Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Sunday, March 8, 2026

5 Syarat Law of Attraction Berjalan Untukmu


5 Syarat law of Attraction Berjalan

 

Ada 5 syarat Law of Attraction bekerja untukmu yaitu:
* Bersyukur, 
* Ikhlas, 
* Cinta diri sendiri, 
* Bahagia dan 
* Usaha yakini intuisimu. 

Mari lanjut membaca, hanya 2 menit:

 

         1.     Bersyukur

 

Banyak pertanyaan berseliweran, bersyukur untuk apa? Dalam kondisi terjepit apa yang mesti disyukuri? Dalam posisi terlilit apa yang bisa disyukuri? 

 

Jawabannya hanya satu, pantaskan diri untuk tetap melihat satu nikmat dengan cara yang positif, maka kesyukuran akan semakin bertambah, bisa dimulai dari syukur atas nyawa yang masih bisa membawamu hidup yang sehat, tidak sakit-sakitan, masih bisa menghirup oksigen tanpa bantuan selang pernapasan dan tangki oksigen, bersykurlah dari yang paling dekat, bersyukurlah dari yang paling kecil. Maka hal besar hanya tinggal menunggu waktu.

 

Bersyukurlah banyak-banyak! Sampai dalam kondisi terjepit sekalipun bersyukurlah, bersyukur karena masih bisa hidup mandiri, masih memiliki keluarga yang mengasihi, masih memiliki teman-teman, anak, adik, suami dan istri yang selalu mendukung dalam perjalanan sunyi. 

 

Bersyukurlah karena kamu masih bisa bersedih, nikmatilah kesedihanmu, habis-habiskan sedihmu untuk dirimu sendiri. Jika saat ini kamu memiliki secangkir kesedihan habiskan isi cangkirnya, luapkan, tuang, habiskan, nikmati proses kesakitan mengosongkan cangkir tersebut, dengan syarat tanpa banyak menceritakannya kepada orang lain.


Mengapa?

 

Kalau tidak mau disepelekan oleh orang lain, jangan umbar kesedihan, nggak boleh, emang nggak boleh, sedih ya sedih sendiri saja, nanti kamu juga akan kuat dengan sendirinya. Tidak ada sedih yang berkepanjangan seperti tidak ada tawa yang tak berhenti.

 

Buatlah prinsip: “Kesedihan itu untuk saya sendiri, tapi kebahagiaan saya untuk orang lain.”

 

Maka jangan lupa bersyukur, walau dalam kondisi paling terpuruk sekalipun bersyukur tetaplah menjadi sebuah solusi.

 

Bersyukur itu seperti menarik diri kita untuk bertemu dengan rasa syukur lainnya. Bersyukur seperti menarik solusi demi solusi untuk menyelesaikan persoalan demi persoalan, permasalahan demi permasalahan, hingga pada akhirnya, cukuplah syukur menjadi suka di atas lara yang tiada tara.

 

Ucapan syukur sejatinya tidak mengurangi apapun dari diri kita, malah menambah hal baik dan keajaiban. Dengan bersyukur energi kehebatan alam semesta ikut tertarik datang kepada kita, sebab pancaran energi yang kita berikan adalah energi syukur, energi positif sehingga yang tertarik juga positif.

 

Hukum tarik menarik ini seperti hukum takdir bekerja. 

 

Bayangkan kita berdiri di tengah lapangan hijau, dan rasakan kita dikelilingi oleh banyak takdir Allah swt; bukan satuan, bukan puluhan, bukan juga ratusan, akan tetapi jutaan takdir mengelilingi kita bahkan tak terhingga.

 

Kita hidup dikelilingi takdir, jutaan takdir setiap saat menjadi opsi pilihan yang bebas kita pilih secara acak. Saat kita terdiam berdiri di tengah lapangan bola, saat itu kita bebas memilih aksi sesuai dengan apa yang kita pikirkan. 


Jika kita berpikir ingin bermain bola, maka kita bisa langsung bermain bola. Jika kita berpikir enaknya berjemur, maka saat itu juga kita bisa berjemur. Jika kita berpikiran akan merapikan lapangan supaya rumput liar tidak tumbuh, saat itu juga takdir bekerja untuk membersihkan lapangan itu kita Tarik.

 

Jadi untuk menarik takdir, ada pikiran, gerak dan perasaan yang memiliki irama yang sama untuk menjadikannya sempurna. 

 

Jika kita berkeinginan sukses, tapi gerak-gerik masih bermalas-malasan, maka perasaan dalam diri akan menghasilkan ketidak yakinan, pesimis terhadap diri sendiri, sehingga di saat bersamaan antara pikiran, tindakan dan perasaan tidak selaras, membuat ketiganya tidak seirama, sehingga apapun keinginan kita, tetap tidak akan terealisasi; sebab kita tidak menjaga ketiga hal tersebut untuk tetap seirama. Seketika itu juga, sekitar kita pun akan menarik pembenaran-pembenaran bahwa kita tidak bisa sukses.

 

Hal kebalikannya juga berlaku, ketika kamu semangat dan yakin akan kesuksesanmu suatu saat nanti, kamu yakin akan mendapatkan rezeki 100 juta dari arah yang tidak disangka-sangka, yakin keajaiban itu bisa bekerja, dan gerakmu menunjukkan kerja keras yang pantang menyerah, maka perasaan yakinmu juga akan kuat, kelak pikiranmu, gerakmu dan perasaanmu akan berkomunikasi dengan otak untuk menjadikan apa yang kamu impikan terealisasikan dengan sempurna.

 

Otak menerjemahkan bahasa pikiran, tindakan, dan perasaanmu dalam bentuk frekuensi positif, yang kemudian dipancarkan ke alam semesta dalam bentuk frekuensi positif pula, dan perlu diingat, alam semesta memiliki bahasa, dan bahasa mereka adalah bahasa frekuensi. 

 

Dengan suka rela alam semesta juga akan mengamini frekuensimu. Datang kepadamu, mempercepat energimu untuk mencapai impianmu tanpa terkecuali. Maka sejak saat ini, perbaikilah frekuensimu agar alam mengikutimu dengan caramu, sebab sekali lagi, bahasa alam semesta adalah bahasa frekuensi.

 

Diibaratkan sebuah botol minum, air minum di dalamnya adalah kita, dan diluar botol tersebut adalah takdir, botol itu dikelilingi oleh  jutaan takdir, botol bisa dibeli, dijual, dipajang, dibawa ke kendraan, dimasukkan dalam ransel, dibuang di tong sampah, bahkan dibiarkan hingga kadarluarsa juga bisa. ada banyak kemungkinan takdir yang bisa terjadi. Kita tidak mampu merubah takdir, tapi tugas kita menarik takdir yang paling sesuai dengan siapa kita , sefrekuensi apa kita. itu tugas sebenarnya.

 

 

        2.     Ikhlas

Ikhlaslah dalam berbuat; berbuatlah yang baik ke banyak orang.

 

Jangan dihitung-hitung, jangan dikira-kira, investasikan sebanyak-banyaknya kebaikan kepada banyak orang, sebab dalam hidup ini, hampir kebaikan yang kita berikan pada orang lainlah yang menyelamatkan diri dari setiap kesempitan. 

 

Dalam dunia kerja, bukan tidak mungkin orang yang pernah dibaiki justru yang menjadi penolong bagi kita, sehingga lapang jalan bisnisnya. Meskipun tidak selalu demikian, namun ada banyak kemungkinan orang baik lain yang membalasnya.

Dalam network mungkin saja orang yang kita tolong, menjadi penyambung lidah dari kolega bisnis atau bahkan menjadi atasan kita yang memiliki wewenang penuh atas instansi/Lembaga/perusahaan tempat kita ditempatkan. 

 

Banyak keajaiban di alam semesta ini yang semuanya masih bersifat misteri, maka ikhlaskanlah, ikhlaslah,.. Semua akan membaik pada waktunya. Dan yakinilah bahwa keajaiban itu ada.

 

Konsep ikhlas itu bukan berarti kita pasrah tanpa berusaha, tapi konsepnya adalah kita mengejar, di saat yang sama kita juga harus melepaskan. Dengan metode ini, biasanya yang selalu kita impikan menjadi mudah didapatkan.

 

Saat kamu mengejar suatu impian, saat yang sama kamu harus mengikhlaskan, jika impian itu tidak sampai.

 

Kamu punya plan A dan berusaha untuk mewujudkannya, maka di saat yang sama kamu harus melepaskan dan mengikhlaskan segala kemungkinan terjadi setelahnya.

 

Bisa jadi kamu mendapatkan lebih baik, menjadi A+ atau bakan kurang baik menjadi A- atau bukan A tapi B, C, D, dan F, menjadikan lebih banyak opsi, menjadi pembuka jalan yang baru, untuk segala kemungkinan terbaik yang tersedia.

 

Dengan begitu ikhlasmu akan menghasilkan kesyukuran, sebab di batas itu kamu sadar, bahwa kamu adalah manusia, sekuat apapun kamu berusaha dan berencana, Allah jua yang akan menentukan hasil yang sempurna buatmu. Sampai di sini yakinilah bahwa Allah sebaik-baiknya pembuat rencana.

 

Dengan menerapkan hal ini semoga keajaiban bukan lagi hal yang jarang, tapi menjadi rutinitas harian yang kamu dapatkan tanpa jeda kekosongan sedikitpun. Wallahua’lam.

 

      3.     Cintai Diri Sendiri

 

Terlalu banyak orang yang tidak sayang dengan dirinya sendiri, selalu menyalahkan keputusan yang diambilnya, menyalahkan dirinya berlebihan dalam setiap tindakan yang diambilnya, ironisnya menyalahkan hidup yang sedang dijalaninya; padahal hidup untuk dijalani dan dinikmati bukan untuk dikeluhkan maupun disesali.


Jika sedihmu timbul karena lahir tanpa bakat terpendam misalnya, maka ketahuilah bahwa bakat bukanlah segala-galanya, sebab ia bisa dikalahkan dengan sesuatu hal yang diulang-ulang.

 

Kuncinya satu, coba untuk tidak melawan arus, coba untuk mengikuti arus terlebih dahulu, sebab itu jauh lebih gampang. Hidupmu akan jadi lebih ringan.

 

Ada saatnya kamu boleh melawan arus, jika telah naik kapal very mungkin; tapi selama masih berlabuh dengan skoci, gunakan kayuhmu untuk mengikuti irama riak ombak, dan seimbangkanlah tubuhmu. Singkat kata, mulailah dari yang paling gampang untuk mencintai dirimu sendiri.

 

 

     4.     Bahagia

Bahagia itu adalah kunci dari segala hal di muka Bumi ini. Dengan bahagia, dirimu mendapatkan segalanya dengan mudah. Dengan bahagia, kamu akan merasakan lapang dan rileks, semua kerja otot menjadi ringan,  inovasi dan inspirasi akan timbul dan mengalir seperti arus deras mengaliri kehidupanmu untuk menciptakan solusi. 

 

Makanlah secukupnya, tidurlah secukupnya, dan olah ragalah secukupnya tapi untuk kebahagiaan, berbahagialah sebanyak-banyaknya. Semoga bahagia tidak hanya sekedar kata, tapi bisa juga menjadi wujud nyata dari kehidupan kita Bersama. Aamiin.

 

Kunci dalam hidup ini adalah bahagia. Tidak ada kesulitan yang benar-benar membuat kita sulit, tapi sedikit bahagialah yang membuat hidup terasa sulit, karena berpecah focus, berpaling dari rasa bahagia ke bentuk kurang bahagia hasilnya merasa selalu dalam kekurangan. 

 

Timbul satu pertanyaan, jadi kapan sebenarnya harus berbahagia? 

Jawabnya kapan saja, di mana saja, dalam kondisi apa saja, sebab bahagia itu pilihan, sama seperti kita memilih untuk bersedih dan meratapi nasib, atau bahagia dengan tersenyum dan bangkit kembali dari setiap keterpurukan. 

 

Maka carilah kebahagiaanmu, bersenang-senanglah, selama itu halal dan toyyib (baik) jangan berikan batasan untuk kebahagiaan itu masuk dalam hidupmu. 

 


 

     5.     Usaha dan yakin pada intuisi.

Bagaimana caranya menemukan usaha yang sesuai dengan bakat bawaan diri kita? Sehingga effort yang dikeluarkan menjadi lebih ringan dan hasilnya signifikan? 

Nah barusan saja, tanpa kamu sadari pertanyaan kedua itu menjawab dari pertanyaan pertama dan kedua sekaligus.

 

Coba berhenti sejenak, dan mari bermenung hal-hal apa saja yang kamu suka  melakukannya, tanpa dibayar kamu tetap melakukannya dengan riang gembira, tanpa imbalan kamu mengerjakannya dengan suka cita,  dan setiap kali kamu selesai mengerjakan pekerjaan itu orang-orang memujimu, karena begitu indahnya karya buatanmu.


Kamu rasa memasak itu gampang mungkin, semua yang kamu masak, setiap yang merasakannya suka, bukan tidak mungkin itu kelebihanmu.

Hanya coretan di atas kertas kamu bisa menjadikannya letter yang epic dan indah, menggambar karakter, sketsa bangunan, pernah kamu melihatnya sekali, kamu langsung bisa menggambarkannya bahkan dengan tambahan yang lebih estetik. 


Tampa kamu sadari, kesempatan untuk memperkenalkan potensimu itu sudah berulang berkali-kali dalam beribu kesempatan, tapi sayang kamu kurang peka untuk menganalisis intuisimu, asahlah perasaan dan intuisimu kembali, semoga yakinmu membawa ke arah keberhasilan usaha tanpa ujung.


Masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya, dari mulai orang suka racikan masakanmu, suka ngebaca diarimu, suka mendegarkan nyanyian merdu suaramu, suka menyimak murottal dan mujawwad misalnya, suka memperhatikan caramu mengaransemen lagu, suka dengan cara penyampaianmu saat orasi misalnya, dan masih banyak lagi yang lainnya, dan itu semua adalah bakatmu tanpa kamu sadari, sekali lagi jangan melawan arus.

 

Apa bakat/skill/keahlian/kemampuan yang kamu rasa gampang untuk melakukannya, dan hasilnya sangat baik bahkan di luar dari ekspektasimu, secara alamiah itulah sebenarnya bakatmu. 

 

Maka perdalam bidang itu, kembangkan dalam bentuk bisnis, usaha, dan perdalami secara ideologi, literasi akademik, kolega bisnis, serta peluang-peluang lainnya. sehingga kamu tahu dengan sedirinya paham akan segala kespesialan dari dirimu yang kini menjadi penopang hidupmu. Dan saat itu tiba, yakinilah rencana Allah swt lebih indah dari rencanamu.

 

Sekali lagi kunci mengetahui kehebatan dari dalam diri kita adalah: “Menyadari sesuatu yang kita lakukan gampang dan hasilnya luar biasa (sesuatu yang gampang dan hasilnya di luar ekspektasi kita), itu adalah pemberian dari sang pencipta untukmu.” sadarilah Allah swt tidak pernah meninggalkanmu!

 

 

 

Akhir kata, sebenarnya hukum tarik menarik itu selalu bekerja, disadari atau tidak disadari, bagi kamu yang sadar, selalulah mulai dengan rasa syukur, sebab syukur itu mudah, lalu ikuti saja alur yang telah Allah swt berikan, coba untuk mengikuti aturan Allah, dan jangan melawan arus dengan melawan aturannya. Perlahan keyakinan dan keimanan pasti akan menguat dengan sendirinya.


Yakinlah bahwa Allah swt adalah perencana yang terbaik, jadi buat apa dilawan dengan keinginan yang belum tentu baik, atau mengusahakan sesuatu yang terkadang sudah jelas mudhoratnya. Wallahua’lam. 

 

Galeri Slide Pengalaman Nyantri



 

Friday, September 5, 2025

Ushul Tarbiyah Wa Taklim Kelas VI KMI

Ushul Tarbiyah Wa Taklim Kelas VI KMI 

Medan. Jum'at, 5 September 2025.

 


Untuk Pertama kalinya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, mengajar mata pelajaran ini, satu materi pembelajaran  inti pendidikan, yaitu Ushul Tarbiyah wa Taklim. Kebetulan buku ini dikhususkan bagi santri dan santriwati kelas 6 KMI Ar-Raudlatul Hasanah Medan, diambil dari buku pegangan santri/santriwati di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo.

 

Sangat jelas di pembukaan buku tersebut menekankan, pentingnya sebuah pendidikan. (penjelasannya ditulis dalam bahasa Arab). Namun kami coba untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia yang kira-kira berarti: 

 

“Tujuan dari belajar pendidikan Islam itu bukan sekedar menyampaikan ilmu ke dalam akal pikiran para santri/murid/pelajar  dan mengajarkan mereka materi-materi pembelajaran baru yang belum mereka pahami saja, akan tetapi TUJUAN besarnya adalah Penanaman Akhlak para santri/murid/pelajar, mendidik jiwa mereka, menanamkan kemuliaan-kemuliaan dari beragam aktifitas dalam hati mereka, membiasakannya berperilaku sopan santun, guna persiapan mereka untuk hidup yang bersih, ikhlas dan suci.”

 

Mengapa Menggunakan Buku Tarbiyah Gontor?

 

Karena sejak awal berdirinya Gontor, pendidikan KMI mengusung pendidikan Islam yang berlandaskan firman Allah swt al-Qur’an al-Karim dan hadist yang mulia nabi Muhammad saw, hal ini benar-benar diperjuangkan, sehingga menjadikan lembaga pendidikan ini terbranding dengan identitas keislaman yang kuat, hal ini termanifestasi dalam silabusnya, cara pengajarannya, dan buku-buku ajar, sehingga terdidiklah para santrinya menjadi pribadi yang kuat imannya, paham akan keislamannya dan bersikap ihsan dalam kesehariannya.

 

Dalam penyajiannya, buku ini adalah buku kelas 6 santri/santriwati pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, dalam isinya memberikan pedoman ideal tentang administrasi sekolah, di mana terkandung penjelasan mendetail tentang Direktur/Pemimpin/kepala sekolah dan sifat-sifatnya, silabus/kurikulum sekolah, jadwal pelajaran, daftar guru, dan daftar-daftar lain yang dibutuhkan sekolah, disiplin, reward dan punishment, studi banding/studi ilmiah. Hal ini dijelaskan pada bab I memulai penjelasan isi buku.

 

Kemudian di bab. II akan dijelaskan prinsip-prinsip dasar membaca/mengulang pelajaran/menjelaskan pelajaran. Sedikitnya ada 4 metode yang biasa digunakan, yaitu metode hijaiyah/metode huruf, metode suara, metode kata perkata/kalimat perkalimat, dan terakhir metode mengetahui asal muasal kata per kata. Demikian metode yang dijelaskan dalam buku ini, sangat terperinci juga menjelaskan bersamaan dengan beberapa contoh-contohnya.

 

Kemudian di bab. III akan dijelaskan cara mengajar materi-materi yang mutlak berbahasa Arab. Sifat mata pelajarannya adalah untuk mengembangkan bahasa Arab secara total, baik itu pemahamannya, penulisannya, hingga hafalan dan kaidah-kaidah bahasanya. Ada pelajaran mutholaah, ta’bir, imla, khot, kaidah bahasa arab, mahfuzhot.

 

Kemudian di bab. IV menjelasakan tentang materi-materi ajar yang berkaitan dengan pengajaran materi-materi keislaman. Seperti al-Qur’an al-Karim, hadist, ‘aqidah, dan fikih, hal ini memudahkan para santri dan santriwati untuk memahami cara pengajaran pelajaran ini, dan hal terpenting adalah apa nilai yang didapat dari sini.

 

Dan kini sampailah pada bab terakhir, bab V mengajarkan tentang pelajaran kritik/evaluasi pembelajran, syarat-syarat mengkritik/mengevaluasi, faidah pelajaran kritik/evaluasi dan nilai-nilai/evaluasi dari pelajaran ini sendiri. Hal ini menciptakan suasana perbaikan yang menyeluruh, karena pada prakteknya yang akan berperan aktif di sini adalah santri dan santriwati itu sendiri.

 

Mereka akan dididik menjadi guru dalam mata pelajaran yang telah ditentukan, kemudian mempersiapkan ‘I’idad tadris’ (RPP), lalu meminta bimbingan dari pada musyrif yang terpilih, lantas kemudian mempersiapkan untuk tampil menjadi layaknya guru sungguhan, dengan dipenuhi teman-teman santri/santriwati berdiri di depan-kanan-kiri pengajar pada saat itu, guna mengevaluasi sang guru yang sedang praktek tersebut, untuk mencapai perbaikan sempurna.

 

Demikianlah sedikit tentang ulasan isi buku ini, bukunya murah, bahasanya ringan,  penjelasan dari setiap judul runut, dan sudah ada juga soal di akhir setiap judul, namun bila dikatakan setiap karya mesti ada kurangnya mustahil selalu dalam kondisi lengkap, maka nampaknya penambahan ‘mufrodat’ (kosa kata) sulit bahasa arab di awal setiap judul, mungkin menjadi nilai tambah bagi buku yang sangat luar biasa ini.

 

Akhir kata saya sebagai penulis ulasan ini, berterima kasih kepada Bapak/Ibu/Saudara/I sekalian, yang telah membacanya hingga akhir. Jika ada yang perlu didiskusikan, boleh dibubuhkan di kolom komentar, sungguh sangat senang sekali medapat umpan balik dari Antum/na sekalian. Ujungnya saya do’akan keselamatan, kemurahan rizki, dan keluasan ilmu pengetahuan untuk menghadapi hiruk pikuk dunia yang semakin menghadirkan tanda tanya ini. Wallahu ‘Alam.

 

Semoga membantu.

Terima Kasih. 

Jazakumullah khoir.

 

  

Tuesday, June 10, 2025

Silaturrahim Fungsionaris Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Medan Area (UMA) ke Kampus STIT Ar -Raudlatul Hasanah Medan



Silaturrahim Fungsionaris Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Medan Area (UMA) ke Kampus STIT Ar -Raudlatul Hasanah Medan 


Selasa, 10 Juni 2025. Medan. STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan.

 

Funsionaris STIT Ar-Raudlatul Hasanah menyambut kehadiran fungsionaris FAI UMA di aula perpustakaan STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan.

 

Pertemuan disambut oleh Ketua STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan (Dr. KH. Rasyidin, M.A), yang dilanjutkan dengan memperkenalkan dosen-dosen tetap yang turut hadir dalam penyambutan, mulai dari Wakil Ketua Internal (H. Zuhair Mubarak Haza, Lc., M.Pd.I), Wakil Ketua Eksternal (Abdullah Sani Ritonga, S.Pd.I., M.Pd), Penjamin Mutu Internal (Radinal Mukhtar Harahap, S.H.I., M.Pd), Kaprodi. PBA (H. Ahmad Fauzi Ilyas, Lc., M.S.I), Sekretaris PBA (Irwan Haryono S, S.Fil.I., M.Pd) dan .Kaprodi. MPI (Dr. H. Ahmad Faisal. Lc., M.TH). 

 

Dalam kesempatan yang sangat berharga ini juga, para fungsionaris Fakultas Agama Islam UMA, memperkenalkan diri, dimulai dari Dr. Abdul Haris, S.Ag., M.Si  sebagai Gugus Jaminan Mutu -GJM-/Dekan FAI UMA. Selanjutnya, Dr. Fauji Wikanda, S.Pd.I., M.Pd.I (Wakil Bidang Gugus Kendali Mutu – Wabid. GKM-/Wadek PAI UMA); Amsal Qori’ Dalimunthe, S.Pd.I., M.Pd.I (Kepala Laboratorium UMA); dan Cahaya Damanik, S.Pd., M.Pd (Dosen Tetap UMA).

 


Usai memperkenalkan fungsionaris yang datang, Dr Abdul Haris, kemudian menyampaikan begitu besar ‘ghiroh’ dan keinginannya untuk mengembangkan agama Islam khususnya di kampus UMA ini, dengan sepenuh keyakinan bahwa tujuan mulia ini bisa dimulai dengan rasa kepedulian terhadap agama Islam itu sendiri, diyakininya semakin tinggi rasa kepedulian maka kelak dapat menjadi kunci awal meluruskan niat, untuk mengambangkan lembaga yang diridhoi oleh Allah swt.

 

Dengan DTPS (Dosen Tetap Program Studi) berjumlah 10 orang, 5 orang telah menjadi doktor, 5 orang proses menuju doktor. Fungsionaris FAI UMA berikhtiar kepada Allah untuk bisa tetap istiqomah dan bergrilya menebar kebaikan dan ilmu, khusunya pemahaman keagamaan di UMA, maka diantaranya ada 3 Kompetensi Lulusan dari FAI UMA ini, yaitu: Bisa membaca al-Qur’an dengan baik/menjadi Qori’, Menjadi Guru yang baik, kreatif dan inovatif, dan juga lulusan mahasiswa yang mampu public speaking dengan baik, jika kelak menjadi menjadi DA’I di masyarakat, tokoh nasional maupun internasional dan seterusnya.

 

Dari perbincangan singkat ini,  Dr. Fauji Wikanda juga menyampaikan maksud dan hajatnya, untuk saling membantu dan bekerjasama, agar saling bersinergi mengembangkan pendidikan di Medan dan sumut ini khususnya, dengan saling merekomendasikan kampus masing-masing, jika terdapat santri atau mahasiswa yang mencari jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) bisa merekomendasikan Fakultas Agama Islam UMA, begitu juga sebaliknya, jika di UMA ada yang bertanya tentang jurusan Pendidikan Bahasa Arab, FAI UMA juga tidak segan untuk merekomendasikan STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan, sebagai pilihan terpercaya.

 

Disela-sela perbincangan juga terselip, keinginan saling bertukar pendapat seputar tempelan-tempelan nilai-nilai keislaman di area kampus FAI UMA, sebagai mana yang terdapat di Area STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan dan pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan secara keseluruhan. Harapan dengan pertemuan ini, kerjasama dalam berbahasa Arab juga menjadi kerjasama yang perlu diseriusi dengan aktifitas pertukaran pelajar, magang, penelitian, pengajaran dan pengalaman atau praktek lapangan lainnya.

 

Tak lupa pula, disepakati pertemuan awal ini adalah sebagai bentuk saling bersinergi untuk bertemu kembali dalam waktu dekat, untuk menindaklanjuti dalam bentuk MoU, MoA dan IA dan seterusnya, agar tercipta STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan yang Jaya Mendunia dan FAI UMA menjadi kampus yang Unggul. [ed. I.H.Sirait].

Monday, February 24, 2025

Bedah Buku: "Rasional Tanpa Menjadi Liberal (Worldview Islam Untuk Framework Pemikiran dan Peradaban)"

 Bedah Buku: 

 “Rasional Tanpa Menjadi Liberal;

 (Worldview Islam Untuk Framework Pemikiran dan Peradaban)

Vol. 2

Sabtu, 22/02/2025. Bedah buku “Rasional Tanpa Menjadi Liberal; ” dengan Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi sangat menyenangkan. Secara singkat padat, langsung pada inti persoalan, dan solusi, terasa begitu dinamis, dan solutif.

Sosok ulama muda yang kini berkiprah dalam dunia pemikiran tersebut perlahan menyadarkan peserta yang hadir, akan pentingnya paham akan ‘basic believe’ yang benar dan kokoh. 

Terdapat banyak poin penting, yang saya garis bawahi, selama mengikuti zoom meeting ini, saya ulas kembali dan tuliskan kembali di catatan ini dengan format tulisan Q & A (tanya jawab), agar bisa mendapatkan deskripsi yang lugas dan tuntas. Ada sekitar 9 pertanyaan yang diulas dalam catatan singkat ini, di antaranya:

 

1.     Apakah filsafat ilmu bisa digunakan dalam ilmu sosial?

Filsafat ilmu bisa dipakai dalam ilmu sosial, tapi basisnya adalah teologi, di mana dalam hal ini harus berdasarkan ilmu, dan Ilmu dalam Islam sumbernya dari alquran.

2.     Jelaskan sedikit tentang konsep teologi Islam?

Teologi Islam itu komprehensif dan ada basis epistemologinya.  Sebagai contoh Ilmu kalam, ini adalah ulasan karya yang berbicara tentang teologi secara komprehensif dan epistemologis. 

Teologi Islam  disebut juga dengan aqidah. Aqidah bukan sekedar teologi moralitas, aqidah tidak sekedar mengajarkan moral, tapi juga mengajarkan sesuatu dengan ilmu, “fa’lam annahu la Ilahaillah”, pada kata i’lam, itu adalah kata pengetahuan, di samping berkeyakinan, umat muslim diminta juga berpikir, menganalisis dan mengkaitkan aqidahnya dengan relevansi alam semesta. 

Dengan begitu jelaslah bahwa, teologi kita sumbernya ilmu. Pahami Islam, Pelajari Islam, lihat ayat-ayat qouniyah, lalu perhatikan sekitar, sampai pada akhirnya kamu paham, meyakini dengan sepenuh hati. Semakin belajar, maka akan semakin kuat keimananmu memperkokoh aqidahmu.

3.     Bagaimana proses pembentukan adab?

Umat Islam mesti menggembalikan segala sesuatunya pada titik awal keberangkatan. Di mana mesti berangkat dari sumber wahyu umat Islam, yang menjadi pedoman dasar yaitu alquran. Sebab alquran adalah sumber adab; darinya lahirlah ilmu pengetahuan yang beragam macam, kemudian Ilmu yang terlahir darinya disebut dengan adab; orang yang memiliki ilmu tersebut, disebut orang beradab; semakin membesar, membentuk komunitas-komunitas, maka akan menjadi peradaban, beginilah kira-kira peradaban itu terbentuk. 

Dari proses lini terkecil dalam organisasi yang disebut keluarga. Jadi peradaban sangat besar sekali; terbentuk dari pola keyakinan keluarga yang baik, dengan pola pendidikan yang baik, pola komunikasi yang baik, pola pemahaman yang baik, pola tindakan yang baik,  sehingga pada akhirnya bisa menjaga keluarganya dengan baik, syukur-syukur dapat memberikan efek perubahan luar biasa di masyarakatnya juga.

 

Berikut kira-kira ilustrasi sederhana, proses peradaban itu dimulai: 

 




4.  Jika ingin menjadi muslim yang baik, dari mana pertama sekali proses ini dibangun?
Dalam Islam yang dipentingkan individu dulu, lalu kemudian institusi keluarga, “ku anfusakum wa ahlikum naro”, (prioritaskan/selamatkan dirimu, lalu keluargamu, dari api neraka), kalau boleh diteruskan maka “…wa mujtamaikum”  (dan prioritaskan/selamatkan masyarakatmu dari api neraka).

 

5.     Di titik mana antara Barat dan Timur bisa bertemu dan bersatu?

Barat dan Timur bisa bertemu pada titik Ilmu pengetahuan. Kalau bicara tentang ilmu pengetahuan, bisa bertemu dan Bersatu. Berbicara sains, teknologi, pengetahuan, konsep alam, konsep manusia, dan konsep yang lainnya, bisa mempersatukan Barat dan Timur. Namun selain itu, tidak akan pernah ketemu, tidak di politik, tidak juga dengan ekonomi.

 

6.     Bagaimana konsep islamisasi dalam Islam?

Islamisasi bukan konversi, tapi proses aprovisasi. Ketika ilmu diambil positifnya, maka proses aprovisasi disesuaikan dengan Islam, tidak bisa diambil begitu saja. Salah satu contohnya, sistem perbankan konvensional diaprovisasi sehingga menjadi perbankan syariah, ekonomi konvensional menjadi ekonomi syariah. Memang pada saat ini Islam belum meluncurkan sistemnya secara mandiri, tapi percayalah, suatu ketika Islam akan menjadi  mandiri. Sehingga bisa membangun sistem yang benar-benar baik dan sesuai dengan Islam, dan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

7.     Bagaimana batasan toleran dalam Islam?

Toleran terhadap berbagai hal, itu tidak boleh menerobos syariat atau aqidah. Itulah yang harusnya tidak boleh disalahpahami bagi muslim. Dan itu merupakan batasan yang paling selamat.

 

8.     Bagaimana konsep benar dalam tingkatan Transenden?

Menyikapi paham pluralisme, konsep “BENAR” dalam tingkat transenden, tidak bisa disamakan. Antara Tuhan agama Islam dengan tuhan agama yang lain itu tidak sama, cara peribadahannya tidak sama, keyakinannya juga berbeda,

Jika plural diartikan masyarakat majemuk, banyak, komprehensif terdiri dari banyak unsur, itu benar. Namun tidak dalam hal keyakinan yang itu sifatnya subjektif. Sebab konsep kebenaran yang sebenarnya dalam Islam mesti berlandaskan ilmu, keyakinan dan perbuatan yang berlandaskan keislaman. 

Syariat dan Aqidah Islam tidak boleh berbeda-beda. Keduanya bukan hal terpisahkan, tapi satu kesatuan yang kokoh dalam Islam. Maka jika ada pendikotomian dari hal ini, itulah yang berbahaya bagi aqidah muslim.


9.     Sebenarnya apa tujuan INSISTS mengadakan diskusi ini?

Misi INSISTS ini, ingin mengembalikan Islam kepada tradisi Islam yang berlandaskan alquran dan sunnah. Dengan tidak menutup pintu diskusi secara keilmuan. Insya Allah kita akan selalu siap mengimbangi dan mengikuti diskusi terbuka dalam hal ini.

Sejatinya tanya jawab yang berlangsung ketika zoom meeting ini dibuka teramat sangat banyak dan padat, nyaris tidak behenti, baik penanya langsung maupun melalui chat, maka dengan segala keterbatasan saya sebagai salah seorang peserta, inilah beberapa pertanyaan dan jawaban yang bisa say aulas kembali, dan tuliskan dalam catatan singkat ini, semoga bermanfaat adanya. Aamiin. 

Selain penyajian tulisan ini dengan cara Q & A (tanya jawab), saya ingin coba mengulas tentang betapa menariknya judul ini, mengangkat judul singkat, padat dan bernash. 


Rasional Tanpa Menjadi Liberal;

 (Worldview Islam Untuk Framework Pemikiran dan Peradaban)

Vol. 2

Judulnya sungguh sangat memikat sedari awal membacanya, jadi penasaran ingin menjabarkan lebih lues dari maksud yang tersirat, dengan segala keberanian tapi dengan data, kami coba membuka “Kamus Filsafat” karya Lorens Bagus, belajar menganalisis sebuah kata dari penjelasan yang lebih terperinci, berikut kami sampaikan datanya:


Rasional:[1]

Inggris: rational. Latin: rationalis (masuk akal) dari ratio (akalbudi).

Beberapa pengertian dari kata “RASIONAL” itu sendiri adalah:

1.  Secara umum, rasional menunjukkan modus atau cara pengetahuan diskursif, konseptual yang khas manusiawi. Jadi rasional tidak sama dengan ‘intelektual’.

2.     Dalam arti khusus, rasional berarti: konklusif, logis, metodik.

3.    Dalam arti ilmu pengetahuan, rasional merupakan ilmu yang bersifat deduktif atau reduktif (yakni berasal dari prinsip-prinsip atau dengan mereduksi yang ada kepada prinsip-prinsip).

4.     Rasional juga berarti mengandung atau mempunyai rasio atau dicirikan oleh rasio; dapat dipahami; cocok dengan rasio; dapat dimengerti, ditangkap, masuk akal; melekat pada (berhubungan dengan) sifat-sifat pemikiran seperti konsistensi, koherensi, kesederhanaan, keabstrakan, kelengkapan, teratur, struktur logis.

 

Liberal:[2]

Liberal itu artinya bebas, kata-kata liberal diambil dari bahasa Latin liber artinya bebas dan bukan budak atau suatu keadaan di mana seseorang itu bebas dari kepemilikan orang lain. Makna bebas kemudian menjadi sebuah sikap kelas masyarakat terpelajar di Barat yang membuka pintu kebebasan berfikir (The old Liberalism). Dari makna kebebasan berfikir inilah kata liberal berkembang sehingga mempunyai berbagai makna. 

Rasional Tanpa Menjadi Liberal  seakan menganjurkan pada setiap pembaca, untuk benar-benar mengaktifkan akalnya, harus rasional, kritis, paham diskursif, mengerti konsep, paham alasan, memahami proses sebab dan akibat, dan sekian tanda-tanda kebesaran Allah dari alam ini, sebagai bentuk aktif dalam menyikapi kehidupan tanpa menjadi liberal, tanpa kebablasan, tanpa terjun bebas tanpa ada pegangan keilmuan dan keimanan. 

Dari judul ini juga, seakan menasehati setiap muslim untuk selalu berpikir sehat, sebelum bertindak, sehingga setiap tindakannya adalah kebaikan. Setiap apapun yang dihasilkannya adalah keberkahan, rahmat dan maghfirah dari Allah swt.

Setelah ulasan dari judul buku volume ke 2. Mari kita sejenak balik mengulik ulasan dari judul buku volume pertama. Secara lebih spesifik, kami mencari maknanya dari “Kamus Filsafat” karya Lorens Bagus: 

 

Rasional Tanpa Menjadi Liberal; Refleksi Keimanan Sampai Pada Titik Dasar

Kata Rasional dan liberal, nampaknya sudah sangat jelas, dengan penjelasan, ditambah dengan arti tertulis yang membantu menjelaskannya. Adapun kalimat baru yang perlu didudukkan artinya, terdapat pada kata “refleksi” dan “iman”. Berikut makna refleksi dan iman yang kami dapat uraikan:

Refleksi:[3]

Inggris: reflection. Dari Latin: reflectere (melengkung ke belakang).

Beberapa pengertian dari kata “REFLEKSI” itu sendiri adalah:

1.     Refleksi dalam arti paling umum berarti meditasi yang dalam, yang bersifat memeriksa. Meditasi ini berbeda dengan persepsi yang sederhana atau dengan putusan-putusan langsung, involunter mengenai suatu objek.

2.     Refleksi sebagai pembalikan. Pembalikan ini (reflexio = menekuk ke belakang) merupakan arti refleksi yang sebenarnya. Karena itu, rekfleksi secara khusus berarti berpalingnya perhatian seseorang dari objek-objek eksternal, yang mendapat perhatian utama dalam soal-soal biasa, kepada kegiatan rohani, dan kepada cara berada di mana objek-objek ini berada sebagai sebuah objek kegiatan.

 

Iman:[4]

Inggris: Faith; dari bahasa Latin: fides (iman, kepercayaan, kesetiaan).

Beberapa pengertian dari kata “IMAN” itu sendiri adalah:

1.     Penerimaan terhadap suatu sistem kepercayaan yang diyakini benar. Sikap percaya yang melampaui atau melebihi bukti yang ada.

2.     Kepercayaan akan syahadat dari suatu agama

3.   Keyakinan dan kepercayaan yang kuat akan Allah (biasanya Allah dipercaya telah mewahyukan diriNya sendiri dan dapat dikenal).

4.     Keyakinan akan sesuatu walaupun berlawanan dengan evidensi (fakta-fakta).

5.     Keyakinan akan sesuatu biarpun tidak terdapat evidensi baginya.

6.  Keyakinan terhadap sesuatu disebabkan evidensi masa lalu baginya. Keyakinan yang didasarkan atas kepercayaan.

7.   Kepercayaan akan kebenaran sesuatu yang tidak dapat didukung secara rasional dan empiris tetapi yang diandaikan oleh suatu bentuk pengetahuan empiris. 

Refleksi Keimanan Sampai Pada Titik Dasar seperti menyadarkan diri kembali bahwa hakikat keimanan seseorang selalu harus dipertanyakan, selalu diperbaharui, selalu terus diupgrade tak henti-henti agar bisa menjadi dasar tumpuan, menjadi penggerak dan cerminan sifat dan sikap muslim sesungguhnya. Harapannya dari proses perenungan panjang, refleksi mendalam, dan meditasi yang khusus dapat melahirkan sosok manusia yang tangguh, seorang mukmin yang kokoh pendirian, kuat keimanannya, berasas dalam setiap tindakannya, menjadikannya tegak berdiri di atas keimanan yang diridhoi ilahi.

Dari uraian singkat di atas, kiranya teman-teman pembaca bisa menilai sendiri akan kualitas buku ini, tidak rugi rasanya jika ini menjadi perbendaharaan nutrisi akal, pikiran dan hati.

Untuk selanjutnya mari sama-sama ngaji, mari sama-sama menimba ilmu, mari sama-sama berproses menuju insan kamil menurut Allah swt. Wallahualam Bishoab.



[1] Lorens Bagus, ‘Kamus Filsafat’ (Jakarta: PT. Gramedia, November 1996), h. 928.

[2] Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis), Pertama, Seri Kajian Oksidental (Ponorogo, Jawa Timur: Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2008), h. 24.

[3] Bagus, ‘Kamus Filsafat’, h. 944.

[4] Bagus, h. 321.

Tuesday, January 21, 2025

Berguru Seputar Kepemimpinan Perguruan Tinggi

 Medan. Selasa, 7 Januari 2025



Implementasi Agrement; Prodi PBA STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan Berguru dari Wakil Ketua I STAI Darul Arafah (STAIDA) Deli Serdang  seputar Kepemimpinan Perguruan Tinggi.

 

Medan. Selasa, 7 Januari 2025, Wakil Ketua I STAIDA Deli Serdang, Dr. Usman Betawi, M.HI bersama Kaprodi PBA STIT Ar-Raudlatul Hasanah Medan H. Ahmad Fauzi Ilyas, M.S.I dan sektrertaris prodinyaIrwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd, berdiskusi intens seputar kepemimpinan perguruan tinggi. 

 

Dalam perbincangan tersebut proses dialog dua arahpun terjalin, panjang pembicaraan, seputar kepemimpinan, peluang penerimaan mahasiswa baru, sikap kepercayaan kepada keorganisasian BEM Mahasiswa.

 

Selain dari pada itu, saling bertukar pikiran untuk mendapatkan pembelajaran dan pelajaran serta informasi yang mahal juga terjalin satu sama lainnya. Mulai diskusi usai magrib tanpa terasa 3 jam telah berlalu, jika disimpulkan, terdapat banyak hal dan titik poin penting, untuk itu kami catatkan di sini hasil diskusi kami, di antaranya:

 

·  Kemandirian kampus membutuhkan keberanian dan solidaritas dari unsur sivitas akademika, terutama di mulai dari posisi teratas sebagai top leader di kampus, yaitu ketua dan para wakil-wakil ketuanya.

·    Statuta, ortala, visi-misi kampus, menjadikan dasar terbukanya cakrawala berpikir para dosen, termanifestasi dalam aksinya di lapangan.

· Secara pola pikir antara guru dan dosen itu harus berbeda, dosen harus lebih terbuka untuk percepatan, kemajuan, hubungan kolaborasi, relasi, Kerjasama dan tidak henti-hentinya berinovasi, sebab yang dihadapi setiap harinya adalah mahasiswa yang terus tumbuh simultan, energik tanpa henti.

· Kampus adalah pusat pengembangan di bidang ilmu dan akademik, bukan profit oriented, sehingga perlu dipahami bahwa informasi dan relasi adalah aset dan harta karun yang sangat mahal, perlu dijaga dan dicari setiap harinya. Hal ini salah satu hal penting menuju perkembangan dan pengokohan perguruan tinggi.

· Peran ketua sekolah tinggi dan wakil ketua sama-sama bersinergi untuk mengkomunikasikan informasi dari bawah kepada Yayasan. Sehingga komunikasi terjalin dengan baik, dengan begitu perlahan perguruan tinggi berbasis pesantren dapat bertahap menuju kemandirian sistem secara totalitas.

· Mempercayakan pekerjaan para civitas akademika pada bagiannya adalah keharusan, sehingga menciptakan miliu kepercayaan dan tanggungjawab  yang kokoh.

· Masing-masing unsur dari kampus mesti tahu TUPOKSI (tugas pokok dan fungsi), tidak saling mencampuri urusan satu dengan yang lainnya, atau juga tidakacuh terhadap tugas yang seharusnya dikerjakan dengan baik.

· Analisis “SWOT” untuk penerimaan mahasiswa baru merupakan tanggungjawab wakil ketua akademik dan ketua sekolah tinggi, sehingga paparan perencanaan penerimaannya, merupakan informasi bagi Yayasan, dan pengetahuan bagi prodi-prodi serta seluruh civitas yang hadir dalam rapat. Selanjutnya pola yang dirumuskan ketua dapat disingkronisasi dalam pengerjaan dilapangan baik secara ideologi maupun aksi.

·    Dosen harus benar-benar memiliki rasa dan ruh kedosenan, yaitu dalam arti universal sebagai kaum akademisi yang bersinggungan langsung terhadap teori/konsep dengan lapangan secara bersamaan.

·      Dalam tradisi kepemimpinan, dosen mesti memiliki rasa kepercayaan kepada BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Biarkan pergerakan BEM menjadi cara mereka menumbuhkan rasa kecintaan mahasiswa pada almamaternya. Tidak lagi dicekoki selalu, tidak lagi disuapi selalu, namun biarkan makan, makan sendiri. Biarkan naik sepeda, naik sepeda sendiri. Tidak mesti dipegangi terus menerus, tapi pantaulah dari kejauhan, panggil dan nasehati jika ada yang tidak pas, tapi bukan di depan umum, mesti paham profesionalitas, privasi dan harga diri.

·   Respek adalah harga yang mahal dalam organisasi, sebagai wakil ketua I bidang akademik, prodi adalah bawahan saya yang harus saya dukung, saya percayai, saya backup dan saya bela benar-benar, selalu saya jaga, jika salah saya ingatkan, jika benar saya apresiasi, dengan tetap mempercayakan dan menjaga ini, mereka jauh lebih menghormati saya dan saya juga tetap hormat dengan mereka.

·     Pada intinya kepemimpinan di perguruan tinggi ini adalah kelihaian kita dalam memandang permasalahan itu sebagai bentuk pendewasaan. Kelihaian kita memandang masalah dari sisi solusi. Memandang konsep dari sisi pelaksanaan. Sehingga pada akhirnya kepemimpinan bukan untuk ditakuti, tapi dirindukan. Hingga akhirnya saling menghargai dan cukup menciptakan vibes kerja yang harmoni.

 

Edited By Prodi PBA STIT RH Medan

Tuesday, January 7, 2025

Mengambil Berkah Dari Kedua Tuan Guru



Medan, 7 Januari 2025. 

Malam ini dengan tanpa diterka tanpa diduga, dengan penuh rizki aku diajak Bapak Kaprodi bertemu teman semasa kecilnya, tanpa menolak aku juga mengikutinya.

 

Setelah bertemu di "Sobat-e" yang telah dijanjikan, maka perbincanganpun mengalir seperti layaknya kran yang dibuka, mengucur sejak awal hingga akhir.

 

Pembahasanpun melebar dengan banyak topik dan tema, dari mulai tema masa kecil, pergaulan dibonceng ‘lereng’ (sepeda) sepulang sekolah, tidak pernah berantam sejak kecil, hingga keputusan masuk pesantren, yang satu masuk ke Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah di Medan dan yang satu lagi masuk Pesantren Darul Arafah Deli Serdang, sampai kini masing-masing berkiprah di almamaternya sebagai dosen dengan tugas pokok dan fungsinya (TUPOKSI) masing-masing.

 

Tidak cukup sampai di situ, perbincangan juga dilanjutkan dengan opsi solusi dari perselisihan yang terjadi di para jamaah di kampung, bagaimana menyelesaikan tanpa ada yang terluka? Bagaimana menyelesaikan masalah tanpa timbul masalah? Bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yang berilmu dan dewasa? Begitulah kira-kira diskusinya malam itu.

 

Pembahasan melebar dari A hingga Z, sampailah diingatkan tentang kisah perdebatan Harimau dan Keledai tentang warna rumput, Harimau bilang warna rumput itu hijau, dan keledai bersitegang urat bahwa warna rumput itu biru, terjadilah perdebatan yang tak terelakkan,  debat berlangsung panjang tidak ada habis-habisnya, hingga akhirnya keduanya sepakat untuk menghadap sang Raja Singa, sehingga bisa menjadi hakim yang adil untuk melerai perdebatan ini.

 

Singkat cerita, usai Harimau dan Keledai menyampaikan perselisihan pendapat mereka, maka Raja Hutan Singa menyampaikan bahwa: “Untuk perdebatan ini Harimau yang benar, rumput berwarna hijau bukan biru,” (senang lah harimau ketika itu) “tapi karena perdebatan ini, Harimau yang dihukum” (bersorak-sorai si keledai, karena senang Harimau di hukum). Dengan penuh rasa ingin tahu, Harimaupun protes, lalu bertanya pada raja hutan “Apa salah saya? Kenapa saya yang dihukum? Kan saya benar!”, “Salahmu satu, udah tahu keledai kok diajak berdebat, udah tahu tak berilmu mengapa bersitegang urat!” Jawab Raja Singa.

 

Dari kisah yang kembali diingatkan ustadz Usman barusan, teringat tentang fenomena yang marak terjadi saat ini di mana-mana, bukan benar-benar berilmu tapi mendebat sesuatu dengan merasa paling benar satu sama lain, tidak mengetahui akar permasalahan tiba-tiba muncul menjadi sosok paling hebat, superior mendominasi keadaan. Padahal sejatinya manusia ini penuh dengan kekurangan, kesalahan, dan kelalaian. Masih jauh panggang dari api tentang arti kesempurnaan. Pada akhirnya pandai-pandailah mawas diri, menjaga diri, hati, kata dan pikiran, semoga semuanya dalam lindungan Allah Swt,.

 


Mendapat pengetahuan tambahan lagi, bersabar-sabarlah jika perdebatan itu terjadi dan tidak terelakkan lagi. Namun yang perlu dipastikan perdebatan mesti memiliki value yang sama, sebab akan berujung pada satu titik perpisahan dan pertikaian jika tidak sejajar dari sisi value.  Dan tetap, sebaik-baiknya sikap adalah berdamai. Damai itu indah, bertikai itu menyisakan marah dan gusar walaupun setetes.

 

Banyak hal ahwal, ibroh dan hikmah dari kisah yang kembali diingatkan di atas, sejenak hati tenang, kembali menyadari bahwa inilah dinamika dunia, saat ini benar-benar sedang tinggal di dunia, tempat manusia berkeluh kesah, tempat manusia menyombongkan diri, tempat manusia menghinakan diri, tempat manusia beribadah sebanyak-banyaknya, tempat manusia berdoa dan berharap pada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tempat akhir manusia bertransportasi menuju akhirat yang kekal, abadi, immortal nantinya.

 

Panjang perbincangan sebenarnya, namun untuk catatan ringan kali ini, cukup kiranya aku hentikan di sini, semoga sedikit tapi memberikan pencerahan dan insight baru bagi teman-teman pembaca, terima kasih sudah mau membaca hingga sejauh ini, semoga teman-teman sehat selalu.

 

Salam santri, Santri berilmu, Santri sholeh, Santri sehat dan Santri kreatif.
Akhir kata, Wassalamu’alaikum wr wb.


Tuesday, December 3, 2024

Syahadat Deklarasi Keyakinan.

 Syahadat Deklarasi Keyakinan.

Assalamu’alaikum wr wb




أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
 
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

 

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu,

wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.

 

Artinya:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah.”

“Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

**


Dalam ucapan dua kalimat syahadat ada lafadz kesaksian dan peniadaan di sana. Kesaksian bahwa Tuhan adalah Allah Swt., dan menyaksikan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah. Di samping kesaksian juga terdapat peniadaan; di saat bersamaan juga meniadaan Tuhan-Tuhan selain Allah Swt.

 

Tuhan dalam makna awam sering diartikan menjadi “sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya”, tidak ada yang salah dengan arti ini, namun yang kiranya keliru ketika salah bertuhan; bertuhankan pada sosok yang tidak pantas; menuhankan materi di atas segalanya; mempertuhankan akal lebih tinggi dari keyakinan asasi dari diri. itu yang kiranya keliru.

 

Nah, dari sinilah Worldview Islam hadir untuk memberikan cara pandang baru kepada manusia. Di mana syahadat sebagai deklarasi keyakinan, hendaknya memperkokoh bangunan Rukun Iman dan Rukun Islamyang secara simultan menjadi tameng dalam kehidupan manusia muslim terlebih manusia mukmin. 

 

Dalam Keimanan kepada Allah Yang Maha Esa tidak ada keraguan, iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rasul, iman kepada Hari kiamat, dan iman kepada Qada dan Qadar, menjadi landasan berpijak. Sedangkan rukun Islam, dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengerjakan puasa, mengeluarkan zakat, naik haji, merupakan amalan sepanjang umur hidup, seraya bukti identitas bahwa seorang tersebut adalah umat Islam yang benar, berjalan ke arah kebenaran.

 

Dengan demikian keimanan hati dan amalan perbuatan seorang mukmin, akan berdampak besar pada manusia mukmin yang lain dalam kesehariannya. Jika berdagang membawa iman di sana, yakin setiap transaksi ada malaikat yang mencatat, setiap bekerja ada waktu untuk shalat yang harus diluangkan, sehingga dalam keseharian tidak pernah luput dari lindungan Allah, sebab manusia mukminnya selalu ingat pada Allah. Dengan demikian, lengkaplah rukun iman dan rukun Islam menjadi penolongnya dalam menjalani aktivitas keduniawiaan, demi kepentingan akhirat yang immortal.

 

Hal yang sama juga berimbas dalam kehidupan bermasyarakat, Belajar ilmu apapun tujuannya bukan semata dunia tapi ada akhirat di sana, berpolitik bukan sekedar politik dunia; namun ada pertanggungjawaban akhirat yang kelak dipertanggungjawabkan dihadapan sang pencipta. Bahkan sampai kepada menikah juga mesti menggunakan nilai-nilai keimanan dan keislaman, menjadi landasan dalam mengambil keputusan sekecil apapun, seringan apapun, hingga yang paling berat sekalipun; bukankah menikah adalah ibadah terpanjang di dalam Islam?

 

Dari sekian analogi tindakan real di kehidupan nyata, menghadirkan makna sebenarnya bahwa syahadat sebagai deklarasi keyakinan tidak lagi sebuah kata semu, akan tetapi adalah bukti real bahwa manusia butuh panduan, tuntunan ke arah yang lebih baik.

 

Kelak dari akumulasi keyakinan dan amal sholeh yang dilakukan seorang mukmin, dapat membantunya untuk kebaikan-kebaikan berikutnya, yang itu semua dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketaatan, layaknya hamba pada tuannya.

 

Sehingga hasil dari syahadat ini, semua perbuatan di dunia ini orientasinya lillah. Mengartikan segala sesuatunya berkaitan dengan Allah. Mencari ilmu adalah ibadah, fadhilah dari shalat adalah mencegah kemungkaran, kesopanan itu wujud dari kebaikan, pemahaman durhaka pada orang tua akan celaka, mendholimi orang lain itu sedang menabung azab dunia kepada diri kita sendiri, berinfak itu menambah kaya, kerja keras mesti dibarengan do’a, membantu orang lain itu tanda iman kepada Yang Maha Kuasa bahwa dengan itu kita mengetuk pintu ridanya Allah Swt.

 

Sampai pada akhirnya, syadahat yang melahirkan keyakinan ini juga sebagai langkah awal untuk mulai berjalan pada pilihan dan impian ke arah yang benar, di mana langkah yang benar adalah ketika berlandaskan pada visi Islam tentang realitas dan kebenaran, hingga pada akhirnya dengan visi Islam yang benar dapat memahami wujud Allah, wujud Alam, wujud manusai dan lain-lain.

 

Dengan ini semua akan mengarahkan worldview berpikirnya dapat makna amal, makna ilmu, makna kehidupan, makna dunia, makna nilai atau moral, makna manusia.

 

 

“Mari beriman, berpikir dengan iman, sehingga menumbuhkan keimanan-keimanan yang lainnya, notabene mendekatkan diri pada Allah Swt.”

 

Wallahua’alam bissoab


Terima kasih teman-teman sudah membersamai sampai sejauh ini, terima kasih telah membaca sampai pada titik ini, akhir kata semoga kita semua dalam lindungan Allah Swt., dan dimudahkan dalam segala urusan dan permohonan yang dimohonkan.

 

Wassalamu’alaikum wr wb

Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.