Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Wednesday, April 29, 2020

Belajar Bukan BEBAN; Belajar Adalah KETAATAN

Rabu, 29 April 2020
Medan, 06 Ramadhan 1441H


***

Dalam sebuah ucapan sederhana Aku selalu terngiang dengan pesan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA, Ed, M. Phil bahwa “Islam, Iman, Ihsan sebagai asas membangun peradaban”

Islam dalam arti kata kepasrahan pada agama kedamaian, percaya dengan haqqul yakin bahwa Allah swt adalah Tuhan semesta Alam, Muhammad Rasulullah, Al-Qur’an mu’jizat untuk seluruh umat manusia di dunia yang diturunakan Allah bagi umat akhir zaman, pada akhirnya akan menuntun kita pada satu titik keyakinan bahwa “Laa ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah” (Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah utusan Allah.) 

Dengan memahami konsep Islam, perlahan iman akan tumbuh dengan sendirinya. Sebuah keniscayaan dalam hati untuk meyakini dan membenarkan bahwasannya Allah swt itu ada (wujud) dengan segala sifat-sifat dan kesempurnaanNya. Selanjutnya mengucapkannya lewat lisan, dan memanifestasikannya lewat perbuatan sehari-hari, seraya melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan Allah swt.  

Adapun pada asas tertinggi, Ihsan menaikkan kita pada taraf cinta Allah karena Allah swt, dengan penuh ketulusan, sehingga segalanya dikerjakan seakan-akan kita bertemu mata dengan Allah swt, namun jika hal itu juga belum terasa, keyakinan bahwa Allah melihat kita adalah sebuah kepastian. 

Dengan demikian jika Islam, Iman dan Ihsan benar-benar dijalankan dalam konsep sesungguhnya, semua insan akan kembali pada fitrahnya, kembali menjadi umat yang beradab, kembali mejadi umat yang berakhlak sehingga lambat laun peradaban Islam akan kembali kepada masa kejayaan yang pernah tersimpan dalam catatan sejarah kedikjayaan Islam dan kaum muslimin di dunia.

Untuk memahami ucapan sederhana dokter hamid, untuk menerapkan tiga konsep asas peradaban diatas, aku merasa miskin pengetahuan. Ilmuku belum sampai, aku butuh tambahan nutrisi otak, aku harus belajar sebagai tambahan suplemen akalku, dalam usaha membolak-balikkan lembaran catatan, Aku terkesima membaca untaian kata Imam Al-Ghazali: “Menuntut Ilmu adalah takwa; menyampaikan Ilmu adalah ibadah; mengulang Ilmu adalah zikir; Mencari Ilmu adalah jihad

Pertanyaanku dalam hati, di bagian mana menuntut Ilmu itu merupakan kerugian? Dimanakah letak beban dari belajar jika belajar itu sendiri merupakan wujud taqwa! Bagaimana tidak beruntungnya hati ini jika menyampaikannya juga ternilai ibadah di sisi Allah! Bukan kepalang bahagianya ketika membaca ulang kaji ilmu yang di dapat itu seperti dzikir kepada Allah! dan Kurang syukur apalagi jika semangat mencari ilmu dan keistiqomahannya juga ternilai jihad di sisi Allah swt! Masya Allah, Tabarakallah, tidak henti-hentinya kecintaan Allah pada hambanya yang berilmu, hingga akhir hayatnyanya pun jika masih mecari ilmu ternilai sebagai matinya para syahid di Jalan Allah swt. Semoga kata-kata Imam Ghazali tersebut dikabulkan oleh Allah swt, sehingga menjadi tuntunan dan semangat baru bagi diri yang kosong ini, bersemangat mengisi kekosongan akal ini dengan ilmu.

“Ya Allah swt, ilhamkanlah kepadaku kecintaan, kesabaran, ketabahan menuntut ilmu hingga akhir hayat menjemputku, sebagaimana Engkau wahyukan kesabaran pada nabi Nuh dalam berdakwa selama 950 tahun, sebagaimana Engkau wahyukan keberanian dan keteguhan nabi Ibrahim melawan kezaliman pemerintahan raja Namrudz, sebagaimana Engkau wahyukan keyakinan dan ketetapan hati pada nabi Musa menghadapi ketakabburan Fir’aun, sebagaimana Engkau wahyukan keselamatan pada nabi Isa ketika umatnya mendurhakainya, dan sebagaimana Engkau bersihkan hati Rasul-Mu Muhammad saw sehingga tak ada dendam dalam hatinya, akan cercaan umatnya selama ini, tak ada marah atas ketidaktahuan mereka malah menambahkan rasa cintanya pada mereka. Bukankah mereka adalah Ulul Azmi-Mu ya Allah. Terimalah Amal baik nabi-nabi kami tersebut ya Allah dan perbaiki amal kami agar mendekati nabimu ya Allah.”

Bukankah hampir-hampir orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya di jalan Engkau itu derajatnya seperti mencapai derajat para Nabi dan Rasul-Mu?


Dalam sebuah Terjemahan hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2322, Hadist Hasan. Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu”

Tidak cukup rasanya jika tulisan ini di akhiri tanpa pesan kyai, sosok yang menjadi panutan, lambang lautan keilmuan, lambang ke wara’an, lambang sebuah keikhlasan, lambang dari kecintaannya pada dunia pendidikan. Berikut petikan pesan KH. Hasan Abdullah Sahal. (Wallahu yarham) “Campakkan kertas ijazahmu kalau hanya menjadi penyakit cari kerja! Banyak orang bertitel tanpa kualitas, banyak orang berkualitas tanpa titel” (KH. Hasan Abdullah Sahal)

Wallahua’alam, Wallahu’aliimum Bima fisshuduur, Wallahu Akbar, Laa haula wa laa quwwata illa billahil’aliyyil ‘adziim.

***


Monday, April 27, 2020

Shalat Berjama’ah Di Awal Waktu

Senin, 27 April 2020
Medan, 04 Ramadhan 1441H

***
Untuk melatih tradisi tepat waktu latihlah dengan shalat berjamaah tepat pada waktunya. Mengistiqomahkan ini, sama saja menata kehidupan lebih baik di masa depan. Begitu kata orang-orang terdekatku yang telah berhasil mengatur waktu lewat amalan shalat jama'ah tepat waktu.

Jika ingin membuktikan stetament di atas, mari sama-sama kita buktikan dan rasakan perbaikannya setiap Ahadnya. Bagaimana Ahad pertama, Ahad kedua, Ahad ketiga, Ahad keempat, dan Ahad kelimanya. Harapannya Setelah pembaca merasakan perbedaannya bisa berbagi dengan saya di kolom komentar, karena saya sendiri sedang observasi lapangan. :-)


***

Sunday, April 26, 2020

Hargai Semua Orang; Sebelum Minta Dihargai

Ahad, 26 April 2020
Medan, 03 Ramadhan 1441H


***
Sebisa mungkin hargai semua orang Sebelum dan sesudah berinteraksi, sebab penghargaan yang kamu berikan akan menentukan kualitas dan harga diri kamu sendiri dihadapan orang lain. Dalam hal penghargaan, pada umumnya manusia sangat ingin dihargai dalam 3 hal ini. Pertama pendapatnya, kedua hak dan kewajibannya dan ketiga keberadaannya. 

Pertama: Pendapatnya

Wajar jika pendapat itu selalu berbeda, sebab “rambut boleh sama hitam tapi isi kepala siapa yang bisa menerka”, begitulah pepatah sering disampaikan para leluhur. Pepatah Lainnya juga yang sering disampaikan para orang tua terdahulu:  “Lain lubuk lain ikannya, lain lalang lain ilalangnya, lain tempat lain bahasanya, lain daerah lain budayanya.” Begitulah gambaran para leluhur negeri ini menggambarkan perbedaan pendapat yang memang harus diterima. Dapat dianggap sebagai bentuk kemajemukan kita bersosial, atau bisa dinilai sebagai bentuk multi-etnis dan budaya, tapi karena itulah sudut pandang manusia dalam berpendapat tak jarang selalu berbeda.

Pertanyaannya Apakah perbedaan itu membuat kita bertikai? Saya rasa tidak, makanya tips sederhana, agar diri tidak sakit hati dengan pendapat yang ditolak adalah dengan memunculkan 2 opsi di awal yaitu opsi bisa di terima dan bisa di tolak. Setelahnya harus siap memasang sikap sesuai dengan opsi yang terjadi. 

Pada intinya antara yang berpendapat dan mendengarkan pendapat tetap harus saling menghargai antara satu sama lainnya. Dalam berinteraksi, tetap harus dijaga tutur katanya, jangan terlalu jauh menyinggung hal yang pribadi. Sebatas itulah yang mesti di lakukan di negeri ini, mungkin juga berbeda tradisinya dengan negara lain.

Kedua: Kewajiban dan Hak. 

Dalam kedua hal ini, hampir semua orang pasti ingin dihargai. Kewajibannya apa, tolong jangan diikut campuri dan haknya bagaimana juga tolong jangan dikurang-kurangi. Nampaknya itu cukup adil untuk stadart awal profesionalisme bekerja. Tapi beberap kasus yang terjadi di lapangan saat ini, kewajiban ditambah, dicampuri, dan dikritik sedang hak tidak dilebihkan malah dipermasalahkan dan dikurang-kurangi.

Seorang teman ada yang berlogika sederhana, dengan sebuah pertanyaan ringan, apakah mobil dapat berjalan sekian ratus kilometer dengan hanya 1 liter bensin? Tidak, kalaupun kamu nekat, pasti campur dorong, sama halnya manusia. Kamu jangan mengharapkan perhargaan lebih dari orang lain kepadamu jika kewajiban dan hak yang kamu berikan tidak sesuai, tidak sama porsinya.

Idealnya adalah berikan kewajiban sebagaimana porsinya, tunaikan haknya sebagaimana seharusnya, jika ada kekurangan dikabarkan, jika ada kelebihan diinformasikan dengan halus dan lemah lembut. Manusia makhluk komunikasi ini sangat mengutamakan bahasa sebagai alat tukar yang pas. Sebelum proses Jual beli itu terjadi, lewat tukar-tukaran kata, proses negosiasi terjadi, selanjutnya terciptalah transaksi yang saling diridhoi antara satu dan lainnya insya Allah.

Ketiga: Keberadaannya. 

Jangan sekali-kali memandang wujud seseorang itu tidak ada artinya bagimu, “Boleh menilai orang tapi jangan diucapkan” begitulah kyai Hasan berpesan, sebab kalau kau ucapkan, belum tentu kamu lebih baik dari dia, dan belum tentu dia seburuk dari penilaianmu,  Begitu juga sebaliknya, jika dia terlihat baik, belum tentu kamu lebih buruk dari dia dan belum tentu dia sebaik menurut penilaianmu, maka amannya bersikaplah pertengahan. Berpandanglah positif thingking, dan perbanyaklah diam. Berbicara jika ucapanmu bernilai dan bisa kamu pertanggungjawabkan, dan diamlah jika dalam pendapatmu masih ada keraguan. 

Kamu yang ingin di anggap keberadaannya maka berbuatlah, bergeraklah, bekerjalah, berjuanglah hingga penghargaan itu menemuimu sendirinya. Tapi bagimu pribadi, belajarlah menganggap keberadaan dan karya kerja orang lain. Yakinlah dengan mengakui keberadaan orang lain kamu juga akan di akui dengan sendirinya.

Wallahua’alam, Wallahu’alimum Bima fisshuduur, Wallahu Akbar, Laa haulaa wa laa quwwata illa billahil’aliyyil ‘adzim.

***


Saturday, April 25, 2020

Persiapan itu bersifat Fardlu'ain; maka persiapkanlah semaksimal yang kamu bisa.

Sabtu, 25 April 2020
Medan, 02 Ramadhan 1441 H

***

Persiapan matang mengantarkanmu pada ketenangan. Dalam banyak kasus sebenarnya manusia itu terlahir berani dan siap menghadapi seluruh masalahnya sendiri. 

Namun setelah bertambahnya usia terpaksa harus mengenal pahit-manis, senang-sedih, susah-payah, amukan-kerohiman, marahan-kasih sayang, pujian-makian, kebenaran-kesalahan, kemunafikan-keabu-abuan, kesaksian palsu-kebenaran yang bungkam dan barisan penjilat tanpa rasa malu, sehingga tanpa disadari keberanian berangsur berkurang, ketidakyakinan membuatnya skeptis para dirinya sendiri. Hilang jati diri, Susah beradaptasi. Terakhir mencari rasa aman tanpa mengandalkan dirinya lagi, sebab kepercayaan dirinya hilang ditelan minder diri.

Melihat pada tujuan penciptaannya, Manusia adalah prototipe [Baca: Bentuk Asli] khalifah terbaik di muka Bumi. Di Dunia hidupnya terjaga jika Allah swt adalah tujuannya. Atas izin-Nyalah seluruh malaikat selalu menyebutkan namanya, penduduk langit rindu bertemu dengannya, seluruh penduduk laut mendo’akan untuk rizkinya. Dalam upaya menciptakan sosok manusia yang sempurna, manusia harus memiliki sisi kelebihan yang bisa bermanfaat bagi sesama. Maksimalkan yang kamu punya, persiapkan hingga benar-benar matang, maka kamu akan menjadi lebih dari makhluk ciptaan Allah swt yang lainnya. 

Sebagai satu contoh, jika kamu berkelebihan dalam berorasi; tata bahasamu, rangkai konsepmu, dengan orasimu buka pintu hati pendengarmu untuk selalu ingat pada Allah swt. 

Jika kamu seorang guru, persiapkan pola/metode/cara terbaik dalam mengajarmu, buat agar muridmu paham terhadap apa yang kamu jelaskan, karena keikhlasan mengajarmu termanifestasikan dari bagaimana muridmu. Jika paham mereka, ikhlaslah dirimu tanpa terkecuali. 

“Tidak ada murid yang bodoh yang ada guru yang kurang bersabar, guru yang kurang ikhlas menambahkan ekstra tenaga dan waktu untuk muridnya yang berbeda dengan yang lainnya.” 

Siapapun kamu, apapun profesimu persiapkan itu matang-matang, dan berbuat lah sekuat yang kamu bisa, bermanfaatlah sebanyak yang kamu bisa, mudah-mudahan syurgalah tempatmu beristirahat dari dinamika dunia yang fana.

Pada intinya coretan singkat ini, ingin menitik beratkan pada persiapan. Manusia harus benar-benar memiliki persiapan, bukan saja harus tapi WAJIB [Baca: Fardlu 'Ain). 

Sampaipun berkendraan tanpa alat keselamatan seperti helm, kamu sudah harus ada persiapan mental jika nanti bertemu polisi dan kamu harus juga bersiap jika terjadi kecelakaan misalnya (na’uzubillah) Karena dunia dan akhirat ibarat koin yang memiliki 2 sisi dalam logam yang sama. 

Hukum sebab-akibat melekat dalam hidup manusia. Sebab persiapan yang matang di dunia, akibatnya mendapatkan syurga sebagai balasanya. Sebab kurang persiapan di dunia, akibatnya dibersihkan terlebih dahulu di Neraka, dalam balutan hukum Allah hukum sebab dan akibat tidak terkontaminasi politik kotor dunia. Maka jalan terbaik satu-satunya adalah. Persiapkan semaksimal yang kamu bisa.

Tidak ada ketakutan setelah berbekal; dan selalu ada keraguan jika hidup tanpa persiapan.
 -Irhas el Fata-


Wallahua’alam, Wallahu’aliimum Bimaa fisshuduur, Wallahu Akbar, Laa haulaa wa laa quwwata illa billahil’aliyyil ‘adziim.


***

Friday, April 24, 2020

Menjenguk Sahabat

Jum’at, 24 April 2020
Medan, 01 Ramadhan 1441 H


***
Setiap kita memiliki jalan hidup yang tidak sama, ada yang jalan hidupnya sejak awal kelahiran begitu sangat mengembirakan hingga tumbuh dewasa serba berkecukupan, berbagai keinginan dapat terpenuhi hingga akhirnya berumah tangga, bahagia hingga tutup usia. Namun ada juga yang kisah hidupnya berbeda. Hidupnya penuh halang-rintang, cobaan dan ujian, Semuanya seakan datang bertubi-tubi, sedang menghadapi satu masalah, belum habis sudah menghadapi masalah yang selanjutnya, dan begitulah seterusnya, yang demikian itulah kemapanan usia di uji, Apakah masih terlalu kekanak-kanakan dalam menyikapi masalah atau sudah cukup dewasa seraya bersyukur terhadap yang ada. Yah begitulah kira-kira kehidupan manusia yang selalu tidak sama antara satu dan lainnya.

Di awal malam Ramadhan kita berkunjung ke salah seorang teman, tujuannya menjenguk anaknya, dimana anak yang terhitung baru bulanan hidupnya telah di uji Allah swt dengan penyakit yang sangat mengerikan bagi yang mendengar, “Tumor”, pada usia belum genap setahun dia sudah 2 kali di operasi, diangkat tumornya hingga 85% dan sisanya di sedot secara bertahap, caranya dengan selang yang bisa menarik cairan dari selah kanan perut si anak. Menurut keterangan hasil tes “Biopsi” (prosedur untuk memastikan adanya kanker, dari semua cara diagnosis, biopsi adalah salah satu yang paling akurat.) menerangkan bahwa tumornya tidak ganas, namun hasil tes CT Scan (Mendeteksi area yang bermasalah) menerangkan bahwa tumornya berpotensi ganas. Ketidak singkronan hasil tes itulah yang membuat sang Ibu dari si dedeknya seketika lemas tak berdaya, sangat jelas ceritanya, sambil menyela air mata dia lanjutkan cerita tentang keadaan buah hatinya, akhir penjelasannya ia memohon do’a untuk kesembuhan buah hatinya, semoga setelah ini si Adek bisa pulih kembali, diangkat sakitnya, di jaga Allah hingga bisa hidup selayaknya bayi seusianya.

Sebuah kunjungan teman akrab yang sangat lama tak pernah berjumpa, sangat menggugah hati, membuat hati bersyukur masih diberi kesehatan dan kelapangan waktu, yang karenanyalah kami bisa bertemu sahabat lama, sambil berbagi cerita, mendo’akan satu sama lainnya dan menghibur satu sama lain. Semoga Allah swt menjaga kesehatan mereka sekeluarga, memurahkan rezeki para pembaca dan menjadikan diri kita semuanya lebih baik dari sebelumnya. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Wallahua’alam, Wallahu’aliimum Bimaa fisshuduur, Wallahu Akbar, Laa haulaa wa laa quwwata illa billahil’aliyyil ‘adziim.
***

Sunday, December 15, 2019

Aku Belajar Tentang Mental dan Sikap

Mungkin di dalam hati ada berbagai perasaan kerugian jika di nilai dari sudut materi. Tapi tidak jika ditelisik dari sudut ruhhiah. Dari sudut materi, Aku merugi tidak dapat melihat tempat yang paling indah di kota Sibolga ini, tidak melihat pantai dan pulau yang sangat indah, padahal aku sangat cinta dengan segenap pulau, dan pantainya itu, tapi dari sisi ruhhiah, aku sedang belajar menggambil keputusan sesuai dengan keinginan hatiku, dan aku berusaha kokoh dengan keputusanku. 

Mungkin sekilas Aku merugi dengan kesempatan yang hilang ini, tapi lebih dari pada itu aku beruntung, aku berhasil melewati ujian komitmen, aku bisa mempertahankan tekadku meskipun ujiannya dengan hal yang sangat Aku sukai, meskipun ujiannya terhadap apa yang aku cintai, semoga kedepannya Aku bisa menjadi diriku sendiri bukan orang lain.

Dengan tidak perginya aku, Aku mulai menjadi diriku sendiri, namun sebaliknya dengan perginya aku, aku masih tetap menjadi orang lain, menjadi orang yang mengikuti kehendak orang lain, orang yang terus mengikuti keputusan dan kebijaksanaan orang lain, dan Aku mau bebas dari itu semua, aku adalah aku, aku yang mengatur diriku sendiri, selama tidak menyalahi aturan dan syariat, Aku adalah Aku.

Friday, November 15, 2019

Khatib Jum'at di Masjid Al-Mughni Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Lumut


KHUTBAH PERTAMA


أَيُّهَا الحَاضِرُونَ الكِرَامُ


All praise be to Allah SWT, the merciful and the beneficent one who creates the world to the all mankind.

Sholawat and salam be upon to our prophet Muhammad SAW who saved the human life from destruction in the safety, that’s the right path of Allah.

In this chance I would like to explain you about sadaqah Jariyah, do you know sadaqah jariyah?
أَيُّهَا الحَاضِرُونَ الكِرَامُ
Sadaqah Jariyah means a continuous, flowing and ongoing charity. It is one of the most rewarding acts we can do in our lives as the benefits of giving this type of charity can be reaped in this lifetime and long after we have passed.

 Allah (swt) guarantees to record these continuous acts of charity in the following verse:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ١٢


 “Indeed, it is We who bring the dead to life and record what they have put forth and what they left behind, and all things We have accounted for in a clear register.” (Qur’an, Yasin: 12)

The following famous Hadith gives us the good news that even after our death, Sadaqah Jariyah continues to benefit us:


On the authority of Abu Hurairah (ra) that the Messenger of Allah (saw) said, ‘When a person dies, his deeds come to an end except for three: Sadaqah Jariyah (a continuous charity), or knowledge from which benefit is gained, or a righteous child who prays for him’. (HR. Muslim)

To put it simply, they both count as ‘Sadaqah’ (voluntary charity). However, ‘Sadaqah’ on its own will benefit the recipient on a single occasion and will count as one good deed for the giver. ‘Sadaqah Jariyah’ will benefit the recipients more than once and that good deed will continue rewarding you even after your death.

For example, giving someone something to eat is a Sadaqah and will benefit that person in that moment; whereas building a well where people can regularly draw water is a Sadaqah Jariyah and will benefit people for generations to come and in turn will continue benefiting you in this life and the next in sha’ Allah.

Such as example taken from a true story about The Caliph UTHMAN BIN AFFAN AND THE WELL.

When the Muslim migrated to Madina there was severe shortage  of water which troubled the Sahabah (RA). There was only one sweet water well (known as the well of Rauma) owned by a Jew who used to charge astronomical amounts of money for his water.

Sayyidina Rasul-ullah (Sallallaho Alaihe Wassallam) promised house in paradise for the one who buys this well and dedicates it to the believers for their water needs. Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) went to the Jew and offered to purchase his well which he declined.

Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) persisted in his offer and paid enormous money for half of the well. It is mentioned that he (RA) paid somewhere around 20,000 Dirhams for half of the well which is enormous even by today’s standards. (20,000 dirhams is valued at seven hundred and sixty million thousand rupiahs Rp. 760,000,000,-) Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) then made an agreement to have the well to him for one day while the Jew had the other day, on his day Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) gave out free water to anybody.

Nobody came to fill on the day of the Jew so he eventually sold his half share due to lack of business.

Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) dedicated the well for free water and it continues to pump water even to this day.

Over 1400+ years due to abundant water the area around the well become fertile and developed a garden of high quality dates with as many as 1550 trees during the Ottoman rule of Madina. The entire area was endowed to Muslims by Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) and he never took a penny while the profits keep growing and growing.

The Accounts (today) are kept in a Bank Account in Madina even today of all the profits in the name of Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA).

Saudi Government has decided to build a Hotel with this money and the yearly earning are estimated to be 50 million Saudi Riyals. Half of the profits will be spent on the poor while the other half (of the profits) will be deposited back into the Account.

Truly a very inspiring story, because of the sincerity of the caliph helping Muslims, getting rewarded goodness by Allah swt until now.

And the last There are numerous types of Sadaqah Jariyah but in the following hadith seven are mentioned:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ


By name on the authority of Abu Hurairah (ra) who said, ‘the Prophet (saw) said, “Indeed, the rewards of his actions and good deeds that will reach a believer after his death are: [1] knowledge which he taught and spread; [2] a righteous child whom he leaves behind; [3] a copy of the Qur’an that he leaves as a legacy; [4] or a masjid that he built; [5] or a house that he built for wayfarers; [6] a canal that he dug; [7] or charity that he gave from his wealth in his good health and life. [These deeds] will reach him after his death”’. (Ibn Majah)

That is all what I can convey in this time. Thank you very much for your attention.             I hope you get success and prosperity. May Almighty God bless this meeting and guide us in realizing Islamic doctrine for the Muslim and others who want to accept the light as well. May Allah SWT make us worthy being his servant. Amin. 

اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلطَّاعَاتِ فِي هذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ وَاسْتَجِبْ دُعَاءَنَا بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ  يآأَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.








KHUTBAH KEDUA


Semua yang Ananda kami lakukan di Pesantren ini telah terhitung badah Insyaa Allah. 
Semua yang Ananda kami lakukan di pesantren ini tidak terlepas dari ibadah-ibadah jariah yang pahalanya sungguh sangat luar biasa di sisi Allah swt.

Diantara pahala yang terus khatib jelaskan adalah pahala amal jariah, belajar dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat dan serta menjadi anak yang sholeh yang membuat orang tua bangga telah melahirkanmu dan membsarkanmu serta melihat perumbuhan dan perkembanganmu menjadi anak yang berguna.



Pertama, Sedekah Jariah.
Merupakan sedekah yang pahalanya tidak terbatas masa. Lintas usia, tua-muda bisa bersedekah jariah, lintas alam ilahiah, di dunia beribadah di akhir tetap terkirim pahalanya.

Contohlah Khalifah Ustman Bin Affan yang telah mewakafkan sumur kepada umat muslim, hingga kini sumur tersebut masih bisa diambil manfaatnya, dapat mengairi perkebunan kurma, hasil uangnya di simpan di bank, dibangungkan hotel, hasil darinya sebagian di gunakan membantu orang miskin yang membutuhkan dan setengahnya lagi di depositkan di bank atas nama khalifah Ustman Bin Affan r.a.

Mencontoh hal tersebut, saat ini sedekah jariah nyata, ada di depan mata adalah upaya perluasan tanah pesantren sebagai lahan dakwah. Manfaatnya untuk umat Islam di seluruh dunia, tujuannya mengharap ridho Allah semata. Maka jadilah salah seorang yang pahalanya tetap mengalir walau dirimu telah tiada.

Namun Jika belum mampu mengeluarkan materi dalam dakwah, luangkanlah waktu untuk memotivasi sesama sebab dengan orang lain mendermakan harta di jalan Allah swt, kamu juga mendapatkan pahala sebesar pahala orang yang bederma tanpa mengurangi pahalanya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Selanjutnya, sungguh-sungguhlah dalam berlajar,agar ilmumu bermanfaat di masyarakat, sebab tujuan Ananda kami didik di sini dengan harapan besar menjadi insan kamil. Manusia sempurna, manusia yang menjadi buah bibir masyarakat langit atas kesolehannya; menjadi rebutan manusia di bumi karena keilmuannya, sehingga tidak ada yang keluar darimu, selain manfaat di dunia dan akhirat semata. 

Menjadikan sepanjang orientasi berfikirmu adalah akhirat sebab jika dunia yang kamu kejar tidak akan ada habisnya, namun jika akhirat menjadi tujuanmu maka dunia akan mengikutinya. 

Maka misi utamamu hidup di dunia ini adalah bagaimana dapat menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan sebanyak-banyaknya.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ»


Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. [HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-Hâkim. Dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/313, no. 3363, Maktabul Ma’arif, cet. 1, th 1421 H / 2000 M]


Dan terakhir jangan lupa do’akan orangtuamu dalam setiap sujud dan shalatmu.Tidak ada hal berharga dari pada keshalehanmu, tidak ada yang paling membahagiakan orang tuamu selain ketaatanmu, dan do’amu untuk mereka, Allah telah berjanji dalam Al-Qur’an, Surah gafir, yang berbunyi: 

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ٦٠


Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir : 60).

Selain dari pada itu dalam hadis rasul menguatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Maha Pemalu. Maha Dermawan. Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Maka jangan lupa do’akanlah orang tuamu, mereka butuh do’a tulus dan ikhlas dari anak-anak yang sholeh sepertimu.

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan bagi kita dalam mengisi dan mengoptimalkan amalan-amalan baik pada hari Jumat yang mulia ini.


فَاعْلَمُوْا أنّ الله َأمَرَكُمْ بِأمْرٍ بَدَأ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَ ثَنىَّ بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ عَزَّ مَنْ قَائِلِ إِنَّ الله َوَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلى النّبِي يَأيّهَا الّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيَّنَا مُحَمَّد و عَلَى آلِهِ وَ صَحَابَتِهِ وَ مَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَ اسْتَنَّ بِسُنّتِهِ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ. ثُمَّ اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَ عُمَر و عُثْمَان و علي و على بَقِيّةِ الصَّحَابَة وَ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ عَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأمْوَات.

اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَ المُسْلِمِيْن وَ أهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْن وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أعْدَاءَ الدِّيْن
اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِك

اللّهمَّ إِنَّا نَسْألَُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَ العَفَافَ وَالغِنَى وَحُسْنَ الخَاتِمَةِ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لنَاَ وَلِوَالِدِيْنَا وَ ارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

ربَّناَ هَبْ لَنَا مِنْ أزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلمُتّقِيْنَ إِمَامًا

ربَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أنْتَ الْوَهَّاب

رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنياَ حَسَنَةً وَ فِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَ الإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى و يَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اسْألُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Wednesday, October 23, 2019

Tidak Ada Kata Tua Dalam Diskusi Ilmu Pengetahuan

Dalam belajar Aku suka ungkapan “Tidak ada kata tua dalam diskusi ilmu pengetahuan”, sebuah bius semangat yang selalu dapat menyuntik semangat untuk terus bangkit, maju dan berkembang. Merupakan solusi bagi diri yang cinta akan karya tanpa memandang usia, cinta akan ilmu dan hal baru tanpa ingat akan Batasan waktu semata, disaat kesukaan di kerjakan tanpa melihat batasan disanalah awal keberhasilan, hampir para ahli di bidangnya selalu mengatakan demikian.

Sebagai landasan filosofis kecintaan belajar timbul mana kala teringat kata-kata Imam Ali “Man ‘Afara Nafsahu Faqod Arofa Rabbahu” ungkapan sederhana mengajarkan bahwa jati dirilah kunci utama mengenal zat Allah, mengenal ciptaan Allah agar mencapai takjub akan kuasa-Nya, mengenal seluruh kehendak dan Ridha Allah lewat setiap kejadian yang terjadi setiap harinya. Pada Akhirnya tertata iman dengan keyakinan bahwa Allah itu ESA dengan segala ciptaan dan kuasanya sedang kita lemah, tak mampu berbuat apa-apa selain atas izin Allah swt. “La Haula Wa La Kuwwata Illa Billahil’aliyyil’azim,” tidak ada daya dan upaya manusia biasa ini kecuali atas rahmat dan izin Allah swt yang maha agung maha pencipta.

Dalam hal mengenal jati diri, masing-masing kita mungkin sama dan mungkin juga berbeda, tapi disini setidaknya menjadi lahan kita untuk bertukar pengalaman untuk sama-sama belajar, dan bagiku ada 3 hal penting yang harus selalu kukerjakan sebagai upaya ikhtiar mengenal diri meraih ridho ilahi.

Pertama, Kegiatan Kampus
Dalam hal ini Aku menjadikan kampus sebagai ladang untuk bertukar fikiran dan berdiskusi dengan beragam macam teman dan dosen, dari mulai sudut pandang yang berbeda hingga tindak-tanduk perkembangan kontemporer yang semuanya juga berbeda. Pada intinya disini aku belajar bagaimana, meluapkan ide, gagasan, visi-misi, belajar berfikir dan berlogika hingga akhirnya belajar bagaimana menulis karya tulis ilmiah dengan baik dan benar

Kedua, Kegiatan Pesantren.
Disamping kuliah, pesantren adalah rumahku. Selayaknya rumah yang selalu dirawat, dibersihkan, disapu, dan di perindah. Begitu jugalah pesantrenku ini. Pesantren masih perlu untuk terus di bantu, dibela dan diperjuangkan. 

Makna membantunya harus terus berikhlas ria meluangkan waktu dan mengeluarkan tenaga demi kejayaan Islam yang berawal dari pola didik pesantren. Selanjutnya arti di bela di sini pesantren memiliki jati diri yang tidak biasa, dia unik, dia berkilau, dia tinggi, untuk itu semua selalu ada saja yang iri, maka dari itu jagalah ia dari hati-hati yang busuk lagi merugikan. Terakhir adalah diperjuangkan, jika hidup tidak untuk berjuang, untuk apalagi hidup kita? Dimanapun kamu berada di sanalah lahan perjuanganmu menanamkan islam yang harus diutamakan. Untuk itu jika saat ini pesantren tempatmu, maka jadikanlah ia lahan tuk Perjuanganmu yang tak henti. “Untuk itu aku pribadi memilih mengajarkan bahasa Arab, bahasa Inggris, keterampilan Jurnalistik dan Kajian Filosofis di Pesantren ini, 4 keahlianku yang ku gunakan sebagai wadah perjuanganku.”

Ketiga, Kegiatan Harian.
Bertahun-tahun kita hidup selalu di mulai dengan satu hari setiap pergantian bulan ke matahari. Sama halnya dengan kejayaan yang harus di mulai dari langkah pertama, sama dengan perantauan yang harus di mulai dengan ke-nekat-an yang terukur atau bahkan nekat yang 100% tanpa perhitungan tanpa ukuran. Apapun itu kegiatan hariannya, pasti berbuah keberhasilan yang sangat luar biasa jika dilakukan dengan penuh keistiqomahan. Bagiku sendiri dalam keseharian menulis adalah kegiatan wajibku, meskipun terkadang berebutan dan pekerjaan lain dan rasa malas yang terkadang hadir tanpa di undang, heheheh…. Sampai hari ini, alhamduillahnya kegiatan ini dapat terus berjalan, semoga dapat menjadi tradisi dan kebiasaan yang baik. Aamiin.

Keempat, Kegiatan Masa Depan. 
Tidak terlalu banyak masa depan yang dirancang, sebab perancangan terlalu panjang terkadang menyulitkan diri untuk memulainya dari mana. Untuk itu saya cuma punya 9 rencana sederhana ke depan. Rencana menikah, menstabilkan ekonomi, berkarya tanpa henti, melanjutkan kuliah doktoral dan guru besar LN, menjadi orang bermanfaat di masyarakat sebagaimana profesi sebagai ustadz/guru, ahli di bidang bahasa Arab dan Inggris, Penulis produktif, Dosen yang berwawasan luas dan serta memiliki cita rasa hobi musik yang tinggi agar dapat menarik pemuda untuk terus aktif berinovasi.


Kelima, Kegiatan bermanfaat. 
Aku tidak Tahu Persis bagaimana mau membreakdown rangkaian kegiatan yang bermanfaat. Sebab kesemuaannya memiliki kelebihan dan keluasan sendiri dalam memahami konsep dan memberikan perubahan. Yang terpenting yang aku pahami bermanfaat itu mana kala kita mampu membantu orang lain dengan kualitas tuntas yang membuat mereka tersenyum, menangis sehingga tidak mampu berkata apa-apa kecuali tangis yang berlinang sebagai bentuk pengganti kata-kata yang Sudah tidak mampu dirangkai untuk mengucapkan kata lain dari pada terima kasih.

Dari catatan singkat ini, Aku kembali merefleksikan diri bahwa makhluk lemah yang penuh dengan kekurangan dan kealfaan ini, kelak akan menjadi sosok yang luar biasa, jika ia terus belajar, tapi jika tidak, dia bukanlah siapa-siapa.


Akan ada masanya pemikiran kita dipertimbangkan, keputusan kita di cintai dan setiap tindakan kita mendapat dukungan. Meskipun itu sukar, tapi bukan berarti tidak mungkinkan? Tidak ada yang abadi di bumi ini, semuanya silih berganti, sebagaimana dengan awan tebal yang menutupi bulan dan Matahari. Pada akhirnya dia juga akan menghilang sehingga pancaran cahaya menjadi lebih dominan. Orang yang belajar, sama seperti orang yang mengejar cahaya impian, … Ingatkah kamu, Impianmu adalah Dorongan Terhebat yang kamu miliki? Jangan pernah menggap remeh itu!

Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.