unik, maka tidak berlebihan kiranya aku menyebutnya: ‘ solusi bombastis’.”

Dalam kursus kepenulisan tersebut setelah pertemuan pertama sebagai perkenalan: kami diminta menuliskan sebuah tulisan tentang gambaran/ view/pemandangan, atau apa saja yang bisa kami lihat dan rasakan dan mencoba untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan, sehingga si pembaca dapat menikmati pemandangan tersebut sama seperti yang kita lihat bahkan lebih indah lagi, pastinya dengan gudang kosa kata kita yang melimpah ruah. Proses ini berjalan cukup lama, ada sekitar 2 minggu kami melakoni hal ini; tanpa tahu apa maksud asli dari ini semua, selain hanya sekedar mendeskripsikan view. Setiap pukul 07:00 WIB pagi, kami harus meletakkan kertas hasil tulisan kami di meja depan perpustakaan pasca ISID, yang telah sengaja disediakan di atas meja tersebut dua kardus kecil bertuliskan “Today”  dan “Yesterday”; setiap tulisan yang masuk di hari pertama di masukkan di kardus ‘today’  dan jika telah masuk di hari setelah nya maka kertas yang tadi di pindahkan di kardus yang satu lagi, makanya kami di suruh melampirkan tanggal, dan nama di ujung atas kertas, tidak banyak tulisan yang kami buat hanya berkisar setengah, sampai satu halaman doank.

Setelah proses penggodokan awal selesai, kami pun akhirnya merasakan ada perbedaan yang tejadi di diri kami, rasanya memang seakan kepiawan dalam kepenulisan agak sedikit bertambah, terutama dalam kosa kata dan kemahiran mendeskripsikan pemandangan. Pada pertemuan ke duanya, kami di berikan motivasi tentang kepenulisan. Pertemuan ketiga, empat dan selanjutnya; kami banyak belajar tentang perbedaan penulis produktif dengan penulis best seller, tentang pemetaan kepenulisan, cara mengembangkan imajinasi dan masih banyak lagi yang ku rasa akan lebih ‘luwes’ lagi jika penjelasannya berasal dari beliau langsung.

Dari sekolah ini, aku mendapatkan hakikat sebenar-benarnya pembelajaran. Jika selama ini aku belajar hanya mengikuti petuah guru, ultimatum orang tua, atau materi buta dari para dosen, tapi dalam kepenulisan ini aku merasa dewasa dengan kapasitasku sebagai remaja/pelajar/mahasiswa, disini aku diajak berfikir kritis, realistis dan sistematis, tidak muluk-muluk menganggap bahwa dunia ini selalu tersenyum ramah kepada kita, tetapi sebaliknya, dunia ini kejam bagi siapa saja yang tidak ingin berusaha. Maka berbahagialah mereka yang dapat menghargai waktu dan fokus terhadap tujuan mereka.

Kursus dengan bang Ma’mun Affany sejauh yang aku rasakan, tidak sekedar hanya mengajarkan tentang kepenulisan, tapi lebih kepada mental seorang penulis, yang aku rasa itulah yang sangat melekat erat di diriku ini. Meskipun kini beliau telah berdomisili di Bandung,  teramat sangat jauh dari Bumi Ponorogo; salah satu kampung terpencil di daerah jawa timur; tapi sungguh dengan sangat jujur ku katakan bahwa mental penulis itulah yang sebenarnya kubutuhkan, jika hanya sekedar sebuah iming-iming kemanisan, hampir di setiap lembaga selalu mengedepankan itu, tapi menyembunyikan kepahitan yang ada di baliknya. Disini semuanya di buka dengan begitu transparan ‘open management’, susah-payahnya apa? Sukarnya bagaimana? dan juga mentok kehabisan imajinasi itu harus bagaimana?..... karena diawal sudah di jelaskan tentang kepahitan; sehingga dalam perjalanan nyatanya, alhamdulillah kami dapat menyesuaikan diri. Adapun jika mendapat profit dari sana, itu bukan menjadi fokus utama, tidak lebih dari serpihan angin sepooi mengeringkan keringat peluh yang telah begitu deras bercucuran.  Jadi, sekali lagi ku katakan bahwa di kursus ini, aku mendapatkan pola pikir kritis, realistis dan sistematis, dan yang teramat sangat penting aku berhasil mendapatkan ruh kepenulisannya. Itulah hal terbesar  yang mesti aku syukuri dan kepada Allah SWT segala puji bagi-Nya yang telah mempertemukanku dengan sosok penulis produktif seperti bang Ma’mun Affany yang tanpa disangka sebelumnya.  Wa’Allahu ‘alam bishoab...
trims.... 

Wednesday, October 25, 2017

Sekolah Menulis Bersama Ma'mun Affany





       Selasa malam, 09 Oktober 2012 adalah menjadi awal pembukaan kursus sekolah menulis bersama Mr. Ma’mun Affany. Bertempat di perpustakaan CIOS awal calon peserta penulis berkumpul, dan akhirnya berkumpul kembali di tempat yang sama untuk tatap muka perdana. Dalam kesempatan kali ini peserta yang hadir berjumlah 17 orang, terdiri dari 15 orang peserta semester 1 dan 2 orang peserta semester 5. Perkumpulan tersebut berlangsung sejak pukul 20.00WIB hingga 21.00WIB tepat. “Dalam pertemuan/ pemberian materi saya usahakan tidak menyita banyak waktu. Karena sebenarnya yang di perlukan adalah latihan yang lebih banyak dan terus-menerus."  Tutur Mr. Ma’mun Affany selaku pelatih kepenulisan.

        “Bebaskan pikiran dan imajinasi kalian, jika melihat suatu benda, coba bertikir dua kali lipat dari orang biasa"  maksud yang kami tangkap dari apa yang beliau sampaikan adalah gambaran bagaimana suatu objek benda tidak langsung dikatakan bentuk aslinya. Akan tetapi lebih kepada ciri-ciri benda tersebut, bertujuan agar orang dapat mengetahui dengan detail akan benda yang di gambarkan. Satu contoh, ketika melihat nenek-nenek apa yang tergambar di benak kalian?"  Tanya beliau kepada para peserta. Dari sekian jawaban ada yang menjawab, rambutnya putih beruban, jalannya bungkuk, pandangan matanya sayu, kulitnya keriput, giginya ompong, tongkatnya menyanggah tubuh.

        Dari sekian ciri-ciri si nenek beliau menggambarkan point-point penting tersebut ke dalam sebuah kalimat aktif yang kira-kira begini: Sejenak aku tertegun ketika melihat seorang nenek berjalan melintasi jalanan, tubuhnya bungkuk, meski tongkatnya kokoh tapi tidak bisa membantunya untuk berdiri tegak seperti dulu, ditambah kulit keriput dan uban yang telah memdominasi menjadikan beliau tampak lebih tua dari perkiraanku sebelumnya." [1] Begitulah kira-kira kursus awal yang di berikan dari pada beliau. Selanjutnya peserta di suruh aktif untuk menuliskan tulisan bebas yang corak awalnya sama dengan yang  telah di sampaikan, tidak usah memakai seluruh panca indra dulu; tidak mesti harus menjelaskan bagaimana suasana yang ia rasakan, dengarkan, atau ia tangkap dari panca indranya yang laen. Jadi sebagai langkah dasar hanya cukup dengan mencoba menulis berdasarkan apa yang di dapat ketika melihat suatu objek.

       Dalam waktu 20 menit, proses latihan perdanapun usai di kerjakan. Mulai dari peserta menuliskan latihan seperti di contohkan sebelumnya, mengumpulkannya dan kemudian di koreksi  beliau. Dari setiap kertas tertulis beragam catatan khusus, salah satu catatan yang paling familiar adalah:"Kurang Fokus!! Pilih satu objek dulu.”  Hal terpenting dari latihan itu kata beliau, “Mencoba terus jangan takut salah. Pertemuan selanjutnya akan kita adakan, jika tulisan kalian untuk sesi pertama ini sudah mencapai batas yang bisa di bilang cukup. Dan hasil nilainya itu akan kalian lihat setiap setelah isya’setelah  setiap paginya kalian mengumpulkan tulisan di tempat yang telah di sediakan secara berkala dan tepat waktu. Latihan akan terus berlanjut hingga nilai perindividunya mendapatkan 9.

Sebelum akhir dari pada pertemuan. Beliau mengevaluasi bahwa:

       “Dari hasil latihan perdana tadi, perlu di ketahui bahwa membedakan bentuk fisik, sifat dan sikap dari satu objek itu perlu, berimajinasilah yang sebanyak-banyaknya, luas tanpa batas karena imajinasi adalah satu modal utama menjadikan tulisan kalian memiliki rasa dan isi sehingga dapat menarik pembaca, karena jika tidak tulisan terasa hambar.”

      “Dalam menggambarkan suasana/objek jangan berpindah ke objek yang lain sebelum hal itu benar-benar tergambar dengan detail dan jelas”
  
       “Pertanyaannya mengapa terkadang orang menulis itu tidak focus? Dan kekurangan bahan?"
(sejenak tampak suasana berfikir para peserta untuk menjawab soal beliau, tapi pada akhirnya beliau sendirilah yang menjawab pertanyaannya tadi) karena hasil imajinasi kita yang sedikit dan proses kepekaan untuk menangkap beragam macam hal di luar dari pada pikiran orang biasa;  itu yang masih minim."


Akhir kata sebagai penutup beliau berpesan:

       “Kalau ada orang lain mengajarkan fiksi dengan cara yang berbeda dari cara ini. Saya katakan  bahwa yang demikian itu juga benar. Sebab, setiap orang memiliki metode masing-masing dalam proses kepenulisannya.”

       Demikian yang bisa kami tulis dalam perjumpaan perdana kali ini. Adapun catatan kedua akan menyusul pada perjumpaan selanjutnya.




[1] Di karenakan tidak sempat menulis kalimat yang langsung dirangkai beliau. Jadi kami mencoba merangkai ulang point-point tersebut semirip tulisan beliau semampu yang kami ingat. Semoga tidak menghilangkan esensi dari pada tujuan kepenulisannya.

Friday, September 29, 2017

Merasa bersalah adalah satu langkah lebih maju.


Teman-teman Publikasi Kampus ISID SIMAN
Berawal dari perkumpulanku dengan teman-teman redaksi publikasi yang berdomisili di kampus Institut Studi Islam Darussalam (ISID) SIMAN-PONOROGO; dalam pertemuan awal selepas pembukaan tahun ajaran baru ini kami bermaksud ingin membicarakan lebih lanjut tentang proker-proker ke depan. Sebagaimana kumpul-kumpul sebelumnya. Tapi malam ini terlihat ada satu hal yang aneh sehingga akupun berusaha mengingat-ngingat kembali ungkapan gamlang dari seorang teman yang juga kakakan kelasku yaitu Mr. Halim. Bukan karena ingin dilaporkan sebagaimana halnya wartawan mengejar berita membuat aku benar-benar bait demi bait perkataanya. Melainkan hanya ingin mendokumentasikan hasil perkumpulan dalam bentuk tulisan yang bisa di share bersama. (Dengan sedikit meninggikan intonasi suara beliau mengatakan:


Begitu ada kesepakatan untuk mengadakan acara, jangan tunggu-tunggu sampai esok. Ada konsep acara langsung lakukan.

Semakin lama kita mengambil keputusan/ berfikir, itu otaknya juga semakin lamban juga.

Kalau mau cepat, kita harus jalan cepat dari sekarang

Merasa bersalah adalah satu langkah lebih maju.

Selepas berakhir perkumpulan tersebut Mr. Halim mengajakku berdialog santai, dengan gorengan tersaji yang tak tersentuh dari tadi mulai kami nikmati kelezatannya dilidah satu demi satu. Dengan santai perbincangan yang menarikpun mulai mengalir diantara kami, sampai akhirnya  beliau pun menceritakan sebab awal mengapa beliau begitu marah di saat perkumpulan tadi.

“Wan dulu ketika ana kumpul seperti ini, untuk membuat buku kecil sebesar note book biasa aja, sampai ‘jidal kalam’ (berlaga argumen) antar teman. Ana dengan alasan agar cetakan bukunya benar-benar komplit meminta agar percetakan buku tersebut di undur 3 hari lagi, bayangkan hanya 3 hari loo,…. Tapi teman ana gak mau,  tetap teman ana bersikeras untuk mencetak buku tersebut. Akhir kata tercetaklah buku tersebut dan memasuki masa penjualan ternyata buku-bukunya laris terjual, penjualan surplus, buku-bukunya terjual dengan amat sangat memuaskan.


       Sejak saat itu ana mengambil keputusan bahwa ternyata “Berfikir Cepat dan Bergerak Cepat Itu Perlu”, tanpa di minta untuk mengaku bersalah ana juga telah merasa bersalah yang harus ente ketahui; merasa bersalah adalah satu langkah lebih maju wan” dan satu lagi wan, dengan jari jemari mulai menggenggam stik PS, dia pun berujar;“hal yang paling enak dalam hidup adalah menyimpulkan segala sesuatu sesuka kita”.

Wednesday, June 14, 2017

Konsep Dasar Ilmu Pendidikan


Setiap orang pada dasarnya pernah mengalami pendidikan, tetapi tidak setiap orang mengerti makna kata pendidikan, pendidik, dan mendidik. Ada dua istilah yang dapat mengarahkan pada pemahaman, yakni kata paedagogie dan paedagogiek. Paedagogie bermakna pendidikan, sedangkan Paedagogiek berarti ilmu pendidikan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika paedagogik (Pedagogics) atau ilmu mendidik adalah suatu tatanan sistematis tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi anak atau untuk anak sampai ia mencapai kedewasaan (Sukardjo, 2009:7)

Merujuk pada konsep secara bahasa (lughawiyah) tentang pendidikan, pendidik dan mendidik tersebut, dapat disederhanakan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi bawaan; baik jamani maupaun rohani untuk memperoleh hasil dan prestasi, sehingga ia dapat mencapai kedewasaan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan masyarakat, di dalamnya terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan dan mengembangkan hidupnya.

          Pendidikan adalah suatu jalinan atau hubungan antar sesama manusia dengan tujuan tertentu, sebagaimana yang dipaparkan pada pembahasan tetang pengertian pendidikan sebelumnya. Senada dengan itu, pendidikan lebih menekankan pada faktor input, proses dan output sebagai bagian yang sangat penting dalam satuan pendidikan. Untuk menjalankan sistem pendidikan secara utuh, Coombs menuturkan bahwa ada 12 komponen utama dalam pendidikan. Beberapa komponen tersebut: tujuan dan prioritas, pelajar atau peserta, manajemen, struktur dan jadwal waktu, isi bahan belajar, guru dan pelaksana, alat bantu belajar, fasilitas, teknologi, pengawasan mutu, penelitian dan biaya pendidikan.

Satu hal miris ketika teknologi bak air terjun; deras mengalir mengikuti alurnya, akan tetapi tidak berimbang dengan pendidikan yang cendrung stagnan. Tertinggal jauh dibelakang garis ‘start’. Tampak masih di sibukkan dengan pola pendidikan tradisional.

Permasalahan tersebut telah lama menjadi bahan pengamatan para pengarang buku ini yang akhirnya mendorong mereka semakin cepat menuntaskan antologi pembahasan teoritis dan empiris terhadap pendidikan yang terhimpun dalam buku yang berjudul Konsep Dasar Ilmu Pendidikan ini yang saat ini telah dapat dinikmati segenap pembaca.

Titik fokus kajian buku ini sejalan dengan upaya dalam mengatasi permasalahan pendidikan yang cenderung menurun  kualitasnya. Melalui buku ini akan memberikan bekal pengetahuan tentang pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia di era globalilsasi.

Fenomena pendidikan yang cenderung menurun kualitasnya ini sering dijumpai; terutama pada jenjang pendidikan menengah, dimana ada sebagian guru kurang mau memahami latar belakang siswa dan kurang usaha untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya keterkaitan ketiga lingkungan pendidikan (Keluarga, sekolah, dan Masyarakat) dalam perkembangan kecerdasan manusia secara komprehensif.

Terlepas dari pertanyaan siapakah Anda, saya kira kita semua ikut serta berperan aktif dalam memajukan dunia pendidikan. Dimana sebagai langkah awal seyogyanya mengatahui konsep dasar ilmu pendidikan, yang bisa ditemukan dalam buku ini.

Buku Konsep Dasar Ilmu Pendidikan ini adalah sebuah buku yang menawarkan tatanan menarik pendidikan yang kemudian mengorganisasikan segala hal agar sesuai dan cocok terhadap perkembangan dunia ini dan juga perbendaharaan pendidikan yang memang seyogyanya harus di lestarikan dan dikembangkan dengan penuh perhatian dan penuh sikap mental positif.

Buku ini benar-benar manyajikan keilmuan dalam kajian yang lebih mendalam tentang sebuah dasar. Buku ini menganggap bahwa dasar adalah hal urgen yang harus di tumbuh kembangkan, sehingga tercipta sosok baru perubah dan pembela pendidikan tanpa bingung bagaimana disiplin awal dari konsep yang seharusnya bertindak didalamnya.

          Dalam pembagiannya, buku ini di bagi menjadi 9 Bagian. Bagian 1: Hakikat Manusia Dalam Pendidikan. Bagian 2: Konsep Dasar Pendidikan. Bagian 3: Fungsi Dan Peranan Lembaga Pendidikan. Bagian 4: Pendidikan Sebagai Proses Pematangan manusia. Bagian 5: Aliran-Aliran Pendidikan. Bagian 6: Sistem pendidikan Nasional. Bagian 7: Pendidikan Sebagai Proses Pembudayaan. Bagian 8: Pendidikan Karakter. Bagian 9: Pembiayaan Pendidikan dan diujung dari ulasan diberikan Lampiran-lampiran tentang UUD RI tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Indonesia.

          Buku Konsep Dasar Pendidikan yang diterbitkan bulan Januari 2013 ini, hadir dalam wajah baru, walaupun  ia sebagai dasar bagi pemula namun pembagian sub-sub judul dan juga pembahasannya terasa lebih menjurus dan lebih merujuk pada pokok permasalahan kajian. Ditambah  lagi dengan  konsep-konsep serta jargon-jargon  yang familiar di gunakan bagi tokoh pendidikan  yang di tuliskan dalam kajian tersebut; baik secara verbal maupun tekstual.

Dalam penjelasan sub judul yang luar biasa komprehensifnya. Disini pembaca benar-benar menikmati tatanan rangkaian bahasa penulisannya; sehingga setiap kali membaca tidak terasa sudah berada di halaman terbawah pada setiap lembar barunya. Maka agar lebih baik lagi; jika penjelasan yang sungguh sangat memikat ini sedikit di tambah dengan bukti-bukti emprisis  dan data-data penelitian terbaru bertujuan agar buku ini tersaji lebih memukau lagi.

Demikian resensi singkat yang bisa saya tulis untuk menjelaskan beberapa dari sekian banyak kelebihan buku ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.


Judul           : Konsep Dasar Ilmu Pendidikan

Pengarang   : Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd; Prof. Dr. Jafar Ahiri, M.Pd; Pendais Haq, S.Ag., M.Pd.

Penerbit      : Alfabeta Bandung

Cetakan      : Januari 2013

Tebal          : 208 Halaman, 16X24cm

Peresensi     : Irwan Haryono S / AFI 6



Tuesday, June 13, 2017

Dampak Modernisasi terhadap Dunia Pendidikan di Indonesia

Oleh: Irwan Haryono S/ AFI 6
Mahasiswa Kampus SIMAN Institut Studi Islam Darussalam (ISID)



Menurut bahasa pendidikan itu diartikan menjadi banyak macam: diantarnya sebagai perbaikan diri, penciptaan sosok yang beradab, pembiasaan untuk berakhlak mulia bagi setiap orang, ada juga sebagai penyuci dan penjernihan, dan masih banyak lagi pengertian pendidikan itu sendiri jika boleh kita runut lebih panjang lagi.

            Jika di awal pendidikan sebagai fokus awal maka disini mencoba membongkar apa makna dari modernisasi itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Modernisasi” adalah Proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntunan masa kini; pemodrenan. Sedangkan menurut wikipedia; “Modernisasi” dalam ilmu sosial merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur.

 Jadi, modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas yang merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik. Diungkapkan pula modernisasi merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang saat ini serta dapat dirasakan dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, dari kotametropolitan sampai ke desa-desa terpencil.

            Dalam masa perkembangan dunia yang begitu pesat ini, setiap ada teori, maka konsep dan isi selalu datang untuk mengitarinya. Hingga pada akhirnya. Dampaklah yang timbul, sebagai hasil dari pada aktualisasi nyatanya. Tinggal lagi apakah berdampak positif atau negatif.

            Bercerita tentang dampak: dapat di bagi menjadi dua macam. Yaitu dampak positif dan dampak negatif. Pada dampak positif yang dilahirkan disini pendidikan menjadi lebih komprehensif, lebih mudah di akses, sarana dan prasarana lebih memadai, teknologi sungguh sangat membantu dalam perkembangan inteligensi, pembaharuan dan kemajuan pada ranah yang lebih menjurus lagi. Seperti halnya: kesulitan mencari wawasan tambahan diluar bangku sekolah. Kalau dulu harus pergi ke toko buku; baru bisa mengakses buku-buku penambah gizi serta vitamin buat akal-pikiran, dan kini internet hadir dengan wajah baru yang lebih ramah lagi. Sedang untuk mempermudah membaca dan membawanya kemana saja; teknologi berperan aktif dibelakangnya. Dengan demikian buku-buku, pdf, makalah, artikel, dapat dipergunakan semaunya, kapan saja dan dimana saja, kali ini peran teknologi sungguh teramat sangat membantu.  Hanya tinggal membawa satu tablet/i phone/i pad, maka semuanya dapat teratasi, semua ini adalah wujud positif dari modernisasi dan masih banyak contoh-contoh komunikatif lainnya.

            Jika kita coba fokuskan pada dampak negatifnya, juga akan kita dapatkan bukti otentik yang luar biasa mendalam tentang itu semua. Biasanya disebutkan bahwa dampak dari modernisasi ini berujuk pada 3 sisi dalam kehidupan manusia yang berorientasi pada Style of life (‘jasad’) dalam hal : Fasion, motor. Thinking (‘al’aql’) dalam hal: pola pikir, action, sudut pandang, cara bergaul. dan Faith (‘Ar-ruh’) dalam hal: keimanan, dan kepercayaan yang luar biasa tentang suatu kehebatan.

            Dalam Style: Berapa banyak anak didik termakan/menjadi korban pada modernisasi style tanpa tahu akan eksistensi dari dirinya sebenarnya. Bukankah pelajar berkewajiban belajar bukan berfoya-foya, dan bukan pula fokus pada style: baju yang selalu trendy, motor, mobil, yang begitu menarik dan elegan, gadget, Hp dan elektronik lainnya yang membutuhkan biaya yang tidak murah untuk mengikuti perkembangannya.

Dalam Thinking: Pola pikir dalam kajian filsafat menjadi salah satu ranah utama dan kesehatan perbuatannya. Sebab apa yang di pikirkan itu selalu diaktualisasikan dalam gerak-gerik. Maka jangan heran jika terjadi kekerasan di jalan, tindak-tanduk asusila pada anak dibawah umur, pembunuhan, pencurian, rampok dan lain sebagainya. Semua ini bisa terjadi banyak disebabkan oleh pola pikir yang tidak sesuai dengan koridor kebenaran. Dengan segala bentuk modusnya; manusia terus mengaktualisasikan ide dan gagasannya. Hal yang patut untuk pertama kali di waspadai adalah pola pikir kita. Sebab, hal ini juga merupakan dampak modernisasi yang telah mencuci otak manusia sehingga jauh dari nilai-nilai dan norma-norma yang luhur.

Dalam Faith: Keimanan. Hal ini merupakan hal yang lebih fatal dampaknya jika salah di pahami dan di mengerti seiring perjalanan waktu dan zaman modern yang selalu terus berlari mengejar mimpi; apa itu mimpinya? Kita tidak tahu; berharap bukan bermimpi untuk menghancurkan agama, kepercayaan dan keyakinan di dalam diri manusia beragama, Islam pada khususnya. Sebab “ruh / jiwa keimanan”, sifat dan sikap beragama yang metafisislah yang membuat dunia ini tampak lebih berwarna dari warnanya yang biasa.

            Dari sekian panjang pemaparan dampak positif dan negatif modernitas pendidikan di Indonesia. Perlu adanya rekonstruksi baru dari sikap mental menghadapinya agar pada saatnya nanti dapat meluruskan kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sebagai dampak modernisasi, yang pada intinya bermaksud memperkaya khazanah dan informasi serta memberikan fasilitas yang teramat sangat luar biasa mudahnya.

            Sedang tujuan dari pendidikan tidak terlepas dari 4 hal utama, yaitu sebagai perbaikan diri, penciptaan sosok yang beradab, pembiasaan berakhlak/ bersifat dan sikap karimah, pencerahan dan peningkatan diri menjadi lebih bersih (suci) dan semakin mulia.

            Inilah panduan dasar yang semestinya di pertimbangkan sebelum benar-benar terjun di dunia pendidikan pada era Modernitas yang mewabah meluas seperti ini.

            Untuk itu, solusi yang paling tepat dalam menghadapi dari pada dampak modernisasi terhadap dunia pendidikan di Indonesia ini adalah: menyadari bahwa pendidikan itu akan selalu berubah-ubah mengikuti zaman, untuk itu perlunya persiapan yang lebih intens terhadap Sumber Daya Manusia (SDM)nya dan selalu akan tetap mengatakan bahwa pendidikan adalah hal tertinggi yang harus di pertahankan; sedang mengikuti modernisasi adalah wujud kondisional yang juga harus eksis, setelah kemampuan pemahaman kita benar-benar mendalam tentang itu. Sebab jika modernisasi tidak dibangun diatas landasan pendidikan. Ditakutkan manusia akan goyah dengan perkembangan zaman yang melaju begitu cepat ini, serta ditakutkan juga manusia terbawa arus; tidak dapat menghentikan tingginya amukan badai yang menerpa.

Hingga pada akhirnya perlu juga kita pahami bahwa manusia itu, adalah makhluk konsumtif; tidak akan pernah puas. Selalu ada saja keinginan baru dari waktu ke waktu. Jika satu keinginan sudah di penuhi dan terpenuhi. Akan meminta dan mencari keinginan-keinginan yang baru lagi. Sama seperti “Theory of Hierarchy of Need” (Teori tingkatan kebutuhan) yang selalu disuarakan Abraham Maslow. Jadi hanya perlu: Jaga hasrat dan keinginan agar lebih teratur lagi.

            Dan lagi, untuk mencari solusi dasar dari permasalahan yang mendalam ini dibutuhkan klasifikasi yang begitu sangat matang antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dimana harus lebih mengutamakan prioritas dari yang biasa dan paling urgen dari yang tidak penting, sehingga tercipta suasana baru yang lebih efektif dan efisien.

            Demikian pandangan saya tentang permasalahan ini semoga bermanfaat dan lebih berguna di masa yang akan datang.


Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.