Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Thursday, February 17, 2022

Seimbangkanlah Hidupmu; Maka Kau Akan Bahagia


**

“Apabila seseorang telah bersyahadat  dengan kalimat tauhid, maka baginya pantang menundukkan muka kepada yang selain Allah.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Dalam buku ini, Buya Hamka menegaskan bahwa pertanda kosongnya jiwa serta binasanya hati yaitu ketika seorang Muslim sekadar mengaku beriman tapi ia enggan dan lalai mengerjakan amal-amal saleh secara berkelanjutan. Padahal untuk menyeimbangkan hidup sesuai tuntunan Islam maka harus ada keterpaduan (keharmonisan) antara iman dan amal saleh. Artinya, seorang Muslim tidak cukup saja mengaku beriman, tapi ia juga harus kontinu melaksanakan dan menggiatkan ibadah dan amal-amal salehnya. Dengan begitu, maka keimanan seorang Muslim bisa dikatakan telah sempurna. Sebab, Islam adalah agama yang syamil, sempurna. Agama yang sesuai dengan fitrah manusia, harmonis, dan tidak memberatkan manusia.

 

Karya emas Buya Hamka ini, memberikan deskripsi dan perspektif bagaimana seharusnya menempatkan porsi iman dan amal saleh secara tepat sesuai tuntunan syariat. Sehingga ketika mengerjakan perintah agama, merasa tenang hatinya, itulah tandanya hati itu baik. Dan hati bisa tenang adalah gambaran keimanan yang kokoh, telah berdiri pada pilar yang seharusnya.

 

Dalam hal ini  dengan tegas IbnuTaimiyah di dalam fatwa-fatwanya menegaskan tentang arti iman.

 

الإِيْمَانُ عَقِيْدَةٌ وَعَمَلٌ فَهُوَ إِذًا يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

 

“Iman ialah aqidah dan amal. Sebab itu ia bertambah atau susut.”

 

Tafsiran dari fatwa di atas adalah situasi bertambah banyaknya amal dan atau mungkin semakin menyusut ada alunannya. Namun bagaimanapun amal itu tetap ada. Misalnya, satu waktu amalnya naik , sehingga shalat lima waktu ditambahnya dengan rawatib, tahajud, shalat sunnah, dhuha dan lain-lain. Sedangkan gambaran keimanan menyusut tidak mengerjakan apapun ibadah tambahan kecual yang wajib lima waktu itu saja. Namun kalau sudah ditinggalkannya shalat lima waktu itu, walaupun satu waktu dengan sengaja nisacaya bukan mukmin lagi! Tegas Buya Hamka menjelaskan hal ini.

 

Luar biasanya buku ini menceritakan banyak hal yang telah menjadi rutinitas tapi seketika dikupas apa inti dari semua yang dikerjakan sehingga tambah jernih hati dan pikiran untuk menatap hidayah dan cahaya.

 

Pernahkah terpikirkan oleh kita apakah filosofi dari berwudhu’ sebelum shalat?


Imam Ghazali, ahli falsafah dan tasawuf Islam yang amat terkenal itu melukiskan hikmah wudhu yang amat menarik hati. Bagaimana hikmah yang terkandung dalam membasuh muka, kedua tangan, menyapu kepala, dan membasuh kaki. Dibaginya wudhu itu kepada tiga bagian. Pertama, Membasuh anggota wudhu dari kotoran karena pekerjaan kita yang sibuk setiap hari mungkin dihinggapi najis-najis. Kedua, lalu ia masuk ke dalamnya lagi, yaitu membasuh muka. Siapa tahu entah tadi terlihat, terdengar atau terhirup oleh hidung daki-daki dosa yang merusak iman kita. Demikian juga membasuh tangan, entah terjamah dan terpegang barang yang tidak diridhai Allah, entah kepala ini telah penuh dengan panas dan hawa duniawi yang kacau balau, entah mengacau pikiran isi-isi koran dan majalah yang bersimpang siur, sehingga perlulah kepala disapu dengan air supaya dingin. Membasuh kaki, entah terlangkah kepada yang mengganggu jiwa. Akhirnya pada tingkat ketiga, beliau katakan bahwasannya yang menjadi inti dari wudhu ialah membersihkan hati dari pada segala kotoran, dosa besar dan dosa kecil, dan menegakkan ilahi dalam jiwa, tidak bercampur dengan ingatan yang lain.

 

Maka tepat sekali kiranya shalat itu, salah satu manfaatnya dapat memelihara dan memupuk jiwa, supaya jangan sampai sakit, karena hebatnya perjuangan akal batin dengan akal lahir.

 

وَاسْتَعِنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَوةُ، وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الخشِعِيْنَ (٤٥)

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (al-Baqarah: 45)

 

Khusyu artinya mengakui kekuasaan Allah dan tunduk kepada-Nya. Bila pengakuan telah ada kepada-Nya, tidaklah ada yang berat lagi. Semuanya menjadi ringan. Oleh sebab itu, alat penguji kemurnianan batin yang paling praktikal ialah shalat.

 

Sesuai dengan judulnya, Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, dalam buku ini Buya Hamka menitik beratkan pembahasan pada kesesuaian antara iman seseorang dengan amal salehnya sebagai aplikasi dari keimanan. Seseorang yang mengaku beriman, tetapi tidak melakukan ibadah dan amal saleh maka diragukan keimanannya.

 

Masih banyak analogi lebih mendalam, anasir-anasir lebih gamblang, dan penjelasan-penjelasan yang lebih mendetail dari sekedar yang tersurat di atas ini, untuk itu menurut saya, bagi para pembaca budiman dapat menjadikan buku ini termasuk daftar list yang harus dibaca berulang-ulang, sebab buku ini memiliki keajaiban-keajaiban sendiri, semakin dibaca, ada saja hal baru yang di dapatkan, seakan magnet yang membuat hati semakin lengket untuk terus mengkajinya ulang, agaknya seirama dengan jawaban Socrates ketika ditanyai tentang bagaimana kesannya ketika menuntut bergai ilmu pengetahuan. Jawaban kesannya adalah “suatu posisi dimana yang dapat saya ketahui, bahwa saya tidak tahu” juga sama seperti jawaban Imam Syafi’I “Tiap-tiap bertambah ilmuku, bertambah pulalah aku insaf bahwa aku tidak tahu.”

 

Semoga terinspirasi, Selamat membaca J

 

 

 

**

Judul Buku      : Kesepaduan Iman Dan Amal Saleh

Penulis                        : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Jumadil Awwal 1437 H/Februari 2016 M

Tebal               : xiv + 190 hlm; 20,5 cm

ISBN                : 978-602-250-290-6

Genre              : Umum

Harga              : Rp. 50.000,-

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

 

 

Wednesday, February 16, 2022

Percaya Kepada Allah; Lalu Pegang Teguhlah Pendirian Itu

**

“Jangan banyak duka cita,

Apa yang telah ditentukan itulah yang tejadi.

Yang untuk orang lain tidaklah sampai kepadamu.

Apa yang untukmu mestilah kamu capai,

Ingat saja tuhanmu, dan terimalah bagianmu dalam mencari hakikat dan dalam memelihara syari’at”


[Prof. Dr. Hamka]

**

Buku Pandangan Hidup Muslim ini berisi tentang perenungan yang membawa pencerahan bagi hati dan jiwa setiap Muslim tentang pandangan hidupnya, atau konsep hidupnya. Sudahkah setiap muslim benar-benar telah menjadikan Islam sebagai pandangan hidup atau sebagai pedoman hidup?

 

Melalui pembahasan-pembahasan yang disampaikan, kiranya Prof. Dr. Hamka hendak mengingatkan setiap Muslim bahwa hendaknya setiap Muslim telah memiliki pandangan hidup yang benar sehingga dapat menempatkan segala sesuatu di dunia ini dengan benar pula menurut pandangan Allah, baik meliputi persoalan-persoalan sesama manusia, maupun hubungannya dengan Sang Pencipta sebab telah terbukti bahwa seluas-luasnya pikir manusia, ia akan sampai pada titik keterbatasannya. Sehat-hebatnya manusia, ia mati pula meninggalkan segala yang dibanggakannya.

 

Maka rasa takut dan dukacita adalah dua hal yang menjadi penghalang besar dalam kemajuan hidup. Itulah duri dan itulah pula batu penarung. Oleh karena itu Allah swt berfirman yang artinya:

 

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ lalu mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Jangalah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (Fushshilat: 30)

 

 

آمَنْتُ باِللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Aku percaya kepada Allah, lalu pegang teguhlah pendirian itu!”

 

Tatkala pujangga, alim, filsuf, dan pemimpin Islam yang terkenal, Haji Agoes Salim masih hidup, ia pakai kata-kata ini menjadi lambang pada stempelnya, lambang pada cap surat-suratnya. Pada pintu rumahnya di Jalan Theresia, dahulunya, atau jalan Haji Agoes Salim yang sekarang, terpampang juga kalimat itu dalam bentuk yang lebih besar.

 

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

 

“Katakanlah! Aku percaya kepada Allah dan lalu pegang teguhlah pendirian itu.”

 

Dengan itulah, kita hadapi segala persoalan di dalam hidup ini. Dengan itu, kita kibarkan panji kita. kalimat itulah yang terlukis pada-Nya, dan dengan pendirian itu kita hidup di tengah-tengah masyarakat. Dengan itu, kita jiwai seluruh kebudayaan dalam segala macam seginya. Dengan itu pula, kita mencari pengetahuan dalam segala macam cabangnya.

 

Itulah pangkalan tempat kita bertolak. Itulah Pelabuhan terakhir tempat bahtera kita berlabuh.

 

Pandangan hidup adalah konsep yang dimiliki seseorang atau golongan masyarakat dalam menanggapi dan menerangkan segala masalah di dunia ini. Dengan demikian, pandangan hidup seorang Muslim harus mengacu pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan didahului oleh semangat tauhid, yaitu meng-Esa-kan Allah dan menghambakan diri hanya kepada Allah swt.

 

Dengan tauhidullah dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah itulah segala persoalan hidup dihadapi oleh seorang Muslim. Hal ini tercermin dalam pendirian seorang Muslim ketika hidup di tengah-tengah masyarakat, tercermin dalam kebudayaan yang tercipta, dan dalam usahanya mencari pengetahuan seluas-luasnya.

 

Sebelum akhir, ining kami jelaskan bahwa buku  Pandangan Hidup Muslim yang sangat luar biasa ini, berasal dari tulisan-tulisan Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam rubrik majalah Panji Masyarakat yang terbit di bawah pimpinan Ia sendiri di Jakarta, sejak Juni 1959 sampai September 1960. Ditambah dengan beberapa artikel lain yang terdapat di dalam majalah ini juga dan dalam majalah lain.

 

Penerbit buku ini, sengaja menyusun ulang dan menerbitkannya menjadi sebuah buku; bertujuan tidak saja untuk memenuhi permintaan yang sangat banyak mengalir kepada pangarang, tetapi juga mengingat isinya yang memang sangat berfaedah, terutama sekali bagi pembangunan ruhani bangsa kita, yang dewasa ini, sama kita rasakan sangat memerlukannya, disebabkan banyak yang kehilangan pegangan dan landasan tempatnya berpijak.

 

Sedikit yang agaknya menjadi catatan, kiranya buku ini tidak sekedar menjadi bahan bacaan, namun seyogyanya menjadi awal tonggak perubahan bangsa, dan sebaik-baik perubahan adalah yang dimulai dari perubahan pemudanya. Jadi sangat luar biasa kiranya jika buku ini dapat menjadi kajian bagi para mahasiswa-mahasiswa muslim, agar terang jalan mereka, agar lurus langkah kaki mereka, agar tidak ada ragu dalam mengambil keputusan nan kokoh imannya.

 

Hampir tak dapat saya melihat sisi kurang dari buku ini, menggambarkan betapa kurangnya saya akan panduan menjalani hidup, mendapatkan buku ini seperti mendapatkan jalur air bersih yang mengalir, hilang dahaga seketika, bahkan masih  mengalir air bersihnya, lewat tulisan inilah saya kabarkan pada pembaca, ini adalah aliran sungai kehidupan, minum airnya agar dapat menyambung hidup dengan cara yang benar. 

 

Akhir kata semoga terinspirasi dan selamat membaca.

 

**

Judul Buku      : Pandangan Hidup Muslim

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Rabi’ul Akhir 1437 H/Februari 2016 M

Tebal               : xii + 268 hlm; 23 cm

ISBN                : 978-602-250-296-8

Genre              : Akhlak

Harga              : Rp. -

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

Tuesday, February 15, 2022

Di Dalam Lembah Kehidupan: Novel Hamka

**

“Apabila perasaan cinta telah bersemi, tidak ada makhluk yang sanggup menghalanginya karena cinta ialah perasaan hati yang merdeka dan bebas.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Di Dalam Lembah Kehidupan adalah kumpulan air mata, kesedihan dan rintihan yang diderita oleh segolongan manusia di muka bumi ini. Air mata mereka itu sudah sampai masa penghasbisan, telah mengalir ke tanah, dan hilang lenyap dalam pasir. Orang lain tidak akan peduli terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang akan peduli sebab orang-orang sedang dirintangi oleh kesenangan dan kemewahan!

 

Di Dalam Lembah kehidupan adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Buya Hamka pada tahun 1930-1940-an. Dalam buku ini terdapat dua belas cerita pendek yang berkisah tentang roda kehidupan manusia yang terus berputar. Yang tidak selamanya menempatkan manusia pada posisi di atas, tetapi juga di bawah. Yang terkadang memposisikan manusia pada suasana keberuntungan dan kebahagiaan, juga kesusahan dan kesedihan. Yang tidak setiap waktu memberikan manusia harapan sesuai yang diinginkan. Buya Hamka dalam kumpulan cerita pendek ini menyoroti kehidupan manusia ketika roda kehidupan membawanya ke kondisi menyedihkan.

 

Dari kumpulan cerita pendek ini, salah satunya yang dapat kita maknai, yakni bahwa masih ada kehidupan orang-orang nyang jauh dari sorot lampu panggung kehidupan, yang jarang diketahui orang, dan ternyata mereka menyimpan kepiluan dan kesedihan yang mendalam karena berbagai kesusahan dan cobaan hidup. Kita juga diajak untuk lebih bersyukur atas nikmat hidup yang diberikan Allah swt kepada kita dan kita dapat lebih berempati kepada saudara-saudara kita yang sedang mendapat ujian hidup berupa kesengsaraan, kekurangan, dan kelemahan hidup.

 

Sesungguhnya kumpulan cerita pendek yang diberikan judul Di Dalam Lembah Kehidupan ini adalah kumpulan air mata kesedihan dan rintihan yang diderita golongan manusia di muka bumi ini. Air mata mereka sudah jatuh, mengalir ke tanah, dan lenyap dalam pasir. Dalam lembah dan jurang kehidupan ada sekumpulan makhluk yang merintih. Saya datang ke sana sebab memang saya tinggal di sana. Saya lihat air mata jatuh, saya lihat air mata itu diiringi oleh darah. Karena itu, saya susunlah penderitaan itu jadi gubahan untuk bangsa dan nusa saya, sambil berkhidmat kepada bahasa ibu saya. Dari sini saya ketahui betul tidak sedikit makhluk yang kecewa dan melarat, yang sudah patah sayapnya sebelum terkembang, tergari dan jatuh sehingga tidak dapat bangkit lagi. Ungkap Buya Hamka dengan penuh kesadaran diri.

 

Padahal di dalam lembah yang sangat dalam, di dalam jurang yang tidak ditempuh itu, yaitu dalam lembah dan jurang kehidupan, ada sekumpulan manusia yang merintih. Tidak banyak orang yang mendengar rintihan itu dan tidak tahu.

 

Berharap terbangun kesadaran bahwa di balik kehidupan ini ada manusia-manusia yang kesusahan dan kesulitan menghadapi situasi dan kondisi kehidupan. Manusia-manusia yang sudah patah sayapnya, bahkan sebelum mereka belajar terbang, lalu terkulai, dan jatuh. Berharap perlindungan dan pertolongan Allah swt untuk senantiasa menguatkan mereka.

 

Ciri khas bahasa sumatera barat yang indah, sangat terkam betul dalam catatan ini, pengikat rasa tulisan, bumbu dan penyedap rasa novel ini dari novel-novel yang lainnya.

 

Dari dua belas cerita pendek yang tertulis dalam buku ini, aku tertarik dengan judul ke enam berjudul Gadis Basanai (Hikayat Lama di Salida). Sekelumit akan ku kutip dan kusajikan kepada pembaca, kiranya menjadi barometer untuk menikmati beragam cerita pendek selanjutnya.

 

Singkat cerita..

 

Basanai tumbuh menjadi penyemangat rumah besar itu. Basanai tumbuh menjadi cantik jelita dan menjadi penghibur hati mamak dan mentua (istri mamaknya). Setelah cukup usianya 16 tahun, mulai pemuda berdatangan,  enam kali pemuda datang, enam orang bujang berganti, semuanya ditolak.

 

Namun, dari semua permintaan pinangan orang lain, ada seorang yang telah menanamkan cinta di dalam hatinya terhadap Basanai. Cinta yang membukakan harapan di zaman yang akan datang. Cinta tidak membeda-bedakan derajat. Orang itu ialah Asam Sudin sendiri. Adapun Basanai tidak tahu bahwa saudara sepupunya itu menaruh cinta padanya.


“Apabila perasaan cinta telah bersemi, tidak ada makhluk yang sanggup menghalanginya karena cinta ialah perasaan hati yang merdeka dan bebas.”

 

Asam Sudin tahu pula, jika sekiranya dia hendak meminta suatu tanda mata kepada Basanai, saat ia meninggalkan daratan, mulai bermuara berhari-hari, bahkan berbulan-bulan ditengah gelombang lautan yang tak tentu arah. Pasti tidak akan diberinya. Sebab itu disimpan saja rambut itu untuk dijadikan azimat dan obat jernih pelerai demam. 

 

Rambut itu digulungnya baik-baik, dimasukkan ke dalam puan ibunya. Setelah itu, dibungkusnya dengan ikat kepala putih. Apabila tengah malam dan bulan terang-benderang, kerap kali dia berdiri ke tepi pantai, melihat ombak memecah karang dan angin laut berembus. Lalu dikeluarkan puan tersebut dari sakunya dan ditangisinya,

 

Anak gagak dilesung cinta 

Makan berulang ke perahu

Hati hendak bagiakan bahagia

Tapi membilang tidak tahu.

 

**

Sampai tibalah waktu berlayar Asam Sudin berkata, “Ibuku, belum tentu Ananda akan kembali pulang, tidak dapat ditentukan kehendak Allah. Kalau untung baik, selamat Ananda pulang pergi. Kalau kehendak takdir telah tersurat, entah hilang Ananda di laut lepas, entah ditelan ombak tujuh, kehendak Allah siapa tahu?”

 

Hanya sedikit Ananda meninggalkan pesan jaga wasiat ini erat-erat. Di atas kepala pintu yang menghadap ke laut, Ananda letakkan sebuah puan perak terbungkus kain putih. Di dekat puan itu ada pula sebuah cermin. tiada seorangpun boleh memegang dan mengambil barang itu, sebelum Ananda kembali. Barangsiapa yang memegangnya, tentu dia akan melanggar pantangan. Kelak jika nama Ananda saja yang pulang, barulah boleh Ibu mengambil kedua barang itu.”

 

“Baiklah,” Jawab ibunya. “Wasiatmu akan Bunda pegang erat-erat, berlayarlah dengan selamat, anakku.”

 

Diliriknya Basanai dengan suduh mata yang muram, seraya berkata, “Selamat tinggal, Basanai.”

 

…..

 

“Bukankah sudah Bunda katakan? Engkau melanggar pantangan. Jangan dekati barang itu Basanai, kata Bunda. Engaku dekati juga, sekarang jadi seperti  ini…”

 

“Oh, Mentua, mintakan saya ampun jika Kak Asam pulang, mohonkan maaf saya kepadanya. Saya mengakui kesalahan saya, digantung saya tinggi, dibuang saya jauh. Apa pun keputusan Kak Asam saya ikut, untuk menebus dosa saya.”

 

Tapi, mengapa rambut Basanai ada di dalam lipatan kain putih ini bunda, dan mengapa cermin ini memancarkan wajah Kak Asam Sudin, diliriknya kaca itu oleh Bunda, “tidak anakku cermin itu masih sama seperti cermin biasa,” kembali dilihat Basanai ke arah cermin, wajahnya yang terpantul, yang sebelumnya dia sadar betul berkali-kali dilihatnya kaca tersebut, berkali-kali wajah Asam Sudin yang muncul, seketika itu barulah ia tersadar bahwasannya pria yang selalu bersamanya dalam diamnya; telah menyimpan perasaan cinta terdalam untuk dirinya, hal yang sama sekali tidak ditangkap oleh hatinya sebelumnya.

…..

…..

…..

 

“Ooo, Mentua, tidak tertanggung, tak tertahan. Malam haram mataku tidur, siang haram dudukku senang. Ingatan kepada orang di Pagai saja.”

…..

…..

…..

 

“Mentua, jika gadis Basanai mati muda, panggil tunangan keenamnya, berdua suruh merobek kafan, berdua menggali kubur, berdua menshalatkan. Mandikan jenazahku oleh Mentua. Kuburkan jenazahku di atas puncak Gunung Ledan, di bawah naungan pohon delima, di dekat kemuning hijau. Tegakkan di atas kuburku bendera dua juntai, sejuntai hadapkan ke rumah almarhumah ibuku, sejuntai hadapkan ke laut supaya terlihat oleh biduk orang dari Pagai.”

…..

…..

…..

“Wahai, Nak! Sebab dia telah tahu bahwa engkau cinta kepadanya maka dia sampai begitu. Pantangan dilanggarknya, dibukanya bungkus pantangan, dalam bungkusan itu ditemuakn olehnya tanda-tanda yang menunjukkan engkau cinta kepadanya. Sejak itu hatinya tidak senang lagi, dia henak bertemu juga hendak meyampaikan kepada engkau bahwa di pun cinta kepadamu. Ada satu wasiatnya, yaitu dia tidak sanggup lagi menunggu engkau di dunia. Oleh sebab itu, ditunggunya engkau di akhirat, disuruhnya engkau ziarah ke kuburnya, tubuhnya yang halus menunggu kedatangan engkau di sana.”

 

Cerita masih berlanjut, keajaiban terjadi saat Asam Sudin pergi di malam purnama menziarahi makamnya Basanai, dilakukannya sebagaimana yang disarankan leluhur dikampung, selepas dikerjakan suruhannya ia pun tersungkur di atas pusara Basanai, malam itu juga ajal menjemputnya, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya di atas puasara Basanai.

 

Sebuah cerita pendek yang memiliki nuansa berbeda dari cerita pendek biasa, buku ini menghadirkan cerita yang tak tertebak oleh pikiran untuk lanjutan ceritanya, menjadikannya tampak lebih misterius, serasa 12 cerita masih kurang, agaknya perlua ada jilid kedua yang mampu dilahirkan, entah itu mungkin dari perebendaharaan lama yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, untuk kembali dinikmati bagi para pembaca.

 

Cerpen ini sangat cocok bagi siapa saja yang baru meranjak ingin mengenal sosok Hamka, bisa jadi melalui lembar sastra ini kamu terpikat untuk mendalami tentang beliau, atau bisa jadi dari sastra beliau akan muncul kisah sastra darimu. Apapun itu, karya beliau sangat fenomenal, membacanya membuat kamu beruntung.

 

Akhir kata, semoga terinspirasi, Selamat membaca.

 

**

Judul Buku      : Di Dalam Lembah Kehidupan

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Ramadhan 1438 H/Juni 2017 M

Tebal               : x + 194 hlm; 20,5 cm

ISBN                : 978-602-250-390-3

Genre              : Novel

Harga              : Rp. 54.000,-

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

 

 

 

Monday, February 14, 2022

Ini Pandangan Hidup Hamka; Apa Pandangan Hidupmu?

**

“Niat karena Allah, nasi sabungkuih, dan tinju gadang ciek.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

Bermula dari kata-kata di atas merupakan semboyan dari pada pegangan hidup seorang Buya Hamka. Berikut akan kami tuliskan penjelasannya lebih terperinci:

 

Banyak orang bertanya, apa yang membuat Ayah (sebutan Bagi Buya Hamka) begitu gigih dalam menjalankan kehidupan dan perjuangan? Banyak orang yang bertanya apa dasar pegangan hidup Buya Hamka tanya Irfan Hamka langsung pada ayahnya.

 

Jawab Hamka:

 

“Ada dasar perjuangan Ayah. Pertama, Ayah sangat menghayati sebuah pantun yang digubah oleh Datuk Panduko Alam dalam buku Rancak di Labuh. Bunyinya:

 

Putuslah tali layang

Robek kertasnya dekat bingkai

Hidup nan jangan mengapalang

Tidak punya berani pakai

 

Pantun itu selalu membakar darah Ayah dalam perjuangan.”

 

Kedua,  Ayah tidak tamat sekolah, baik sekolah umum maupun sekolah agama. Ayah merasa malu tidak punya diploma. Ayah harus mengejar ketinggalan itu dengan belajar sendiri, Ayah harus berani menghadapinya.”

 

“Pandangan hidup Ayah yang lain dalam menghadapi perjuangan hidup ini, adalah niat karena Allah, nasi sabungkuih, dan tinju gadang ciek. Artinya, niat karena Allah harus diyakini, tidak terombang-ambing dengan niat yang lain. Kegiatan apa pun yang kita lakukan, jangan lupa kesiapan logistik. Sekecil apa pun, walau hanya sebungkus nasi. Dan yang terakhir, jangan pernah merasa takut, gentar, mudah menyerah. Harus tegas dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan berpikir jernih. Itu diibaratkan dengan sebuah tinju yang besar.” Ayah mengakhiri jawabannya sekaligus menanamkan dasar sikap hidupanya pada Irfan Hamka.

 

Sambut Irfan Hamka dalam lanjutan tulisannya, Bila kita melihat kondisi negeri kita saat ini, rasanya apa yang Ayah katakan kepadaku beberapa puluh tahun yang lalu masih sangat relevan untuk dijadikan pedoman; semua orang harus meluruskan niat, menjalankan kehidupan semata karena Allah. Tidak terkecuali bagi para pejabat publik, agar tidak menyimpang ketika kekuasaan telah diamanahkan oleh Rakyat.

 

Semua tentang Ayah:

 

Satu sifat Ayah yang sangat Aku kagumi, Ayah tidak pernah berpikiran negative kepada orang lain. Siapa pun mereka, Ayah selalu berprasangka baik dan memiliki keyakinan bahwa orang pasti dapat berubah menjadi baik. (baca lebih lanjut hlm. 7)

 

Siapakah penulis buku ini, ia adalah seorang Irfan Hamka. Anak kelima dari dua belas berasaudara. Usianya saat ini sudah tidak lagi muda. Lahir di Medan, 24 Desember 1943 tak terasa saat beliau menulis pengantar buku ini di tahun 2013 beliau sudah memasuki usia 70 tahun. Ya waktu yang senja buat seorang anak manusia. Waktu terus bergulir mengantarkan takdir kehidupannya untuk melahirkan buku terbaik ini.

 

Buku ini memiliki 10 bagian penting. Akan penulis sebutkan urutannya dan judul yang tekandung di dalamnya.

 

Bagian Satu; Sejenak Mengenang Nasihat Ayah

Bagian Dua; Ayah dan Masa Kecil Kami

Bagian Tiga; Ayah Berdamai Dengan Jin

Bagian Empat; Ayah, Ummi, dan Aku Naik Haji 

Bagian Lima; Perjalanan Maut Ayah, Ummi dan Aku

Bagian Enam; Ayah Seorang Sufi, di Mataku

Bagian Tujuh; Ayah dan Ummi, Teman Hidupnya

Bagian Delapan; Si Kuning, Kucing Kesayangan Ayah

Bagian Sembilan; Ayah, Hasil Karya, dan Beberapa Kisah

Bagian Sepuluh; Ayah Meninggal Dunia

 

Dari kesepuluh judul tertera dalam daftar isi ini, masih ada beberapa lagi daftar isi yang berupa silsilah dua keluarga besar, foto kenangan, biodata dan sumber yang lainnya, semoga pembaca semangat untuk meneruskan bacaannya tidak pada tulisan pendek ini saja, akan tetapi berlanjut pada buku isinya jauh lebih lengkap.

 

Dari tulisan singkat ini, Irfan menceritakan satu lagi cerita yang dibaginya buat kita para pembaca, adalah tentang seekor kucing yang bernama si Kuning. Si Kuning merupakan seekor kucing kesayangan Ayah. Ternyata kasih sayang Ayah bukan hanya kepada sesama makhluk manusia. Terhadap tumbuhan dan binatangpun demikian, Ayah membagi kasih sayangnya sebagai bagian dari akhlak seorang muslim yang membawa misi Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin.

 

Akhirnya sampailah pada bagian terakhir buku ini, sebuah buku menceritakan sisi lain dari sosok Buya Hamka, tepat dari sisi keayahan atau dari sisi orang tua, sangat cocok bagi kita yang telah menjadi orang tua, atau bahkan bagi calon ayah bagi anak-anaknya, Buya Hamka telah mencontohkan bagaimana kiprah seorang ayah semestinya, sebab ayah adalah tumpuan tertinggi dalam pilar keluarga. Anak berpangku padanya, istri berpangku padanya, dan segala masalah berpangku pada kebijaksanaannya untuk mengambil keputusan. 

 

Sebagai seorang pembaca yang tidak pernah puas dalam menikmati semua karya Buya Hamka, atau berkenaan dengan beliau, sangat disayangkan jika buku ini hanya tertulis dalam lembaran kertas, ada baiknya tulisan ini didokumentasikan dalam bentuk audio, dengan rekamanan asli dari anak beliau langsung, sebagai bentuk keotoritasan akan informasi yang diberikan, kelak dapat menjadi perdengaran bagi mereka yang sedang berkendaraan atau bagi mereka yang sedang bekerja atau yang lagi istirahat santai sehabis kerja seharian.

 

Jauh selain dari pada itu, buku ini adalah buku yang sangat luar biasa, membelinya adalah satu keberuntungan bagi saya pribadi, membaca setiap bait menjadi bonus yang sangat luar biasa, kepada calon pembaca selanjutnya, selamat belajar dalam tuntunan menjadi sosok ayah yang baik yang seharusnya.

 

“Segala amal perbuatan jika didasari oleh rasa ikhlas dan tulus, maka keajaiban dan hal luar biasalah yang akan terjadi.”

 

Akhir kata semoga terinspirasi dan selamat membaca J

 

 

**

Judul Buku      : Ayah

Penulis                        : Irfan Hamka

Penerbit          : Republika Penerbit, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Mei 2013

Tebal               : xxxviii + 321 hlm; 13,5 x 20,5 cm

ISBN                : 978-602-8997-71-3

Genre              : Biografi

Harga              : Rp. 

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

 

**

Sunday, February 13, 2022

Syukur Melipatgandakan Nikmat dan Berkah

Selama belum punya yang “cash” maka bertahanlah untuk hidup seperti yang dijalani saat ini, at least 2-3 tahun ke depan. Sambil terus meningkatkan nilai diri bagi orang lain. Ketika sudah senang melakukan sesuatu yang kamu suka, dan kamu telah menjadi ahli, masak iya tidak ada yang melirik kemampuan kamu! Tidak usah mengejar uang, biarkan uang yang mendatangimu, kamu hanya perlu mengejar mimpimu dan memvalidasinya di lapangan.

 

Tidak udah dipusingkan dengan beragam hal aneh yang meracuni kepala yang itu semua isinya adalah keinginan; karena berapa kali keinginan membebani pikiranmu, sementara tubuhmu hanya membutuhkan sesuatu sebatas kebutuhan saja’ tidak semewah yang kamu pikirkan dan inginkan. So, cobalah hidup lebih nyata, lebih hadir di present time. Tidak untuk melihat kekuranganmu, tapi untuk mensyukuri pencapaianmu.

 

Hidup tidak sesulit yang kamu inginkan, nikmati dan syukuri yang sudah ada saat ini, maka lapanglah hatimu. Yang Kamu perlu lakukan saat ini adalah berusaha merealisasikan mimpimu yang itu demi memenuhi titah kebermanfaatanmu untuk  dunia ini. Tebarlah ‘value’ (nilai) kemana saja, dimana saja, dan oleh siapa saja. Sebab kekayaan sebenarnya itu bukan pada materi tapi pada waktu. “Freedom of Time” adalah kunci kekayaan sebenarnya. 

 

Di satu masa kamu bebas melakukan sesuatu yang kamu suka, kemana saja, dimana saja, sesukamu tanpa menghiraukan waktu, bebas bertemu dengan siapa saja, dan membecirakan hal-hal yang kamu suka, tanpa bercampur dengan hal yang tidak kamu suka. Sehingga pada akhirnya, memang benar bersyukur adalah cara ampuh menjalani hari-hari dengan kekuatan maksimal dan akan lahir sesudahnya keajaiban-keajaiban baru. Percayalah!

 

Salam Akhir Pekan. 
Selamat Bersantai Ria

‘Me Time’ nya semoga berkualitas.

 

 

Saturday, February 12, 2022

Terusir: Novel Buya Hamka


**

“Belalah perempuan ini dengan sehabis-habis dayamu, tumpahkanlah segenap kekuatan pikiran dan kepandaianmu dalam perkara ini.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Novel pelajaran hidup yang sangat menyentuh hati, awal membuka lembaran pertama buku telah menyentuh emosi pembaca untuk melanjutkan membacanya, tidak kurang 2 jam novel ini tuntas dihabiskan, sebuah mahakarya fiksi yang luar biasa mengesankan.

 

Penulis pemula ini, mencoba memberanikan diri mendeskripsikan sekelumut isinya, sekedar untuk mengambarkan alurnya; agar terasa sensasi emosi naik turunnya, berawal kisah tentang seorang suami dan istri yang hidup rukun tiada pernah cekcok, hidup saling setia satu sama lainnya, hingga satu ketika suatu kejadian menjebak istrinya sehingga istrinya terfitnah, dan karena kalutnya sang suami, cepat mengambil keputusan untuk mengusir sang istri dari rumah, saat itu juga. Disinilah awal perjalanan novel terusir ini mulai berombak bergelombang.

 

Digambarkan seorang wanita jelita, istri yang sholehah, istri baik-baik awalnya, tetiba kehilangan penghidupan, kehilangan tempat bernaung, tidak memiliki sandaran hati, tidak memiliki tempat berlindung, malam itu terpikir hanya sebuah tempat teman akrab orang tuanya dulu semasa hidupnya, yang kerap dipanggilnya pakcik. Malam itu kesanalah tempat tujuannya menginap.

 

Tak lama dia tinggal disana, sebab istri pakcik cemburu, mencari beragam cara agar wanita yang menumpang lekas hengkang dari rumahnya, hingga akhirnya terpikirkannya cara busuk untuk menuduhnya mencuri tusuk konde miliki istri pakcik yang berbahan emas, singkat cerita malam itu juga, dia (wanita penumpang) berangkat meninggalkan rumah itu; untuk kedua kalinya ia terusir dari rumah.

 

Dengan pikiran kalutnya ia kemudian membuat taruhan dalam hidupnya, jikalau habis usahanya mentok arah tujuannya ada dua jalan yang terpampang dipikirannya pertama menjual diri untuk bertahan hidup dan kedua bunuh diri. Cukup sekali berdosa namun tidak terjerumus dalam dunia kelap yang hina dina dipandangan manusia. Begitu cetek pikirnya malam itu.

Lama ia berusaha mencari keberuntungan untuk bekerja hingga pada akhirnya dia diterima menjadi pembantu rumah tangga di sebuah rumah tuan dan nyonya berkebangsaan Belanda, sekitar 5 tahun dia bersama mereka, lalu tuan dan nyonyapun pergi ke kembali ke kampung halamannya di Eropa, terpaksa istri yang terbuang bernama Mariah itu pun mulai mencari kehidupan baru, tetiba Yasin satu tempat kerja yang biasa mengurusi taman tuan dan nyonya tersebut menawarkan diri untuk menjadikannya istri, singkat cerita mereka menikah. Namun malang nian nasibnya Mariah, berharap dilindungi malah ditipu dengan lelaki ini, hartanya habis, emasnya digadai, dan terpaksa ia harus bercerai untuk kedua kalinya. Kisah terusir ketiga kalinya terpaksa harus ia telan pahit-pahit. Dalam kehidupan lurus dan usahanya untuk tetap baik, kini mulai goyah diterpa ombak cobaan yang serasa tiada hentinya.

 

Hingga usai dari peruntungan terkahir kali ini, tidak lagi terpandang olehnya apakah itu baik dan buruk, apakah itu semua, sebab semuanya telah sama dipandangannya, semuanya hanyalah hidup yang tidak berpihak padanya, akhirnya dia terjerumus, jatuh, terprosok dalam kumbangan pelacuran hina, dina, seketika itu ia sadar bahwa dirinya memupus harapannya, merubah namanya menenggelamkan nama aslinya dan berganti nama menjadi “neng siti” seketika nama sitipun harum dan viral di kalangan para pelanggan; hanya mengenalnya dengan sebutan barunya itu, dan diapun terkenal, oleh sebab kecantikannya yang masih alami.

 

Selanjutnya ia dengan sekian roda kehidupan yang terus berputar, awalnya berada di atas kini telah mulai beruntun turun putaran roda ke bawah, sehingga namanyapun redup berganti dengan nama pemain baru, yang itu lebih gellis, lebih muda, lebih cantik, lebih menawan dan lebih menarik nafsu bagi mereka yang sedang dirundung syahwat membara.

 

Namun ada satu keajaiban dalam posisi seperti ini, didapatkannya sepucuk koran yang tergeletak dan dibacanya satu nama yang tak asing baginya, ialah nama anaknya Sofyan Azhar, dalam haru biru ia bangga melihat anaknya telah menjadi tuan master pengacara, dengan gagah photonya terpampang disana, betapa bangganya ia, betapa rindunya ia akan anak kandungnya.

 

Teringat kenanganan masa lalu, saat malam ia meninggalkan rumah, sang anak sedang tertidur di usianya yang baru 7 tahun, tidak mengerti apa dan bagaimana sebab ibunya meninggalkan rumah, karena kangen yang mendera beberapa kali sang ibu melewati pagar pintu rumah anaknya yang gedong, hanya untuk melihat buah hatinya, keluar masuk pintu pagar rumahnya, tak terbayang bagaimana rindunya Ibu ingin memeluk buah hatinya yang tertahan berpuluh-puluh tahun lamanya.

 

Singkat cerita, ada sosok pria muda yang iri akan kejayaan anaknya ibu Mariah, mendengarkan hal itu, sang ibu tidak rela, dan mengatakan jangan demikian, dia jelaskan perlahan-lahan, hingga akhirnya diceritakan sang ibu bahwa sosok yang dimusuhinya adalah tidak lain anak kandungnya sang ibu, bertambah sumringah musuh anaknya tadi, seraya ingin mengabarkan berita ini ke seantero jagad raya, agar hilang pamor anaknya, agar kacau hidup anaknya, saat media mengetahui sosok yang viral saat ini adalah putra dari seorang pelacur yang saat ini tua tidak laku.

 

Dimintanya untuk bertahan dan merahasiakan hal itu, namun ia tetap bersi keras meninggalkan Mariah dengan segenap nafsu ingin menjatuhkan anaknya, seketika ibu yang tak rela marwah anaknya terancam, dalam hidupnya tidak ada yang lebih berharga kecuali melihat hidup anaknya bahagia, sebab itulah hakikat hidupnya saat ini. Membela dan menjaga kehidupan anaknya, sama seperti menjaga jiwa dan nyawanya sendiri, dari pada nyawa dan hidup anaknya terancam, maka dengan segera ia mengambil satu keputusan besar dalam hidupnya, diambilnya sebilah pisau yang telah disimpannya sejak awal, diraihnya tubuh pria yang telah menendangnya tersungkur tersebut, dirobeknya perut lelaki itu, dan selanjutnya ditujukan pada lehetnya, seketika darah mengalir, nyawa naik kepermukaan dibawa malaikat izrail ke dalam dimensi yang berbeda, sambil termenung dia lega dan menunggu polisi menangkap dan mengadilinya, dengan ikhlas ia menyerahkan dirinya.

 

***

 

Alurnya cepat mengalir, didalamnya mengambarkan arti dari sebuah kesetiaan, keinsafan, kegelapan masa muda, kecemerlangan, kesedihan, penyesalan, keilmuan, impian, cita-cita, kefanaan, kenuniaan, keakhiratan, perjuangan, kecintaan seorang ibu pada anaknya, dan pengorbanan orang tua akan anaknya, hingga bagaimana rasa rindu yang terpendam dalam kurun waktu panjang, tahunan. Dalam sebuah novel mini, yang hanya memiliki 129 halaman dapat menghadirkan semua yang tersebut di atas secara bersamaan, sungguh sangat memukau.

 

Tidak akan pernah luput khas tulisannya Buya Hamka, Nampak jelas, bagaimana proses persidangan itu berjalan, bukan lagi seperti persidangan yang sekedar sketsa akan tetapi realita itu tergambar begitu sangat jelas sekali, kekayaan imajinasi dan informasi serta pengetahuan akan pengadilan, pengacara, dan rentetan demi rentetan persidangan sekilas menggambarkan beliau ahli dalam menciptakan imajinasi tempat.

 

Yang memilikukan dari cerita ini, ketika tuan master pengacara mengetahui siapakah sebenarnya ibu kandungnya! Dan ketika ia tahu bagaimana cerita sebenarnya! Sampai ketika ia tanpa sadar mengumpulkan keluarga dalam satu tempat seperti reunion famili di bilik persidangan, menjadikannya lebih terlihat alami dan memukau, ada rasa takjub, sebuah keajaiban takdir yang mengantarkan perjumpaan yang tak terpikirkan namun kemungkinan itu nyata adanya. Semuanya berkumpul, semua terbongkar seketika.

 

Jika dalam novel ini Buya Hamka mengatakan takdir tidak akan terjadi kecuali ada sebabnya maka dengan penyebab puluhan tahun yang telah berlalu, terasa sangat tidak mungkin bertemu dalam satu suasana pengadilan yang memilukan, menghujam bagi mereka yang tersangka, baik itu secara terucap nama atau terselubung nama.

 

Mariah, ia Mariah. Ibu sekaligus perempuan halus perasaan dan cantik rupanya ini harus terusir karena sang suami, Azhar, termakan dan menelan fitnah dengan bulat-bulat. Lika-liku kehidupannya yang tak berantah pun dimulai. Mariah harus terusir dari rumah suaminya, kemudian terdampar di Medan hingga terjerembab di dunia gelap dan reman di Jakarta. Sebuah mahakarya dari Buya Hamka, sang sastrawan Pujangga Baru. Novel yang akan memaikan dan mencampuradukkan emosi dan perasaan terdalam kita soal cinta, kehilangan, fitnah, permusuhan dan kasih sayang.

 

Terkesan mungkin ceritanya hanya layak dikonsumsi untuk orang dewasa tidak untuk anak-anak, sebab di dalamnya tergambar kehidupan keras khas orang dewasa, namun kembali saya urungkan niat untuk mengutarakan hal ini, saat melihat ujung cerita yang menceritakan bagaimana perasaan sayangnya orang tua pada anaknya, dan bagaimana baktinya anak pada orangtuanya, seakan menjadikan novel ini legal untuk remaja muda. Jadi kelihatan ambigu ya, ulasannya. Yah begitulah sastra, susah untuk direka dan diterka.

 

Terlepas dari itu semua, semoga semuanya terinspirasi, dan selamat membaca J

 

**

Judul Buku      : Terusir

Penulis             : HAMKA

Penerbit             : Gema Insani, Jakarta

Cetakan             : Pertama, Rabi’ul Akhir 1437H / Januari 2016 M

Tebal                  : viii + 132 hlm; 18,3 cm

ISBN                  : 978-602-250-292-0

Genre                : Novel

Harga                : Rp. -

Resensator        : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

Friday, February 11, 2022

Ramadhan Bonus Pahala

 

**

“Rahmat ialah kasih sayang dan cinta Allah swt kepada makhluk-Nya. Karenanya, manusia yang beriman pun akan tumbuh dalam dirinya rasa rahmat, terutama kepada seluruh manusia.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan Allah SWT.  Di dalamnya banyak limpahan karunia dan nikmat yang diberikan-Nya kepada umat Islam, antara lain puasa, shalat tarawih, dan penghujungnya, Hari Raya Idul Fitri.

 

Dalam karya bertemakan Ramadhan, Prof. Hamka menuntun umat agar dalam mengerjakan semua amal saleh selama bulan Ramadhan, kaum Muslimin dapat menjalaninya dengan ikhlas, hikmat, dan selaras dengan tuntutan syari’at. Baik yang fardhu maupun yang sunnah. Dengan demikian akan dapat dirasakan hikmah dan tujuan mulia dari ibadah Ramadhan serta dapat berdampak kepada pembentukan pribadi Muslim yang kaffah.

 

Selain itu, penulis juga berhasil menangkap dengan baik gambaran kondisi sosial, budaya, dan karakter masyarakat negeri ini selama pelaksanaan ibadah puasa, shalat Tarawih hingga Hari Raya Idul Fitri. Beliau membahas rinci semuanya ini berdasarkan perspektif manhaj Islam, AL-Qur’an dan as-Sunnah sehingga membuat buku ini semakin berbobot dan berkualitas.

 

Saat menjabat sebagai pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat sejak edisi perdana tahun 1959 hingga akhir tahun 1981, Buya Hamka beberapa kali menulis artikel tentang puasa Ramadhan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

 

Karena ditulis dalam sebuah majalah, tulisan tersebut bukanlah berbentuk tuntunan dan pedoman tentang rukun puasa yang sarat dengan hadist-hadist, tetapi kebanyakan adalah uraian tentang hikmah dan rahasia yang terkandung dalam ibadah puasa, terutama bagi kehidupan ruhiyat manusia.

 

Yang terpenting dari artikel-artikel buya Hamka tentang puasa ialah dampak puasa terhadap pandangan hidup dan pembentukan pribadi Muslim. Puasa adalah latihan pegendalian hawa nafsu, khususnya nafsu makan dan nafsu seksualitas.  Demi kelangsugnan hidup dan peradaban umat masusia, kedua nafsu itu merupaka n sebuah kebutuhan. Tanpa itu, manusia tidak mungkin bisa hidup dan memiliki keturunan. Namun nafsu makan dan seksualitas perlu dikendalikan. Tanpa adanya kendali, dapat meruntuhkan martabat mansuia menjadi seperti binatang.

 

Bagian lain dari tulisan Buya Hamka yang juga penting; ialah kesan puasa terhadap tradisi dan budaya bangsa-bangsa yang beragama Islam dari Maroko sampai Marauke. Menghidupkan syiar Islam, ramainya masjid berjemaah orang shalat, anak-anak belajar mengaji, serta majelis taklim dan sebagainya mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan jelas memberi warna tersendiri terhadap budaya dan tradisi umat Islam.

 

Itulah beberapa pesan penting dari tulisan-tulisan atau renungan Buya Hamka tentang puasa.

 

Pada beberapa pembahasan dalam buku ini, disertakan pula artikel shalat tarawih dan witir sebagai salah satu amalan sunnah yang didawamkan menjadi syiar setiap malam selama bulan Ramadhan. Masalah yang disoroti dalam tulisan ini ialah tentang perbedaan pendapat atau khilafiah para ulama tentang jumlah rakaat antara 40, 21 atau 11 rakaat. Setelah menjelaskan dalil sunah Rasulullah, dan pokok-pokok pikran para ulama, Buya Hamka mepersilahkan pembaca menentukan sendiri mana yang dirasakan lebih afdhal.

 

Penambahan dalam buku ini diakhiri dengan uraian mengenai shalat dan khutbah idul fitri tanggal 1 Syawal, yang merupakan manifestasi rasa syukur setelah menjalani Latihan dan jihad akbar mengalahkan hawa nafsu.

 

Meskipun hukumnya sunnah dan dilaksanakan dalam suasana Hari Raya, shalat Idul Fitri pun harus dilakukan dengan benar seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, begitu pun khutbah karena sifatnya yang sunnah, hendaklah dapat memikat perhatian jamaah agar dirasakan manfaatnya. Semoga dengan membaca buku ini, kesadaran beragama yang telah tumbuh dalam masyarakat Indonesia semakin meningkat, Insya Allah.

 

Buku ringan, sebagai bacaan awal saat menjelang Ramadhan, guna mengetahui hakikat dari puasa yang kita jalani, apa saja amalan yang perlu dikerjakan selama Ramadhan, hingga bagaimana menuntaskan bulan Ramadhan dengan predikit baik sekali hingga memuaskan. Itu adalah tujuan dari buku ini, buku ini terbebas untuk segala lini dalam masyarakat di berbagai umur. Silahkan dimiliki segera.

 

Semoga terinspirasi, dan selamat membaca J

 

**
Judul Buku      : Tuntunan Puasa, Tarawih & Shalat Idul Fitri

Penulis                        : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Rajab 1438 H/ April 2017 M

Tebal               : xiv + 162 hlm; 18,3 cm

ISBN                : 978-602-250-384-2

Genre              : Kajian Agama

Harga              : Rp. 

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

Thursday, February 10, 2022

Sumber Telaga Islam



**

Usia manusia adalah teramat pendek menghadapi pekerjaan yang demikian besar dalam sekaligus. Keberhasilan batinlah lebih dahulu. Setelah batin terlepas dari kungkungan hawa nafsu, dan jiwa itu benar-benar bebas dari pengaruh benda, di waktu itulah, kelak dapat menghadapi pekerjaan yang lebih besar lagi. 

[Prof. Dr. Hamka]

 

**

 

Buku Falsafah Ideologi Islam ini tidak memiliki banyak sub judul, hanya memiliki empat pembagian, yaitu: Pendahuluan, agama dan negara, pokok ideologi dan dasar ideologi.

 

 

Memasuki pembahasan pertama tentang ‘agama dan negara.’ Pada halaman 6, Buya Hamka menuliskan, Kita ingin membangun. Tetapi yang kelihatan dimana-mana hanya keruntuhan. Kehormatan dan keruntuhan. Pada halaman selanjutnya, di halaman 7 tertulis, kadang-kadang tidaklah dapat disesalkan. Sebab kemiskinan jiwa sudah sampai kepada derajat yang di bawah sekali. Sehingga segala yang terkilat putih, sudah disangka gading. Padahal dalam perbendaharaan jiwa sendiri, ada emas, emas urai yang tersembunyi. Inilah pangkal keruntuhan ekonomi di jiwa.

 

Di dalam Tarikh Islam tidak pernah bertemu pemisahan agama dengan negara. Dalam ajaran Islampun tidak ada yang demikian. Boleh dibuka halaman 16. “Kalau batin telah kotor, laksana pekarangan rumah tangga yang tidak pernah disapu, macam-macam penyakit jiwa akan tumbuhlah. Tetapi kalau batin bersih. Peraturan, walaupun misalnya tiada tertulis, nisacaya akan berjalan sendirinya.”

 

Saat ini umat sedang terjangkiti virus Individualisme menimbulkan liberalisme. Liberalisme menimbulkan materialisme. Materialisme menimbulkan kapitalisme. Kapitalisme mesti menimbulkan imperialisme. Mengutamakan diri sendiri, mesti menimbulkan keinginan kemajuan hidup diri sendiri; kemajuan hidup diri sendiri mesti menimbulkan perbuatan kebendaan; perbuatan kebendaan mesti menimbulkan pertumpukan modal; modal yang telah tertumpuk, sendirinya mesti menumbuhkan keinginan mencari pasaran, yaitu penjajahan. (baca halaman 27)

 

Dimana telah jelas tampak, dan boleh ditelisik ulang hampir dapat dikatakan bahwa di negeri-negeri yang terjajah mesti terdapat tali berpilin tiga; Kapitalis, birokrasi dan peyiaran agama Kristen. Untuk itu dibangunkannya masjid, dihidupkannya aktifitas di dalamnya, diadakannya pengajian, menjadi sumber telaga perpaduan jiwa. Sesudah jiwa terpadu, dari sana dilancarkan rancangan yang besar berkenaan dengan urusan hidup. Dengan selalu yakin bahwa rahmat Allah turun dalam setiap waktu dan pergerakan. (baca halaman 38)

 

Pembahasan besar kedua, “Pokok Ideologi.” Ada tiga soal penting yang mesti benar-benar dipahami dengan benar bagi kita semua, yaitu ‘alam, Hidup dan Manusia. Yang ketiga hal tersebut adalah beberapa objek kajian dalam filsafat.

 

Dalam filsafat Islam sendiri ujungnya tidaklah akan bertemu pada orang , tetapi kita harus datang sendiri kepada sumber telaga Islam itu sendiri, yaitu Qur’an suci dan Hadis Nabi yang shahih. Islam mempunyai filsafat yang berdiri sendiri. Adapun jasa para filsuf sebagai Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd adalah memperjelas filsafat itu. Dan kalau hendak melihat contoh pengaruh filsafat Islam itu, yang mudah ialah melihat Tarikh kehidupan Rasul dan Tarikh perjuangan sahabat-sahabat yang mengantikannya di dalam menegakkan pemerintahan Keislaman. Terutama di zaman Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.

 

Pembahasan besar ketiga, tentang “Dasar Ideologi” Pada pandangan Islam, kesatuan adalah kebenaran; perpecahan adalah kesalahan. Dan yang salah itu tidaklah ada hakikatnya. Pendeknya kalau dicari-cari dari mana sumbernya, tidaklah akan bertemu!

Tujuan Islam adalah mempersatukan ruh dan jasad pada perseorangan, mempersatukan kejiwaan dan kebendaan, pada kehidupan. Mempersatukan golongan yang berbeda-beda, pada satu bangsa. Mempersatukan perseorangan dengan masyarakat dalam pada satu tujuan. Mempersatukan pendirian yang berbeda-beda, pada satu muslihat umum. Mempersatukan bangsa-bangsa karena perbedaan iklim dan perlainan kepentingan, pada akhir jalan. Hal inilah yang  tidak akan bisa didapatkan kecuali dengan terlebih dahulu menyatukan 3 hal mendasar berikut ini: Ialah kemerdekaan jiwa, persamaan kemanusiaan dan gotong royong yang teguh dalam masyarakat.

 

Agak berat kiranya buku ini, perlu perlahan-lahan untuk memahami isi kandungannya, namun jika telah dipahami, akan hilang dahaga fakir ilmu, akan hilang demam panas dingin papa ilmu agama, akan berangsur pulih hati yang sempat meredup sinarnya. Untuk itu bagi Anda yang tidak terlalu suka dengan bahasa pujangga tapi suka dengan bahasa ilmiah dan pembahasan akademisi, buku ini cocok buat Anda. Dan untuk anda yang sedang ingin belajar tentang teologi islam, atau seputar falsafah dasar, buku ini juga sesuai, sebab secara konsep ini matang, secara penjelasan buku ini menejelaskan dengan sangat runut baik, dan sangat responsive terhadap pembaca, sehingga pembaca dapat memahami betul terhadap apa yang dibaca. Terima Kasih Buya Hamka yang telah menuliskan pemikiran Emasnya dalam buku yang saat ini ada digenggamanku.

 

Semoga terinspirasi, selamat membaca. J

 

 

**

Judul Buku      : Falsafah Ideologi Islam

Penulis                        : HAMKA

Penerbit          : Widjaya, DJakarta

Cetakan           : pertama, 17 Agustus 1950 M

Tebal               : 131 hlm

ISBN                : -

Genre              : Filosofi

Harga              : Rp. 

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

 

Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.