Kamis, 10 Februari 2022

Sumber Telaga Islam



**

Usia manusia adalah teramat pendek menghadapi pekerjaan yang demikian besar dalam sekaligus. Keberhasilan batinlah lebih dahulu. Setelah batin terlepas dari kungkungan hawa nafsu, dan jiwa itu benar-benar bebas dari pengaruh benda, di waktu itulah, kelak dapat menghadapi pekerjaan yang lebih besar lagi. 

[Prof. Dr. Hamka]

 

**

 

Buku Falsafah Ideologi Islam ini tidak memiliki banyak sub judul, hanya memiliki empat pembagian, yaitu: Pendahuluan, agama dan negara, pokok ideologi dan dasar ideologi.

 

 

Memasuki pembahasan pertama tentang ‘agama dan negara.’ Pada halaman 6, Buya Hamka menuliskan, Kita ingin membangun. Tetapi yang kelihatan dimana-mana hanya keruntuhan. Kehormatan dan keruntuhan. Pada halaman selanjutnya, di halaman 7 tertulis, kadang-kadang tidaklah dapat disesalkan. Sebab kemiskinan jiwa sudah sampai kepada derajat yang di bawah sekali. Sehingga segala yang terkilat putih, sudah disangka gading. Padahal dalam perbendaharaan jiwa sendiri, ada emas, emas urai yang tersembunyi. Inilah pangkal keruntuhan ekonomi di jiwa.

 

Di dalam Tarikh Islam tidak pernah bertemu pemisahan agama dengan negara. Dalam ajaran Islampun tidak ada yang demikian. Boleh dibuka halaman 16. “Kalau batin telah kotor, laksana pekarangan rumah tangga yang tidak pernah disapu, macam-macam penyakit jiwa akan tumbuhlah. Tetapi kalau batin bersih. Peraturan, walaupun misalnya tiada tertulis, nisacaya akan berjalan sendirinya.”

 

Saat ini umat sedang terjangkiti virus Individualisme menimbulkan liberalisme. Liberalisme menimbulkan materialisme. Materialisme menimbulkan kapitalisme. Kapitalisme mesti menimbulkan imperialisme. Mengutamakan diri sendiri, mesti menimbulkan keinginan kemajuan hidup diri sendiri; kemajuan hidup diri sendiri mesti menimbulkan perbuatan kebendaan; perbuatan kebendaan mesti menimbulkan pertumpukan modal; modal yang telah tertumpuk, sendirinya mesti menumbuhkan keinginan mencari pasaran, yaitu penjajahan. (baca halaman 27)

 

Dimana telah jelas tampak, dan boleh ditelisik ulang hampir dapat dikatakan bahwa di negeri-negeri yang terjajah mesti terdapat tali berpilin tiga; Kapitalis, birokrasi dan peyiaran agama Kristen. Untuk itu dibangunkannya masjid, dihidupkannya aktifitas di dalamnya, diadakannya pengajian, menjadi sumber telaga perpaduan jiwa. Sesudah jiwa terpadu, dari sana dilancarkan rancangan yang besar berkenaan dengan urusan hidup. Dengan selalu yakin bahwa rahmat Allah turun dalam setiap waktu dan pergerakan. (baca halaman 38)

 

Pembahasan besar kedua, “Pokok Ideologi.” Ada tiga soal penting yang mesti benar-benar dipahami dengan benar bagi kita semua, yaitu ‘alam, Hidup dan Manusia. Yang ketiga hal tersebut adalah beberapa objek kajian dalam filsafat.

 

Dalam filsafat Islam sendiri ujungnya tidaklah akan bertemu pada orang , tetapi kita harus datang sendiri kepada sumber telaga Islam itu sendiri, yaitu Qur’an suci dan Hadis Nabi yang shahih. Islam mempunyai filsafat yang berdiri sendiri. Adapun jasa para filsuf sebagai Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd adalah memperjelas filsafat itu. Dan kalau hendak melihat contoh pengaruh filsafat Islam itu, yang mudah ialah melihat Tarikh kehidupan Rasul dan Tarikh perjuangan sahabat-sahabat yang mengantikannya di dalam menegakkan pemerintahan Keislaman. Terutama di zaman Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.

 

Pembahasan besar ketiga, tentang “Dasar Ideologi” Pada pandangan Islam, kesatuan adalah kebenaran; perpecahan adalah kesalahan. Dan yang salah itu tidaklah ada hakikatnya. Pendeknya kalau dicari-cari dari mana sumbernya, tidaklah akan bertemu!

Tujuan Islam adalah mempersatukan ruh dan jasad pada perseorangan, mempersatukan kejiwaan dan kebendaan, pada kehidupan. Mempersatukan golongan yang berbeda-beda, pada satu bangsa. Mempersatukan perseorangan dengan masyarakat dalam pada satu tujuan. Mempersatukan pendirian yang berbeda-beda, pada satu muslihat umum. Mempersatukan bangsa-bangsa karena perbedaan iklim dan perlainan kepentingan, pada akhir jalan. Hal inilah yang  tidak akan bisa didapatkan kecuali dengan terlebih dahulu menyatukan 3 hal mendasar berikut ini: Ialah kemerdekaan jiwa, persamaan kemanusiaan dan gotong royong yang teguh dalam masyarakat.

 

Agak berat kiranya buku ini, perlu perlahan-lahan untuk memahami isi kandungannya, namun jika telah dipahami, akan hilang dahaga fakir ilmu, akan hilang demam panas dingin papa ilmu agama, akan berangsur pulih hati yang sempat meredup sinarnya. Untuk itu bagi Anda yang tidak terlalu suka dengan bahasa pujangga tapi suka dengan bahasa ilmiah dan pembahasan akademisi, buku ini cocok buat Anda. Dan untuk anda yang sedang ingin belajar tentang teologi islam, atau seputar falsafah dasar, buku ini juga sesuai, sebab secara konsep ini matang, secara penjelasan buku ini menejelaskan dengan sangat runut baik, dan sangat responsive terhadap pembaca, sehingga pembaca dapat memahami betul terhadap apa yang dibaca. Terima Kasih Buya Hamka yang telah menuliskan pemikiran Emasnya dalam buku yang saat ini ada digenggamanku.

 

Semoga terinspirasi, selamat membaca. J

 

 

**

Judul Buku      : Falsafah Ideologi Islam

Penulis                        : HAMKA

Penerbit          : Widjaya, DJakarta

Cetakan           : pertama, 17 Agustus 1950 M

Tebal               : 131 hlm

ISBN                : -

Genre              : Filosofi

Harga              : Rp. 

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

 

0 komentar :

Posting Komentar