Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Wednesday, February 9, 2022

Buya Hamka; Pribadi Tangguh lagi Bermartabat

 

**
“….. Kalau saya dihukum, nyatalah semata-mata karena dianiaya. Terhukum dengan aniaya lebih saya ridha menerimanya, dari pada saya dihukum karena bersalah melanggar Undang-Undang Negara, karena melanggar Undang-Undang tidak pernah menjadi tujuan hidup saya. Saya berjuang selama ini hanyalah dengan jalan legal. Dan, sebagai seorang yang telah berumur, tidaklah saya mau menempuh satu jalan yang sia-sia, yang tidak ada faedahnya.”

 

[Keterangan Prof. Dr. Hamka yang tertulis dalam lampiran pada halaman 296]

**

 

“Buku ini bukanlah sebuah biografi Buya Hamka yang sarat dengan data, tapi sekadar kenang-kenangan seorang anak terhadap ayahnya yang baru meninggal. Dalam suasana duka cita, dan diliputi oleh berbagai ingatan tatkala Almarhum masih hidup dan berada di tengah-tengah keluarga, buku ini ditulis sekadar untuk menghalau yang belum kunjung berakhir dari seorang anak yang selalu menyertai dan mengurusi Almarhum tatkala hidupnya. Oleh karena itu, subjektivitas pasti tidak bisa dihindarkan. Untuk itu, paling-paling penulis minta dimaklumi dan dimaafkan oleh pembacanya.” Begitulah ungkapan jujur dari seorang H. Rusydi Hamka. Dalam pembukaan di paragraph pertama dari ucapan terima kasih.

 

Sebagai peresensi buku-buku Hamka, jujur baru kali ini, saya membaca catatan yang sangat runut dan kuat ruh tulisannya, terutama dalam setiap lampiran yang tertera. Semua lampirannya sungguh sangat jelas, lugas, benar-benar Hamka adalah sosok jurnalis sejati, mendokumentasikan setiap kejadian dalam untaian kata begitu sangat jelas, terang dan spesifik sejauh yang dia tahu tentang suatu daerah atau kejadian, sehingga tergambarlah betapa sulit, terjal, semak belukarlah jalanan dakwah yang dilaluinya. Melewati banyak tuduhan, fitnah, yang kesemuaannya membutuhkan nurani yang tulus untuk melewatinya, dan harus memiliki kedekatan yang super luar biasa pada Allah swt untuk menguatkan niat dakwah dalam perjuangannya. Ingin mengetahui alurnya, para pembaca bisa membaca pada judul “Lampiran 1 Catatan dalam Tahanan Rezim Soekarno.” Pada halaman 262 s/d halaman 296.

 

Sebagai ulasan singkat, maka saya coba tuliskan judul-judul dalam bab yang tertulis dengan beberapa petikan kata beliau yang walaupun singkat, saya rasa cukup untuk menjadi pelipur dalam hati yang sangat dilanda rindu akan hadirnya beliau dimasa-masa sekarang ini.

 

Pada Bab. I

Judul pertama: Catatan Latar Belakang Kehidupan Hamka. (h. 2)

“Di usia belasan tahun, Hamka sudah merantau ke Makkah. Meski merasa kehilangan, ayahnya bangga karena Hamka mampu berpijak pada kakinya sendiri.” 

 

Judul kedua: Tongkat-Tongkat Buya. (h. 12)

“Tongkat yang telah menopang tubuhnya selama 23 tahun. Dengan itu pula, Buya Hamka menjangkau dunia.”

 

Judul ketiga: Ibu, Obat Hati Ayah dan Anak. (h. 26)

“Ucapan-ucapannya selalu menguatkan hati dan membantu suaminya mengambil keputusan yang tepat. Dialah Ummi, seorang wanita sederhana pendamping Buya Hamka”

 

Judul keempat: Tahun-Tahun yang Cerah. (h. 43)

“Ibu adalah obat hati anak-anakku, karena duka cita kami ditinggalkan Ummi,” begitu kata Ayah, memuji istrinya. Kami pun memujinya sebagai ibu tercinta sejak kelahiran kami, sampai kelak Tuhan memisahkan.

 

Judul kelima: Kenangan Akan Buya Hamka yang Mengharukan. (h. 51)

“Makan sirih ujung-ujungan

Kurang kapur tambahi ludah

Tanah Deli untung-untungan

Hidup syukur matipun sudah…”

Apa yang dilihat dan dikenangnya, bisa dia pantunkan dengan indahnya.

 

Judul keenam: Pribadi Buya Hamka yang Menakjubakan. (h. 68)

“Daya ingat dan kesan dalam mata…Iitulah kelebihan Buya Hamka, yang kemudian dia tuangkan dengan penanya, dalam mesin tik-nya. Menulis telah menyatu dengan jiwanya.”

 

Judul ketujuh: Fatwa dalam Humor. (h. 89)

“Buya Hamka selalu bisa menceritakan suasana. Meskipun kondisi tengah pedih, tak lupa dia menyelipkan humor-humornya untuk melupakan suasana duka.”

 

Masih tersisa sekitar 10 judul lagi di bab ke 2, dan ada sekitar 9 untaian lampiran yang merupakan catatan orisinil seorang Hamka yang kemudian diketik kembali dan lalu disimpan, tidak pernah dikeluarkan, namun pada buku inilah baru lampiran itu dipublikasikan, menjadikannya sangat orisinil memuat memori kerinduan teramat dalam dari seorang anak yang mengetahui betul bagaimana sosoknya, bagaimana perjuangannya, bagaimana kiprahnya, bagaimana sikapnya dalam menjalani setiap permasalahan yang terjadi selama ini. 

 

Jika ingin sempurna ingatan tentang Buya Hamka, dan mengerti jelas bagaimana kiprah dan bentuk perjuangannya, maka lampiran ini adalah kata kuncinya, bacalah satu persatu lampiran tersebut, akan tampak jelas situasi ketika itu sejelasnya matari yang telah terbit sejak waktu dhuha.

 

Sebagai pembaca yang mungkin lebih awal dari teman-teman membaca buku ini, agaknya saya merasa terkesan, dan sangat menyukai buku ini. Untuk itu tidak ragu saya rekomendasikan buku ini, untuk dibaca dengan seksama, walaupun buku ini terkesan seperti pandangan subjektif dari seorang anak kepada ayahnya; seperti yang saya kemukakan di awal, namun dengan adanya tambahan data, berupa lampiran-lampiran yang orisinil, dapat menghilangkan kesan tersebut dan menjadikan buku ini adalah buku yang sangat kuat riwayat catatan kakinya.

 

Kiranya pembaca dapat menilai sesuai keadaan hatinya, untuk selanjutnya saya ucapakan selamat membaca & semoga terinspirasi. J

 

**

Judul Buku      : Pribadi dan Martabat Buya Hamka 

Penulis             : H. Rusydi Hamka

Penerbit          : PT. Mizan Publika, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Januari 2017 

Tebal               : 387 hlm

ISBN                : 978-602-385-240-6

Genre              : Memori

Harga              : Rp. 

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

Tuesday, February 8, 2022

Apakah Intisari Kehidupan?

 


**
‘Mengapa ombak itu bergulung?’

‘karena udara!’

‘Mengapa udara bergerak?’

‘Karena hawa panas!’

‘Dari mana datangnya panas itu?’

‘Dari Matahari!’

‘Siapa yang meletakkan panas pada Matahari?’

‘….. Diam!’

 

[Prof. Dr. Hamka]

 

**

 

Dalam buku ini Prof. Dr. Hamka menerangkan kepada kita bahwa ada kebesaran, keajaiban, dan keindahan dari-Nyalah yang membuktikan keberadaan Allah yang Mahakuasa, Tuhan Semesta Alam. Allah SWT yang mengatur, Menyusun, dan menguasai alam ini.

 

Pembahasan buku ini cukup luas; sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Memberi kesan bahwa berkembangnya ilmu pengetahuan dan hasil penelitian dan penyelidikan manusia, pada hakikatnya bukan menambah jauh dari Allah, melainkan menambah terbukanya pintu gerbang keimanan.

 

Aristoteles, murid plato, mempelopori filsafat berhubung hendak mengetahui hakikat dari Yang Ada itu. Dialah “Penggerak Yang Tidak Bergerak”. Dialah yang “Wajibul Wujud”, yang pasti adanya. Adapun ada yang tampak oleh pancaindra ini hanyalah yang “Mukminul Wujud.”

 

Berkembanglah tinjauan kepada Yang Ada itu menurut filsafat. Dari zaman Yunani ke zaman Romawi, di Tiongkok, di India bahkan di seluruh pelosok dunia karena adanya akal manusia. Dari Filsafat Yunani berkembang biak, sampai tumbuh, hingga akhirnya disambut oleh yang disebut filsafat modern, yang dimulai dari zaman Descartes. 

 

Terjadilah pertikaian di antara ahli falsafah tentang Yang Ada, tentang asal segala sesuatu, apakah semata benda atau semata nyawa, atau gabungan di antara keduanya.

 

Timbul juga penyelidikan apakah akal dan pikiran itu? Apakah dia di luar dari otak, yaitu dua barang. Atau adakah dia hasil dari kerja otak. Dibicarakan pula hidup manusia. Apakah hidup itu? Apakah hidup hanya karena terdapat darah yang mengalir dalam tubuh, dan apabila darah telah dingin, terhenti atau habislah hidup. Sehingga dapat ditetapkan bahwa hidup merupakan bekas dari panasnya darah?

 

Tidak ada kepastian pendapat tentang hal itu. Sebab ujung segala perjalan pikiran itu akhinya akan tertumbuk kepada suatu tebing yang tidak dapat diseberangi lagi.  

 

Akhirnya, apakah jadinya filsafat itu?

 

Akhirnya filsafat itu tidak lain dari pada mengumpulkan berbagai bentuk pikiran, hanya tentang dua masalah, yaitu keberadaan atau ketiadaan. Belum dapat filsafat mengemukakan masalah lain yang ketiga, di luar dari ada dan tidak ada, itu pun tidak mungkin. Itu sebabnya bagaimanapun kemajuan filsafat, hanya dapat mengembangkan kedua masalah itu saja atau memisah-misahkan masalah-masalah yang timbul dari pokok filsafat, lalu dijadikan ilmu tersendiri, dan menghentikan pembicaraan hal yang ada atau tidak ada. Berhenti membicarakan bukan berarti masalah “ada-tidak ada” tidak ada lagi.

 

Kita ambil satu contoh, dari sudut mana mencari Tuhan? Kita coba mencari tanda-tanda ketuhanan dari segi keindahan.

 

Menurut penyelidikan ahli ilmu jiwa, jiwa kita saat ini mempunyai tiga sudut yang penting dalam menghubungkan diri dengan alam. Pertama perasaan, kedua pikiran, dan ketiga kemauan.

 

Katanya, apabila perasaan yang lebih tekemuka dari antara ketiga sudut itu, kita akan menjadi seorang seniman. Apabila pikiran yang lebih utama, niscaya kita akan menjadi seorang filsuf. Jika kemauan (iradat) yang lebih unggul, inilah alat bahwa orangnya akan menjadi pahlawan atau seorang pemimpin yang terkemuka dalam bangsanya, atau seorang ahli agama yang membaca paham pembaharuan.

 

Namun apabila kita cenderung ke dalam seni dan keindahan (estetika), cobalah rasakan adanya Allah di dalam alam. Pandanglah Dia di dalam kebesaran laut, bukit dan gunung. Keindahan saat matahari terbit dan terbenam, keindahan bentuk, juga keindahan warna. Angin sepoi yang melambaikan serumpun bambu di pinggir hutan, yang menimbulkan kicut penggeseran di antara suatu batang dengan batang yang lain pun mengandung ajaibnya keindahan. Bahkan hempasan ombak ke tepi pantai diiringkan oleh angin lautan yang nyaman, seakan-akan memandikan jiwa kita sendiri. Jika hari telah malam, kita lihat pula bintang berserak di halaman langit. Bintang-bintang bekelap-kelip, seakan-akan orang tersenyum, dan yang disenyumi adalah kita.

 

Ternyata jauh-jauh hari Al-Qu’an juga telah menganjurkan menggunakan akal pikiran dan hati nurani untuk merenungi semua keajaiban alam ini. Manusia yang berakal akan menyadari tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Jika sekiranya pendapat hasil pencarian dan renungan pikiran disesuaikan dengan yang ada dalam Al-Qur’an, akan didapatkan penyelesaian, yaitu segala bukti menunjukkan keberadaan Allah SWT. 

 

Melihat itu semua, banyak kesannya kepada jiwa kita sendiri. Seakan-akan kita telah menjadi ahli waris dari alam. Kita pun jatuh cinta kepadanya. Karena dari Dia-lah timbul keindahan yang telah direkam jiwa kita. Tidak ada ucapan lain yang sekaligus dapat mencetuskan apa yang terasa dalam hati kita, selain satu kalimat saja, yakni Allah. Itulah intisari kehidupan seniman.

 

Semoga terinspirasi & Selamat Membaca J

 

 

 

**

Judul Buku      : Falsafah Ketuhanan 

Penulis                        : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : pertama, Sya’ban 1438 H/ Mei 2017 M

Tebal               : viii + 140 hlm; 18,3 cm

ISBN                : 978-602-250-389-7

Genre              : Aqidah

Harga              : Rp. -

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

Monday, February 7, 2022

Inilah Hamka Apa Adanya


**

“Saya akan jadi Hamka dari Indonesia”.

[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Baru membaca kata pengantar dari Bapak Ahmad Syafii Maarif saja rasanya sudah jatuh cinta pada buku ini, sebuah ulasan singkat bernas, beretorika, bersahut-sahutan dan beriset ala penulis kawakan sangat terpancar dari pengantar ini, sebuah ulasan memperlihatkan bahwa beliau bukan hanya penulis terbaik namun juga pembaca yang baik. Sebab titik poin dalam setiap pesan yang digambarkan dan perbandingan yang diberikan semuanya memberikan daya jual baru, seketika pembaca pemula seperti saya langsung mencintai buku Adicerita Hamka ini, bahkan lebih dari itu, menjadi penasaran untuk memiliki keseluruhan dari buku karya beliau yang telah disebut-sebut sebagai tokoh dalam kajian agama, filafat, sastra, tasawuf, sejarah, fikih, adat, teologi, dan beberapa membahas mengenai politik, dan magnum opus-nya adalah Tafsir Al-Azhar. Yang lengkap lengkap 30 Juz.

 

Buku Biografi Hamka karya James Rush ini memperkenalkan sosoknya yang sangat berpengaruh serta memiliki beragam gagasan yang menunjukkan bagaimana debat public mengenai agama sering membentuk masyarakat nasional di dunia pascakolonial.

 

Buku yang ditulis penuh dengan rincian apik ini juga mengupas tentang pedoman masyarakat, kisah ayah dan anak, Hamka-san dan Bung Haji, Islam untuk Indonesia, perang budaya, orde baru. Yang kesemuaannya disimpulkan dengan tulisannya “Saya akan jadi Hamka dari Indonesia”. Perebutan kekuasaan dan realitas pahit tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia membuat dia menjadi lebih serius dan makin fokus ke satu tujuan. Tujuan itu adalah penyebaran Adi ceritanya, di mana Indonesia, suatu negara modern, bakal bersatu di sekeliling nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam. Dia melakukannya dengan penuh semangat sebagai seorang penulis, imam, tokoh publik yang vocal, dan ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia.

 

Melihat rangkaian ulasan, dan tata bahasa apik dan menarik diatas, saya pribadi bertanya-tanya penasaran ingin tahu siapa sebenarnya James R. Rush ini? 

Setelah mencari tahu, barulah tersadar beliau adalah seorang professor sejarah di Arizona State University. Dia penulis “Opium to Java” dan “The Last Tree: Reclaiming the Environment in Tropical Asia.”

 

Dalam buku ini agaknya akan mengutip beberapa ungkapan dari tokoh-tokoh terkemuka yang bercerita tentang Hamka. Abdurrahaman Wahid yang 37 tahun lebih muda secara usia dari beliau berkomentar bahwa sosok Hamka adalah sosok ulama tingkat nasional. Bahkan ia menyimpulkan sosoknya adalah dapat membangun sebuah bagunan mental luar biasa. “orientasi satu generasi telah dibentuk oleh satu orang saja.“ Begitu ungkapnya. Tertulis di halaman 253.

 

Dawam Raharjo, seorang neomodernis berpengaruh menganggap Hamka berjasa mengubah arah Islam Indonesia dari legalisme ke arah moralitas, karakter, dan spiritualitas, serta merehabilitasi tasawuf sebagai bagian pembaruan agama Indonesia. Prestasi terbesar Hamka, katanya adalah membuat Islam berada di rumah sendiri di Indonesia, memperibumikannya sehingga Islam “menjadi agama yang mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat Indonesia.”

 

Sebagai bukti pedoman masyarakat, Hamka menanamkan nilai-nilai luhur pada masyarakat ketika itu dengan beberapa nilai yang ia tanamkan, seperti menyadarkan kepada masyarakat bahwa Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa kebahagiaan sempurna berasal dari kesempurnaan akal.  Dalam segala segi kehidupan, penggunaan akal memang mengarah ke hal-hal yang lebih baik. “Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia.” Satu alasan mengapa akal yang sehat mengarah ke kebahagiaan adalah karena seseorang yang berakal dan berpikir secara alami akan mendekat ke pada Allah, melihat keindahan dan kerumitan ciptaan Allah, dan akan tunduk kepada kehendak Allah. Dengan demikian, iman akan menjauhkan manusia berakal dari perbuatan jahat seperti zalim, khianat, rakus, dan dusta, lalu mendekatkan ke perbuatan baik. Bahkan dalam urusan iman dan amal, mereka yang lebih berakal akan lebih cemerlang.

 

Ada banyak lagi pedoman-pedoman hidup yang ditanamkan Hamka di dalam masyarakat yang dapat menjadi tuntunan kita, terkhusus bagi kita yang juga sedang menjalani hidup di bumi Indonesia, ataupun di mana saja, selama kita masih bangsa Indonesia, bahkan lebih luasnya lagi, boleh dibaca untuk semua manusia, lintas daerah lintas negara, sebab kita semua terhimpun dalam satu kata. Ukhuwah Islamiyah. Tali persaudaraan keimanan yang tidak terputus sampai kapanpun di mata Allah swt.

 

Demikian ulasan singkat buku yang berkualitas ini, hanya saja menurut saya gaya penulisan dengan meletakkan footnote berada di lembar lampiran di akhir buku ini, membuat pembaca membolak-balik rujukan buku ini, sehingga jika penasaran ingin melihat buku rujukannya, pembaca di waktu yang sama, diharuskan ikhlas meniggalkan bacaannya sejenak dan melihatnya dilembaran belakang, menurut saya harus kerja dua kali, meskipun jika ditulis ke bawah akan terlihat seperti catatan ilmiah yang lebih banyak footnenya dari isinya dalam setiap hampir halaman, namun terlepas dari itu semua, buku ini adalah buku yang kuat secara referensi, dan tajam secara analisis.

 

Jika penasaran mengenai Buya Hamka, mencoba mengenal beliau dari orang yang mengenalnya, dengan gaya penuturan deskriptif, buku ini adalah saran terbaik yang mesti dibaca dan dinikmati isinya, semoga terinspirasi, semoga mendapatkan pelajaran. Selamat membaca.

Sunday, February 6, 2022

Ini Harta Karun

**

“Tidak ada Tuhan, melainkan Allah”. Lafadz itu mengandung yang negative dan yang positif. Negatif, karena ucapaan “Tidak ada Tuhan”, sedang yang positif: “Melainkan Allah”. Maka dua kekuatan itu meledakkan atom yang melahirkan sumber Tauhid dalam diri kita masing-masing, bahwa kita betul-betul percaya: “Tidak ada Tuhan, melainkan Allah”.

[Prof. Hamka]

**

 

Buku ini adalah harta karun bagi kolektor karya tulis tentang Buya Hamka. Merupakan buku yang luar biasa. Ditulis oleh 46 orang tokoh terkemuka, semuanya memiliki cerita khusus tentang Buya Hamka. Banyak hal yang dituliskan, semuanya tertulis subjektif penulisnya masing-masing, sebab hanya tokoh tersebutlah yang bersentuhan langsung, maka dengan serta merta sebagai seorang tokoh, cukuplah yakin hati ini bahwa ungkapan itu adalah benar adanya, seperti sebahagian sahabat Rasulullah yang belum mendapatkan hidayah ketika masa kenabiannya, sebenci apapun dengan Rasul dan dengan ajarannya, tetap jika itu adalah benar maka dibenarkanlah, jika itu salah, dikatakanlah salah. Konon lagi tokoh berikut adalah sosok terkemuka, sedikit banyak mereka terkesan, kagum, hormat dengan sosok Prof. Hamka. Semoga menjadi bahan bacaan yang menyegarkan para pembaca sekalian.

 

Beberapa ulasan di dalamnya, ada yang bercerita pernah berjumpa dengan beliau 2 kali, ada yang menulis tentang politik menurut versi Buya Hamka; menulis kenang-kenangan bersama beliau; ada yang mengakui beliau sebagai pengarang dan pujangga, ada yang kagum saat mengenal Doktor Hamka; Hamka sebagai ulama, pujangga Islam Indonesia; Hamka dan Ayahnya; mengenal Hamka dari jauh dan dekat; ada juga yang bernostalgia dari Kalimantan selatan; ada yang menerangkan Hamka di London; ada juga yang menulis tentang kepribadian beliau, dan masih banyak lagi judul lainnya. Merupakan tulisan yang sangat luar biasa, tak pernah terpikirkan bisa membaca karya sebagus ini, sosok ulama yang benar-benar diakui bagi para tokoh dizamannya, setelahnya bahkan hingga saat ini, Wallahu Yarham.

 

Jika kamu adalah generasi Z atau generasi Y, maka nampaknya kita lahir di era yang sama, perlu banyak membaca sejarah untuk mengetahui perubahan dinamis dari putaran dunia, apalagi tentang Hamka, tidak bisa sekedar membaca satu buku lantas tahu sepenuhnya tentangnya, tidak bisa bilang hanya menikmati audionya lantas mengikuti sirah tentangnya, perlu ada pembanding untuk mengetahui lebih dalam, sebagai penyeimbang dari pengetahuan kita dengan pengetahuan orang lain, penyambung terputus antara perpektif kita dan perspektif orang lain dalam memahami realita kehidupan Hamka. 

 

Dari mana belajarnya? 

Ya dari buku ini salah satunya.

 

Dari buku ini para penulis di dalamnya menceritakan sendiri tentang pengalamnnya langsung saat berjumpa dan hidup dengan sosok Hamka yang sedang kita bicarakan saat sekarang ini.

 

Andai kata kamu adalah seorang pembaca, bacaan buku ini bukan sunnah lagi hukumnya, akan tetapi ‘sunnah muakkad’ mendekati ‘fadlu ain’, maaf jika Aku terlalu berlebihan meminjam istilah di atas, namun yang kurasakan ketika membaca sisi lain dari Buya Hamka yang tak terekam sejarah manapun, membuatku yakin, bahwa do’a orang tua saat telah berputus asa dalam mendidik anaknya, ternyata dapat dengan mudah dikabulkan oleh Allah swt, bahkan menjadikannya sosok ulama yang meneruskan perjuangan ayahnya, bahkan lebih lagi.

 

Menurutku, tak peduli seberapa sulit hari-harimu, seberapa jauh kamu melintasi perjalanan jauh dari kebenaran, namun seketika kamu menemukan satu titik terang penerang hatimu, maka ikutilah cahaya itu, bisa jadi cahaya itu yang akan menuntunmu masuk kedalam rahmat Allah swt yang tak tergantikan dengan gemerlap hidup yang kamu kejar selama  ini. Wallahu a‘alam.

 

Untuk buku yang satu ini aku tidak mampu berujar panjang, sebab tulisanku tidak mampu menggambarkan indahnya buku ini, ulasanku tak cukup mampu mendeskripsikan tulisan yang sangat tertata dari bait setiap penulis dalam buku ini, jika telah ada lampu buat apa lagi sinar lilin, jika telah ada penulis handal menceritakan tentang hamka, maka buat apalagi aku bercerita. Sungguh mereka adalah para penulis yang sangat luar biasa. 

 

Tugasku saat ini hanya mengajak para pembaca resensi ini untuk membacanya segera, tidak ada kekurangan buku ini kecuali satu. Tulisan bercetak kapital besar yang terekam di lembar pertama setelah covernya kubuka “DILARANG MENGUTIP ISINYA TANPA IZIN DARI PENERBIT”

 

Sungguh betapa sungkannya Aku mengutip harta karun ini untuk memunculkannya di atas permukaan lewat catatan ini, ada sedikit rasa ragu jika harta karun ini diangkat ke permukaan, dapat menjadi kutukan bagi penulis, sama seperti yang diterima Barbossa dan krunya yang mengangkat koin Aztec milik keluarga Turner, akibat kutukan tersebut, merekapun berubah menjadi makhluk setengah abadi berbentuk tengkorak, menjadikannya mayat hidup, satu-satunya cara mengembalikannya adalah dengan mengembalikan koin tersebut ke dalam peti di dasar, dengan setetes darah dari orang yang menggunakan harta tersebut. Dengan demikian kehidupan merekapun akan kembali kepada sedia kala. Hehehe…. Jadi melebar ke Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl, pula ya, hehehe… 

 

Jauh dari pada itu dari lubuk hati terdalam, dengan sangat sopan kukatakan inilah termasuk karya luar biasa itu, dengan segala ta’zimku mengatakan ini adalah harta karun mahal yang harus dibaca berulang-ulang. Dengan penuh rasa menggebu saran peresensi ini, bacalah buku ini, dan nikmatilah… Kamu akan menikmati hari-harimu hidup bersama para pujangga, ulama, tokoh, orang-orang terkemuka yang hidup semasa kehidupan Buya Hamka.


**

Judul Buku      : Kenang-Kenangan 70 tahun Buya Hamka

Penulis             : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit          : Yayasan Nurul Islam

Cetakan           : Pertama, 1978

Tebal               : 288 hlm

ISBN                : -

Genre              : Kompilasi

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I


**

 

Saturday, February 5, 2022

3 In 1 Dalam Islam


**

“Jangan sampai miliu masyarakat yang adil sampai basi dan bobrok oleh karena perubahan zaman. Masyarakat senantiasa berkembang. Dasar tetap dipegagang, tetapi perkembangan masyarakat tidaklah boleh dipungkiri”

[Buya Hamka]

**

 

Dalam catatan ini, yang menjadi 3 in 1 adalah: Tiga pembahasan dasar tentang seni kepemimpinan dalam Islam, seni keagamaan menjadi perekat umat, serta ekonomi dan politik yang sejahtera. Menjadi satu dalam buku ini, menjadi sebuah Pedoman Hidup Umat Islam kearah yang lebih maju menurut versi Buya Hamka. Lebih jelas untuk penjelasan 3 hal berikut adalah dalam setiap untaian resensi berikut, kiranya dapat menjadi inspirasi dan tambahan perebendaharaan kemajuan dalam setiap kepemimpinan dan pemerintahan para masyaikh keseluruhan. Wallahu musta’aan.

 

 

1.     Seni Kepemimpinan Dalam Islam.

 

Filsafat ajaran Khalifatullah inilah yang menumbuhkan keyakinan dalam hati kaum Muslimin bahwa urusan negara dengan agama tidaklah pernah terpisah.

 

Dalam surah an-Nuur ayat 55 menerangkan bahwa Allah swt berfirman: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah DIa ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 55)

 

Beranjak untuk memahami isi buku ini, perlu kita membaca pengantar buku, pengatar penerbit dan bahkan pengantar penulis, agar tahu apa sebenarnya tujuan melahirkan karya yang saat ini ada digenggaman kita.

Tercatat disana bahwa sesudah perang dunia kedua, muncul 2 kubu yaitu kubu sosialisme dan kubu kapitaslime. Keduanya saling menarik dan open mindset agar kaum muslimin berpihak pada mereka. Dari sini kita paham bahwa penyakit umat Islam saat ini bukan penyakit baru tapi adalah penyakit lama yang telah masuk dalam tubuh muslim beratus tahun yang lalu. Untuk itu tidak heran kini umat muslim dipenuhi dengan penyakit liberalisme, komunisme, faszisme, sosialisme, kapitalisme, dan beragam paham lainnya sudah silih berganti berusaha mengatur kehidupan manusia, perekonomian khususnya. Namun, semua paham itu adalah paham ciptaan manusia yang hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Satu paham digantikan oleh paham yang lain. Tidak tetap dan tergantikan. Begitulah melodinya.

 

Jauh sebelum paham-paham tersebut muncul, Islam sudah mengatur sedemikian rupa, serapi dan seteratur lebih dari yang dapat dibayangkan. Islam mengatur hak-hak ekonomi perseorangan juga masyarakat pada umumnya serta peran negara dan pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial. Selain itu, Islam juga mengatur pintu masuk sumber harta dan pintu keluar kearah mana harta itu disalurkan.

 

Tercipta masyarakat yang adil lewat keadilan sosial dan pemerintahan yang teratur, untuk menciptakan negara yan adil dan makmur.

 

2.     Seni Keagamaan Menjadi Perekat Umat

 

Pada halaman 18 buya menerangkan tentang kejadian manusia perdalam yang akan memimpin dunia. Kuntu kanzan makhfiyah adalah Aku perbendaharaan yang tersembunyi. Maka manusia sekian sehari, setahun seratus ribuan tahun, yang membongkar perbendaharaan itu.

 

Sebelum mendirikan suatu pemerintahan, selama tiga belas tahun, Nabi Muhammad lebih dahulu mematangkan ideologi di Mekah. Hal ini menjadi kesan bahwa pendirian masyarakat atau negara dimulai dari dalam, dari jiwa, dari dhamir yang bersih sehingga kesadaran bernegara bukan hanya dicat dan disemir dari luar, tetapi bermasyarakat dan bernegara timbul dari dalam.

 

Dalam Islam harta benda itu perlu. Sangat perlu. Orang Islam mesti kaya raya karena dengan kekayaan itulah dia akan dapat mempertinggi kemuliaan budinya, kebudayaannya, keagamaannya, dan pembangunannya seperti yang dahulu telah kita nyatakan: Kefakiran dan kemiskinan adalah pintu menuju kekufuran.

 

Akan tetapi dalam beberapa Ayat Al-Qur’an juga dijelaskan dengan sangat gamblang bahwa harta benda itu adalah alat, bukan tujuan. Wasilah, bukan ghayah! Tujuan yang sebenarnya adalah ingat kepada Allah, menuju ridha Allah dan menegakkan jalan Allah (Sabilillah). Jangan sampai alat dijadikan tujuan. Jangan sampai kecintaan kepada harta benda melalaikan kita dari mengingat Allah.

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun: 9)

 

 

3.     Ekonomi & Politik Yang Sejahtera

 

Urusan-urusan pemerintahan, ekonomi, sosial, kebudayaan, kecerdasan pendidikan, dan lain-lain sebagainya, dinamai al-Amr. Pengangkatan kepala negara, pemerintahan, bernama khalifah, atau Amirul Mu’minin, atau Sultan atau apa pun namanya, termasuklah kepada al-Amr. Al-Amr yang melingkungi beribu-ribu persoalan sepanjang hidup, janganlah diputuskan sendiri, tetapi musyawarahkanlah!

 

Terlalu banyak permasalahan umat menghadapi permasalahan yang silih tak berganti seputar hidup, dimana awal perseteruan kurang lebih ada pada masalah ekonomi yang kemudian membangun sudut pandang perpolitikan untuk menyelesaikannya, ada dengan praktis ekonomi maju atau dengan praktis ekonomi mandek. Antara keduanya memiliki posisi menarik untuk memutar roda kehidupan.

 

Dalam hal ini Islam hadir tidak hanya untuk mengatur kehidupan umat muslim tetapi mengatur kehidupan manusia seluruhnya. Dari setiap lini kehidupan di atur, diberikan pedoman berupa al-Qur’an dan Hadist, dan dalam praktis juga diberi patokan baik itu secara perseorangan atau keseluruhan masyarakat. pada intinya Islam adalah rahmatan lil alamaiin. Rahmat bagi seluruh alam.

 

**

 

Selain dari pada itu, dalam catatan sejarah, masih banyak lagi beberapa isi Al-Qur’an yang belum sempat direalisasikan dalam kehidupan di masyarakat.

 

Apakah sebabnya?

 

Sebabnya bukanlah karena Al-Qur’an tidak cukup isinya, melainkan perkembangan masyarakat yang belum matang untuk menerima perjalanan yang digariskan sekaligus berbarengan. Sebab yang kedua adalah kemerdekaan berpikir yang digariskan oleh Al-Qur’an. Kemerdekaan berpikir menimbulkan banyak cabang pikiran. Sehingga menjadikan manusia susah fokus, menjadi bias. Bahkan menjadi kebablasan atas kebebasan yang diberikan ini, menjadi bebas tak terarah. Maka dari itu, jika suatu masyarakat belum dapat memakai Al-Qur’an sekaligus, bukanlah berarti bahwa telaga dan sumber Al-Qur’an telah kering airnya. Syekh Muhammad Abduh, pembuka pikiran baru dalam Islam pernah mengatakan bahwa Al-Qur’an masih tetap perawan.

 

Terlebih lagi dalam susunan negara. Amat besar kebebasan yang diberikan Nabi Muhammad terhadap umat-Nya dalam menghadapi urusan perkembagan bernegara. Sabda Nabi, “Kamu lebih tahu urusan duniamu.”Adalah anak kunci yang senantiasa dapat digunakan sehingga titah al-Qur’an dapat dipakai dalam segala zaman dan segala tempat. Ketika beliau akan menemui ajalnya, beliau tidak meninggalkan satu pernyataan politik yang tidak boleh diubah. Bahkan ketika ada sahabat yang mendesak supaya meninggalkan wasiat dalam susunan pemerintahan, yang akan dapat dipedomani, beliau menggelengkan kepalanya.

 

Cuma beliau bayangkan beberapa hal yang akan kejadian. Misalnya, kamu akan bertemu dengan berbagai ragam bangsa. Kamu bertemu bangsa Parsi dengan kemegahannya dan kebudayaannya yang tinggi. Kamu akan bertemu dengan peradaban dan kebudyaaan bangsa Romawi. Suatu masa kamu akan berpecah sesamamu karena pengaruh keduniaan dan perebutan harta, keuntungan, serta pangkat. Kamu akan didesak oleh bangsa-bangsa dari kiri dan kanan. Namun, selama kamu masih berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dua pedoman yang Aku tinggalan, kamu akan selamat. Sebab itu peganglah petaruhku, jangan dilalaikan ajaran-ajaran yang Aku tinggalkan “Adhdhu ‘alaiha bin nawadjizh” gigit teguh dengan gerahammu!

 

Menurut hemat penulis, dalam buku ini buya hamka menjelaskan tentang 3 point penting, dijelaskan lebih mendalam, mendetail dan lebih spesifik. Yaitu dalam hal kepemimpinan, dimana pemimpin harus benar-benar fokus menjalankan roda kepemimpinannya dengan penuh rasa keadilan demi pertanggungjawabannya pada sang pemberi amanah. Dan Agama sebagai tolak ukur, start poin, atau inti yang harus dibela dan dipertahankan ideologinya, sebab agama adalah keterpaduan antara hidup dan matinya manusia. Sedangkan yang terakhir adalah perekenomian serta perpolitikan yang keduanya adalah alat bantu dalam proses kepemimpinan pemimpin saat sekarang ini. Ketiganya diramu apik dalam tulisan yang sangat tepat dan cepat menyentuh inti permasalahan hidup dan sekaligus memberikan pandangan baru sebagai solusi jitu bagi kaum yang membutuhkan solusi inti.

 

Hal yang menarik dan unik dari buku ini, benar-benar dia mengingatkan kita akan akan pesan Bung Karno Jas Merah, jangan lupa akan sejarah. Bagaimana seninya bernegara di Indonesia, sampai kepada sejarah kepemimpinan muslim di masa-masa keemasan dan kejayaannya ketika itu. Banyak tokoh-tokoh yang digambarkan disini seperti:…., sebenarnya sangat ingin penulis tuliskan tapi nampaknya tidak untuk kali ini, sebab disana pula daya jual penasaran yang membuat antum/antunna ingin membaca lebih lanjut,… silahkan dinikmati bukunya, boleh pinjam, tapi lebih baik beli, sebab dapat menjadi rujukan di perpustakaan peribadi sebelum Antum/Antunna terjun dalam dunia yang penuh sandiwara.

 

Semoga kita semua terjaga, semoga kita semua dilindungi Allah swt, semoga kita semua diridhoi Allah dalam setiap aktivitas dan keimanan kita. dengan bertambahnya ilmu semoga menjadikan kita bertambah kedekatan dengan Allah Azza Wajalla. Aamiin ya Rabbal’alamin.

 

 * 

Judul Buku      : Keadilan Sosial Dalam Islam

Penulis             : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit             : Gema Insani

Cetakan             : Ke-I, Jakarta, 2015

Tebal                  : viii + 208 hlm; 20,5 cm

Resensator        : Irwan Haryono S., S.Fil.I

Friday, February 4, 2022

Tuan Direktur: Buya Hamka

 

 

**

“Uang ialah barang singgah, entah ia pergi lebih dulu dari kita dan meninggalkan kita dengan tidak memiliki uang seperti orang miskin. Atau kita yang lebih dulu pergi meninggalkannya dan ia pindah ke tangan orang lain. Lalu, kita kembali ke akhirat dengan sehelai kafan. Namun, apabila kita telah kaya, biarlah ia datang dan pergi sehari sekali, duduk kita tidak akan tergoncang dan berdiri kita tidak akan condong. Sebab, hati kita telah kaya.”
[Buya Hamka]

**

Membaca novel ini, semacam tidak membaca sebuah novel, namun seperti mendengar curhatan orang terdekat; lebih terasa seperti sedang membaca realita hidup masa kini. Dengan sedemikian hiruk pikuk polanya, lingkungannya, bahkan pemikiran orang-orangnya. Ada yang terlahir miskin lalu menjadi kaya, lagaknya seperti orang terkaya di dunia, padahal yang kaya sejak lahir juga gayanya biasa saja, bahkan cenderung sederhana. Ada juga lingkungan yang awalnya begitu kondusif tetiba berubah menjadi lahan pabrikan, industry, perumahan dan lain sebagainya. Hal terpenting dari itu semua adalah kemampuan seseorang untuk menjaga diri agar tetap sehat akal, pikiran, tidak tergoda dengan bujuk rayuan dunia, sebab seluruhnya yang ada di dunia ini adalah kesementaraan semata.

 

Novel orange ini berkisah tentang seorang pemuda dari Banjar, Jazuli namanya. Mencoba peruntungannya di Surabaya. Bermodal kekerasan hati, ia berhasil memiliki hotel mewah dan toko emas juga berlian yang cukup tekenal hingga ke luar negeri. Demi mencapai posisi puncak dan mempertahankan posisinya, Jazuli yang dijuluki dengan panggilan “Tuan Direktur” rela menyingkirkan semua sahabat dan orang-orang terdekatnya. Namun malangnya ia justru mengambil orang-orang bermulut manis dan bermuka dua menjadi orang terdekatnya. Bukan untung malah buntung, ironinya tak sadar ia telah terlalu jauh salah arah dalam mengarungi perjalanan panjang kehidupan.

 

Tuan Direktur dengan hawa nafsunya mengembangkan bisnis, membawanya harus berurusan dengan Pak Yasin, seorang kakek tua pemilik tanah dan rumah sewa di daerah kumuh di pinggir kota. Segala cara dihalalkan Jazuli asalkan dia dapat memperoleh tanah Pak Yasin. Namun, ternyata Pak Yasin memiliki kekuatan yang tidak dimiliki Tuan Direktur. Orang-orang yang awalnya memihak Tuan Direktur beralih ke sisi Pak Yasin.

 

Begitu hebatnya Buya Hamka mengalirkan cerita ini dengan penuh emosi, kali ini novel Tuan Direktur ini bukanlah novel  tentang percintaan, tapi tentang perjuangan, tentang hak-hak rakyat kecil, tentang kekokohan, keberanian dalam mengatakan kebenaran dan kekompakan dalam mempertahankan kebenaran meskipun pahit. 

 

Sungguh guratan tinta yang istimewa, sangat ramah mengingatkan pembaca akan semangat berusaha demi sebuah kehidupan. Tidak sebagai bawahan yang diperintah majikan, namun sebagai sosok yang bebas menentukan arah langkahnya, sosok yang berani berjuang, sosok yang berani keluar dari zona nyaman, sosok yang berani berniaga dengan Allah swt, tidak selalu untung memang, tetap pasti ada ruginya, namun jika dilakukan dengan cara yang benar, ridha Allah akan datang sebagai rahmat untuk setiap pelangkah yang menjalankannya. Jika itu berhasil didapatkan selama hidup di dunia ini, maka itu semua sudah lebih dari cukup.

 

Kelebihan novel kecil ini, dalam ukuran mininya mampu memberikan nasehat yang singkat padat dan menghujam langsung pada pembaca. Tidak seperti dinasehati karena sang kakek berbicara dengan Tuang Direktur, namun pembaca menangkap seakan kata-kata itu nasehat kakek untuk cucunya yang saat ini sedang asik membaca kisanya.

 

Dari sini penulis ingin mengutip sedikit kutipan, yang kiranya menjadi bahan untuk pertimbangan pembaca, menilai berbobotkah atau tidak buku ini:

 

“Jika orang berlari mengejar kekayaan uang, dengan tidak sadar, orang itu telah miskin dalam perkara akhlak. Kalau orang berlari mencari sahabat yang akan mengangkat-angkat, dengan tidak sadar, iapun telah miskin sahabat yang sanggup menunjukkan budi bahasa yang baik. Kalau orang berlari mencari pergaulan di kalangan orang tinggi-tinggi, dengan sendirinya, orang itu pun kehilangan teman dikalangan orang rendah-rendah. Sesungguhnya dunia ini tidak penrah mempunyai kecukupan.”

 

Ulasan diatas refleksi betapa tak ada ujungnya dunia ini jika selalu diikuti, maka ada benarnya juga yang dikatakan Alm. Bob Sadino, Bahwa mengatakan: “Stop… Tidak usah membangun cabang lagi, stop tidak usah memperbesar jaringan bisnis lagi.” Adalah keputusan berat, yang itu juga menggambarkan dari seni entrepreneur sejati yang mampu memutuskan apa yang sedang berjalan, dan kapan harus berhenti, meskipun resikonya akan rugi, meskipun banyaknya tawaran yang harus ditolak, namun jika dikatakan berhenti ya berhenti. Disini adalah seni untuk menjadikan dunia itu sebagai alat, dunia sebagai genggaman, dunia sebagai mainan, bukan dunia yang mempermainkan kita.

 

Mak nyeledup… Masuk ke hati bah,.. dari sini, mulai kerasa daging dari buku inikan?

Selain dari pada petikan di atas, ada juga petikan momen  seorang kakek menasehati cucu sematawayangnya, yaitu:

“Kerapkali yang menyusahkan hidup orang sekarang sehingga menjadi miskin ialah lantaran menjadikan rumah tangganya seperti museum barang-barang yang tidak berguna.” Sebuah nasehat singkat untuk berhemat dalam keluarga, sebab Aminahlah yang bakalan menjadi bendahara dalam keluarga.

 

Selain itu Aminah dididiknya menjadi seorang perempuan yang tidak kaku dalam hidup meskipun ia adalah sosok wanita muda malang yang sudah piatu sejak lahir dan yatim beberapa tahun kemudian setelah lahir. Namun kakeknya adalah sosok tegar yang berkharisma. Dengan sedapa upayanya segala kepandaian tangan yang sesuai untuk kaum perempuan diajarkannya atau disuruhnya perempuan lain mengajarkan pada cucunya tersebut.

 

Samar-samar dari balik setiap aktivitasnya Aminah, Fauzi pun telah tertarik oleh Perangai dan kesopanannya Aminah, sepenuhnya Fauzi telah menarik hatinya dari berlayar dilautan Samudra, kini dia lebih pilih untuk menepi pada satu dermaga. Benar, dia jatuh cinta kepada anak perempuan itu. 

 

Kisah novel luar biasa, dibalik alur yang terus melaju serius, oleh Buya Hamka dapat diselipkan sedikit kisah cinta yang hanya menjadi pengharum ruang baca. Menurutku novel ini sangat indah bahasanya, dan sangat dinamis alurnya. Untuk itu tanpa ragu, Aku rekomendasikan buat kamu para pembaca yang sangat merindukan novel yang berkualitas agar dapat segera membaca novel ini.

 

Namun sebagaimana kata pepatah, tiada gading yang tak retak, maka untuk itu kekurangan dalam novel ini menurutku adalah: Tidak ada kata putus dari perjalanan Tuan Direktur yang kian gelap itu, padahal sebagai seorang pembaca butuh kepastian bagaimanakah keadaan Tuan Direktur yang telah berobat ke doctor dan disarankan merilekskan pikirannya terlebih dahulu, padahal dari judulnya Tuan Direktur, maka sejelas itu juga saya selaku pembaca ingin mengetahui akhir kehidupan tuan direktur.

 

Selanjutnya, silahkan membaca kawan, jangan tunggu esok, tapi sekarang! Jangan tunggu kapan kosong, tapi sekarang! Jika hari ini ilmu baru bisa kamu dapatkan, jangan tunda ke besok, karena boleh jadi besok kamu sudah tidak menerima kesempatan yang sama!

 

**

Judul Buku      : Tuan Direktur

Penulis             : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit          : Gema Insani

Cetakan           : pertama, Sya’ban 1438 H/ Mei 2017 M

Tebal               : viii + 140 hlm; 18,3 cm

ISBN                : 978-602-250-389-7

Genre              : Sastra

Harga              : Rp. 

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I


**

 

 

 

 

Thursday, February 3, 2022

Hidup Ini Adalah Kesempatan


Pagi ini, Kamis, 03.02.2022. Aku sarapan di sebuah warung kecil, sering kami sebut warung nenek aceh. Sebuah warung yang menyediakan sarapan pagi, seperti kue-kue, lontong sayur, lontong pecel, nasi gurih, dan aneka sarapan lainnya. Namun ada yang beda tuk pagi ini tidak seperti biasanya. 

Ada seorang lelaki sedang mengobrol dengan seorang kakek tepat di meja  belakangku; karena suara pembicaraan mereka kuat, Aku yang tak jauh dari mereka terpaksa ikut menyimak pembicaraan yang sangat antusias tersebut, dan semakin lama Aku dengarkan, Aku terkesima, Aku tertarik, dengan itu Aku tuliskanlah catatan singkat ini. 

 

Dari kesimpulan itu Aku mendapatkan 1 ilmu baru bahwa kesabaran itu ternyata bertingkat. Tingkatan pertama adalah kesabaran itu sendiri, tingkat kedua adalah keikhlasan, dan tingkatan ketiga, merupakan tingkatan paling tingginya adalah menghadirkan rasa syukur di setiap keadaan dan kejadian. Bagaimana penjelasannya, akan Aku jelaskan apa yang Aku dengar dengan pengembangan menurut pandanganku.

 

Pertama: Kesabaran. Dalam banyak kasus sabar sering dimaknai dengan dua pengertian umum ‘patience’ dan ‘persistence’. Menurut Iqbal Hariadi (seorang podcaster). ‘Patience’ adalah sabar menunggu sesuatu sampai waktunya tiba, menunggu kapan momen itu datang. Sedangkan ‘persistence’ adalah sabar konsisten melakukan sesuatu sesuai target yang kita inginkan. Karena menurut Iqbal suatu hal yang baik datang di waktu yang tepat. Begitu prinsipnya. Maka dari itu menanamkan kesabaran untuk terus berproses menjadi lebih baik, dari waktu ke waktu dalam menjalani ujian dan cobaan, adalah sabar dalam wujud tahapan pertama.

 

Kedua: Keikhlasan. Banyak orang tidak cukup sabar untuk menghadapi masalah dan menjalani musibah, cenderung mengeluh tak henti-henti, hingga orang sekitar merasa kasihan dengannya, merasa iba dengannya, padahal tidak seperti itu mestinya. Seorang sahabat lama pernah menasehatiku yang nasehat itu juga datang dari ayahnya. "Kalau berpakaian biasa saja tidak mesti mahal, yang penting rapi; sehingga pada saat kita ada atau tidak ada uang, orang tidak mengerti dan juga tidak perlu tahu untuk itu.” Aku sadur dari sana kata-katanya untuk mengungkapkan kata ini: "Jika sedang bahagia biasa saja, jika sedang bersedih biasa saja, orang tidak mesti tahu kapan kamu berbahagia dan kapan kamu bersedih, sebab hakikat kenyamanan hidup adalah saat kamu nyaman menjalani hidupmu sesuai dengan aturan yang kamu buat sendiri, dengan tidak melanggar hak-hak orang lain dan kewajibanmu pada yang lainnya."

 

Semua itu menurutku adalah alur dari sandiwara bumi yang setiap saat silih berganti antara satu personil ke personil berikutnya. Maka jika kamu merasa bersabar saja tidak cukup untuk bisa bertahan dalam posisi sehat akal, jasmani dan rohani; maka ikhlaskanlah semuanya. Ikhlaskanlah semua yang telah terjadi, ikhlaskanlah masa lalu, ikhlaskanlah semua yang telah kamu hadapi, apakah itu musibah ataukah itu ujian, sebab dengan mengikhlaskan itu, kamu jadi lebih mawas diri bahwa kamu adalah manusia biasa. Tidak mampu berbuat apa-apa jika yang Maha Kuasa tidak ridho akan itu semua. Ikhlaskanlah karena Allah, niscaya akan digantikan-Nya sesuai dengan yang kamu butuhkan. Apakah kebutuhan itu kebetulan adalah hal yang kamu inginkan atau malah sebaliknya, namun percayalah Allah tahu mana yang terbaik buat kehidupan hamba-Nya. Wallahu’alam.

 

Ketiga: Kesyukuran. Dalam tahap ketiga ini adalah tahapan terakhir, yaitu tahapan kesyukuran. Yaitu dengan menghadirkan rasa syukur di setiap keadaan dan kejadian. Jika sabar diproses pertama sudah dilewati tapi masih berat, maka naik tingkatlah untuk mengikhlaskan, yang itu merupakan proses kedua dari tahapan bersabar. Jika kedua tahapan itupun juga tidak mampu menentramkan hati, masih terasa lebih berat, maka bersabarlah dengan mengucapkan “Alhamdulillah” dalam setiap apapun hal yang kamu anggap buruk atau tidak baik dalam dirimu. Agaknya bertolak belakang dengan logika, namun memang begitu aturan mainnya, dasarnya adalah: “Kalau kita bersyukur pada nikmat Allah, benar-benar akan ditambahkan Allah nikmat tersebut, namun apabila kita kufur maka azab Allah sangat pedih.”

 

Dengan ketidaktahuanmu atau dengan pengetahuanmu bersyukurlah, maka Allah akan memberikanmu hal yang lebih dari yang kamu pinta dan kamu inginkan, itu sudah janji Allah, dan Allah tidak pernah ingkar janji; yang ketiga ini adalah upaya terakhir dari gawang kesabaran, tidak mampu menahan, tidak mampu diikhlaskan, maka syukurilah, sebab pahitpun yang kamu rasakan; itu adalah nikmat yang hanya diberikan-Nya kepadamu; yang lain belum tentu mampu, yang lain belum tentu kuat, kamu adalah orang terpilih itu. Maka bersyukurlah, Allah swt masih mempercayaimu untuk hak itu. Selanjutnya "wait and see" Allah yang akan menunjukkan keajaibannya. Wallahua'alam.

 

Terima kasih kepada bapak dan kakek yang sudah mengobrol saling nasehat-menasehati dibelakangku, Aku menjadi terinspirasi untuk menulis tulisan ini, selain untukku pribadi, semoga catatan ini juga bermanfaat untuk orang lain. Aamiin Ya Rab.

 

Wednesday, February 2, 2022

Miliki 3 Aset Ini Maka Uang Akan Mengejarmu.

  

Sebenarnya untuk mencapai kesuksesan itu ada polanya. Sama seperti belajar membaca ada caranya, belajar menyetir mobil ada tahapannya, belajar memasak ada tingkatannya, maka untuk itu dalam catatan singkat ini, sedikit menginformasikan kepada para pembaca, jika Anda memiliki 3 aset ini maka bukan Anda yang mengejar uang, akan tetapi uang yang akan mengejar Anda.

1. Mengeluarkan uang untuk otak sendiri adalah investasi paling aman.

Kalau menghadapi kesulitan, selalu ingatlah tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajar bisa dengan mengikuti secara langsung, bisa juga lewat pengalaman dan kisah orang lain. Dan  alat paling mutakhir untuk mampu mencerna suatu hal menjadi pelajaran yang berharga untuk diambil hikmahnya adalah otak, akal, pikiran, hati, dan Kesehatan diri, maka jangan ragulah saat berinvestasi untuk komponen kemajuan diri itu. Karena sampai pada kondisi termiskin sekalipun tetap otak dan dirimu adalah harta termahal yang kamu miliki dan mampu menciptakan keajaiban-keajaiban yang lainnya lagi. Tidak hanya kekayaan harta lebih dari pada itu, bisa dihasilkan oleh otak yang luar biasa.

 

2. Keluarkan uang untuk berbakti.


Semiskin apapun dirimu, sesusah apapun kehidupanmu, sesempit apapun posisimu saat ini, tetap harus mengeluarkan uang untuk baktimu pada orangtuamu, walaupun mereka tidak butuh, walaupun mereka banyak uang, walaupun mereka hidup dengan berkelimpahan, tetap hal ini harus dikeluarkan setiap bulannya secara rutin. Sebab ini adalah satu bukti baktimu pada orang tuamu. 

 

Berbakti pada orang tua itu ibarat restu alami. Dengan restu jalanmu akan menjadi lapang dan lurus. Dapat dilihat dari beragam macam bentuk relasi; biasanya yang baik hubungannya kepada orang tuanya, akan meningkatkan kekuatan restu pada setiap usaha mereka. Berlaku juga sebaliknya, seseorang kalau tidak memiliki restu orang tua, seumur hidup tidak akan lancar dalam mengerjakan apapun. Maka berbaktilah setiap saat, kapanpun itu.

 

 

3. Keluarkan uang untuk beramal.

 

Di dunia ini, selamanya pasti ada orang yang lebih kurang beruntung dari kita. Karenanya peliharalah kebiasaan untuk beramal. Sebab dengan begitu uang akan berputar, sesuai dengan prinsip dasarnya uang. Diputar akan semakin bertambah, tidak diputar akan habis tak tahu ke mana arahnya.

 

Perputaran uang dalam amal akan memberikan kebermanfaatan dan kemajuan. Hentikan tradisi membuat uang hanya berhenti di dirimu sendiri, mulailah memutarkannya dengan cara memberikannya kepada orang yang pernah membantumu, orang yang mendukungmu, orang yang berada di balik layar kemajuanmu, sebab tanpa mereka kamu bukanlah siapa-siapa.

 

Pada akhirnya, amal terbesar membuatmu untung tak pernah rugi adalah ketika kamu melakukan pekerjaan yang baik dengan rasa syukur yang luar biasa. Dan Amal besar satu tingkat di atasnya lagi adalah senyuman dan kesabaranmu terhadap orang yang menyakitimu. dan itu berat pastinya, tapi kamu mampu. :)

 

Disarikan dari youtube dengan judul: UANG MISTERIUS || SEMAKIN HABIS, SEMAKIN KAYA, dapat diakses lewat clik judul di atas atau vidio  berikut:


Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.