Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Friday, November 11, 2022

Rahasia Menulis Tere Liye Untuk Santri

 


 

Jika menulis mengejar harta, mengejar kaya apakah boleh? Boleh saja mengapa tidak. Jika menulis mengejar terkenal, apakah boleh? Boleh saja mengapa tidak. Namun saya tidak yakin kalian akan memiliki amunisi yang cukup banyak untuk bisa tetap konsisten menulis jika motivasinya itu.

 

Ada sebuah analogi menarik, Bang Tere menceritakan kisah seekor pipit, penyu dan sebuah pohon kelapa, hidup di permukiman kecil di pinggir pantai parangtritis, begitulah kira-kira; singkat cerita, perhari itu mereka berpisah dalam kurun waktu cukup lama, setelah 3 tahun mereka bertemu lagi di tempat yang sama, maka berceritalah masing-masing dari mereka.

 

Si pipit bercerita aku sudah terbang ke sana ke sini, dan dari atas ku perhatikan seluruh keindahan alam di atas bumi, ada Gedung-gedung pencakar langit, hijaunya hutan, lautan, sungai dan keindahan dunia yang lainnya dapat ku saksikan dari atas. Waw cerita yang sangat menarik. (ucap penyu dan pohon kelapa sambil mendengarkan). Selanjutnya kedua, Penyupun bercerita yang sama, dia menceritakan keindahan dasar laut, keindahan lautan berbeda selat, ternyata lautan lebih luas dari daratan, ternyata lautan berbeda suhu dinginnya di setiap musim, dia pernah mendapati musim panas, musim semi, musim dingin sekalipun, seluruhnya sangat luar biasa. (semua yang mendengarkan ceritanya pun terkagum). Dan terakhir pohon kelapa ditanya kemana saja 3 tahun terakhir, maka jawabannya tidak ada, dia hanya disitu saja. 

 

Disini letak keadilan itu ada. Mengapa adil? Karena pohon kelapa yang tidak kemana-mana itu; qodarullah memiliki buah yang luar biasa lebat, begitu matang sudah saatnya dipanen dia jatuh, di bibir pantai, lambat laun terbawa ombak, terdampar di tengah lautan dan berhenti di daratan China, Afrika, Hindia, Jepang, Kanada, Australia, Inggris, bisa jadi kelapa yang tumbuh di sana adalah berasal dari kelapa tua di sini. (sambut penyu dan pipit saat melihat pepohonan ketika mereka mengelilingi dunia).

Dari kisah singkat di atas, yang ingin digarisbawahi adalah adanya sudut pandang yang berbeda dari sisi penulis, seyogyanya berfikir layaknya sudut pandang pohon kelapa. Bahwa walaupun tidak kemana-mana, namun karyanya bisa kemana-mana. Walaupun dia tidak dapat hadir di banyak tempat, tapi karyanya dapat merubah banyak orang. Cukup dengan memberikan inspirasi, dapat menjadikan kita lebih berarti di mata orang lain. Maka perlu ditanamkan pemahaman bahwa menjadi penulis itu pada hakikatnya adalah aktifitas mencemplungkan 1 (satu) demi satu buah kebaikan. Dan semoga kebaikan itu bisa dibawa dan disebar luas sebagaimana kelapa dibawa ombak berkeliling dunia.

 

Begitulah kira-kira keterangan Bang Tere Liye yang dia sampaikan dalam rekaman youtube dengan chanel bijak tv yang barusan saja saya tonton, dengan judul: Tere Liye II Motivasi Tere Liye Menulis II Bijak TV berikut linknya, slilahkan diklik: Tere Liye Membongkar Rahasia Menulisnya.


Selain itu ada juga tulisan saya yang mungkin bisa teman-teman kunjungi di link berikut: Saatnya Menulis Sekarang! Bukan Besok Tapi Sekarang. 


Atau bisa juga mengunjungi link tulisan saya selanjutnya yang berjudul: Tulislah Buku yang Kamu Sendiri Suka Membacanya.  Inspirasi dari buku mas Ahmad Rifa'i Rif'an. 


Sampai di sini, sejenak saya tertegun dan terdiam, rasa-rasanya, cukup kisah dan penutup tadi menjadi akhir dari tulisan ini. Terima kasih bang Tere sudah berbagi dan menginspirasi. Jazakumullah khoir.

 

 

 

 

 

Wednesday, October 19, 2022

Setelah Memperingati 40 Tahun Kesyukuran Lalu Apa Lagi?

 


Taharrak Fa Inna Fil Harokati Barokatun.


Alamiah alam adalah perubahan, alamiahnya perubahan itu adalah berubah, maka jika ditanya apa sesuatu yang absolut di dunia ini? Selain Allah swt sang maha pencipta, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

Maka perubahan yang dipicu oleh pergerakan harus dipahami betul, bentuk dan arahnya. Harapannya dengan itu, dapat menjadi bangsa yang supel akan perubahan dan akrab dengan penyesuaian, untuk wajah yang lebih baik di masa depan.

Memperingati kesyukuran adalah kebahagiaan yang tiada tara bagi civitas di dalam pondok, tidak terkecuali bagi semua yang merasa memiliki pondok ini, namun perlu diingat kiranya jika nikmat terus disyukuri maka akan diberi nikmat yang lebih lagi, sudah siapkah diri dengan nikmat yang lebih besar? Jangan-jangan tidak siap, jangan-jangan tidak kuat, jangan-jangan bisa berubah niat, jangan-jangan berubah ketulusan, berubah orientasi pemikiran, berubah hal yang telah baik dari pakem sebelumnya. Na’uzubillah tsumma Na’uzubillah.

Maka menurut penulis sendiri untaian kata “Taharrak Fa Inna Fil Harokati Barokatun.” Kiranya hadir sebagai jawaban bijak, syarat kental value kepesantrenan,  memiliki nilai luhur yang mudah diterapkan bagi mereka yang khusyu’.

Ibaratkan lari marathon peringatan 40 tahun ini adalah garis start yang telah dibuka. Maka sedetik disahkan ulang tahun pondok; saat itu juga lari marathon sudah harus dimulai! Jangan tertinggal dengan peserta lain, sebab kita mulai di garis start yang sama, meski lambat pastikan tetap berlari. Meski berjarak pastikan terus bergerak. Meski kebingungan, insafkanlah diri untuk terus rajin bertanya pada guru yang mumpuni. Jangan malu bertanya karena itu nisyful ‘ilmu, dan jangan congkak tak ingin bertanya, seolah mampu mengatasinya sendiri. Sadarlah di atas langit masih ada langit, jangan merasa di atas langit, tidak ada manusia yang memiliki sayap, sehingga bisa terbang bebas di langit, yang ada kaki, maka sadarlah kaki masih memijak Bumi. Bersikaplah membumi, bukan melangit nan tinggi.

Sebelum akhir, kiranya penulis bertanya kembali. SETELAH MEMPERINGATI 40 TAHUN KESYUKURAN, APALAGI?

Jawaban tuan-tuan, jawaban puan-puan adalah jawaban terbijak yang kiranya bisa memberikan banyak perbubahan dan perbaikan bersama. Semoga... Aamiin... Waallahu A’alam.

 

 

 

Tuesday, October 18, 2022

Kesyukuran 40 Tahun Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah


 

Medan. Selasa, 18 Oktober 2022. Selamat Ulang Tahun Ar-Raudlatul Hasanah, selamat ulang tahun pondok kami, pondok seluruh umat muslim se-dunia, semoga panjang umur, sehat selalu raga dan jiwamu. Do’a kami tulus demi kejayaan dan kesuksesanmu. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

 

Di hari penuh kesyukuran ini, pesantren memperingatinya dengan perayaan yang melibatkan seluruh lini, baik internal maupun eksternal, dengan mengundang Gubernur Sumatera Utara, seraya meminta arahan dan nasehatnya sekaligus memohon kesediaan untuk peletakan Batu Pertama Gedung Cordoba. Gedung yang diproyeksikan sebagai klinik Kesehatan santri dan santriwati dilantai satu, Gedung 

 

Mengusung tema: “Berkhidmat Untuk Negeri, Menggapai Ridho Ilahi.” “Berkhidmat” dalam artian ibadah; beribadah mesti ada ketaatan dan kecintaan. Sebab tidak disebut sempurna satu ibadah tanpa rasa cinta, dan tidak akan disebut totalitas, jika rasa cinta ada, namun tidak ada ketaatan. Keduanya harus beriringan tidak bisa dipisahkan, demikianlah arti khidmat yang dimaksudkan, diartikan sebagai bentuk sikap taat dan cinta tanah air, syarat membela dan memperjuangan negeri ini.   “Menggapai Ridho Ilahi” adalah tujuan awal dan akhir hidup manusia. Dimulakan dengan mengucapkan nama Allah dan ditutup dengan nama Allah. Semoga khusnul khotimah. 

 

Ada hal yang menjadi tagline dari peringatan kesyukuran 40 tahun pondok pesantren Ar-Raudlatul Hasanah ini, terangkum dalam 5 Indikator keberhasilan. Pertama: Introspeksi dan refleksi diri. Kedua: Silaturrahim dan Publikasi Internal dan Eksternal Pesantren. Ketiga: Menunjukkan prestasi kerja dan keunggulan yang telah dicapai pesantren. Keempat: menjaring dan mengidentifikasi masukan dari dalam dan luar pesantren. Kelima: Menunjukkan kinerja masing-masing unit kerja dalam memenuhi tujuan yang telah ditetapkan. Dengan berbenah dari 5 (lima) aspek di atas berharap pesantren dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya.

 

 

Monday, October 17, 2022

Pengalaman Membentuk Formasi Unik Labirin Saat Khataman Al-Qur’an


 

Senin, 17 Oktober 2022. Ribuan santri dan santriwati Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an 40 kali lebih. Bertempat di Masjid, para santri bersama Asatidz mengaji bersama, dengan 15 orang santri terpilih JQH, memandu bacaan mengaji secara ‘zhohir’ bergantian menggunakan microphone, masing-masing membaca 2 juz, sedangkan santri lainnya dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 30 orang, masing-masing orang membaca 1 juz, sambil membentuk formasi unik santri/santriwati Raudhah menikmati moment mahal tersebut.

 


Pemandangan yang sama juga dari Gedung Fatimah Lt.3,  Para santriwati bersama Asatidzah membentuk formasi unik, sambil mengkhatamkan al-Qur’an 40 kali lebih. Dilaksanakan mulai pukul 7.30 hingga berhenti menjelang azan shalat dhuhur berkumandang. Di tutup dengan pembacaan khataman dari para asatidz bergantian dari surah ad-Dhuha hingga an-Nas, dilanjutkan dengan do’a bersama mendo’akan rahmat atas kesyukuran dan mohon keistiqomahan pondok mengemban Amanah wakaf umat Islam ini.

Hal yang menarik dari mengaji al-Qur’an kali ini adalah formasinya yang berbentuk labirin. Dengan adanya logo 40 tahun pondok di tengah dari formasi. Mengisyaratkan makna menuju dewasa itu tidak mudah. Tak heran ada jalan panjang yang harus dilewati, terkadang dihadapkan pada dua sisi jalan yang bersebrangan, harus berani menentukan pilihan untuk arah yang dituju; terkadang juga salah jalan, harus kembali lagi ke awal; bahkan terkadang menemui jalan buntu, karena salah pilihan, tetap harus rela untuk menyusuri jalan lain guna kembali ke jalan yang benar yang diridhoi Allah swt.

 

Selain formasi labirin, kompak berpakaian serba putih juga menjadi ciri khas khataman al-Qur’an hari ini. Melambangkan kesucian niat, kebersihan hati dan ketulusan ‘ghiroh’ memperingati detik-detik hari kesyukuran ulang tahun Pondok pesantren Ar-Raudlatul Hasanah ke 40 tahun. Diusianya yang telah matang, diharapkan mampu menunjukkan sikap dewasa dan arif lagi bijaksana, terkhusus dalam memberikan contoh, teladan, uswah dan gambaran terbaik bagi segenap lembaga pendidikan Islam pada umumnya dan dan bagi pesantren-pesantren di seluruh Indonesia khususnya. 

Khataman al-Qur’an ini, merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun pondok yang ke-40 tahun. Menjadi titik awal introspeksi dan refleksi diri yang semakin dewasa, guna memetik hikmah dari sekian banyak nikmat dan rahmat yang telah diberikan Allah swt., seraya terus berdo’a semoga pesantren, badan wakaf dan pimpinannya, santri-santriwatinya, guru-gurunya, pekerjanya, alumninya, semuanya dapat terus istiqomah menjaga dan menjadi lembaga kaderisasi pendidikan umat yang terbaik dan mampu memberikan layanan bermutu bagi masyarakat, dengan niat semata-mata untuk ibadah mengharap ridho Allah swt.

 

Sunday, October 2, 2022

Surat Terbuka Di Buku Nasehat Wisudawan Santri

Assalamu’alaikum wr wb

Anak-anakku sekalian, 

Kelak akan kamu dapati dunia ini luas, besar dan melalaikan. Jalanannya terjal seakan tak terbatas, beruntun masalah akan kamu jumpai nantinya, maka baik-baiklah dan hadapilah dengan hati serta pikiran yang bersih. Jaga-jagalah dirimu sebagaimana kamu menjaga shalatmu selama disini, mudah-mudahan Allah meridhoi dan merahmatimu, sehingga kamu menjadi hamba-Nya yang bersyukur.

Banyak kata yang ingin kami utarakan di secarik kertas ini untuk menemani langkah panjangmu setelah alumni, namun walaupun hanya selembar kiranya cukup sebagai pengingat. Kami ingin mengingatkanmu pada 6 hal ini, yang jika kamu lakukan hidupmu Insya’ Allah akan baik, semakin baik dan lebih baik lagi biiznillah, wallahu’aalam.

1.     Libatkanlah Allah swt dalam segala niat dan aktivitasmu, semoga mudah jalanmu, tercapai angan dan cita, serta bermanfaat sisa umurmu.

 2.     Jalan hidup yang kamu tempuh setelah ini tidak lurus, mungkin berliku, mungkin buntu dan mungkin berlumuran dosa. Maka, jangan pernah berputus asa untuk meminta ampun pada Allah swt, dan bertobatlah setiap kali kamu berdosa. JANGAN PERNAH RAGU!

3.     Jangan terlalu terfokus pada hal besar, sehingga membuatmu menghayal dan lupa pencapain kecil yang lebih berarti. Semangatmu tumbuh dengan penyelesaianmu pada tugas kecilmu yang sempurna. Bergeraklah dari sana secara bertahap; kan kamu dapati proses perkembanganmu yang menjadikanmu bergerak lebih besar, menuntaskan persoalan lebih rumit dan akhirnya berpikir besar, bertindak besar, berkiprah besar, tapi bukan besar kepala, bukan besar ego, bukan besar nafsu dan lain sebagainya, sebab yang maha besar adalah Allah swt. Subhanallah wallahu akbar.

4.     Lakukan apa yang mesti kamu lakukan. Bergerak dari apa yang ada di depan mata. Mulai segala sesuatu dari pencapaian-pencapaian kecil yang ada di sekitarmu sehingga membuatmu positif, membuatmu merasa lebih bersemangat, lalu kerjakanlah aktifitasmu sungguh-sungguh, lakukan sepenuh hati, dan tuntaskanlah. Ingat! Diterimanya pahala dari setiap ‘amal’ (pekerjaan) adalah ketika pekerjaannya terselesaikan dengan sempurna.

 


   5. Dawamkan satu amalan yang dengan itu kamu lalui hidupmu di Bumi Allah swt ini. Bentuknya bermacam. Misalkan: Setiap setelah subuh shodaqoh subuh, sebelum tidur membaca surah al-mulk, istighfar 100 kali usai shalat 5 waktu, membaca yasin setiap setelah subuh, apapun itu bentuk yang kamu dawamkan, Insya Allah akan memberikan satu efek dalam perjalanan hidupmu, bisa itu kemudahan, bisa itu kemurahan rizki, bisa perlindungan hidup di dunia, syafa’at di akhirat bahkan rahmat “fiddaroin” (Di Dunia dan Akhirat) dari Allah swt.

 

   6. Terkhir, se-tamatnya kamu dari pesantren ini, jangan lupa tetap hiduplah dengan pola hidup sehat ala pesantren. Ingatlah konsep normal diri seseorang adalah terus menerus membiasakan olah Pikir yaitu dengan membaca, berdiskusi dan menulis. Olah Dzikir dengan ibadah, tadabbur dan dzikir. Olah Rasadengan memahami sekeliling, belajar musik, memperdalami seni dan Olah Raga agar kebugaran selalu terjaga. 

Demikian sekelumit yang ingin ustadz ingatkan pada anak-anaku sekalian, jika mentok jalanmu, jika terbentur langkahmu, jika lemah kakimu, jika hilang kekokohan prinsipmu, jika lemah kondisimu, ingatlah kamu memiliki Allah swt yang Maha Akbar, bersujudlah, tuangkanlah keluh kesahmu di atas sajadahmu di malam-malam tenangmu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang beruntung. Aamiin ya rabbal’alaim. Wa’aalhu’aalam bisshoab.

Wassalamu’alaikum wr wb


Lumut, 15 Maret 2021

Wassalamu’alaikum wr wb

 Kepala Bidang Pendidikan

 

Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I

 

*Dokumentasi 2020-2021

Sunday, September 25, 2022

“Perfect” Kata Ideal yang Tidak Ideal Dalam Pendidikan Pesantren

Dunia dan Manusia 

Sebagaimana halnya dunia yang memiliki banyak fungsi, manusia juga demikian. Dunia pada satu waktu menjadi tempat bernaung manusia, di waktu lain juga sebagai  tempat ekosistem alam berlangsung, di lain posisi juga sebagai satu buah planet dalam tatasurya yang memiliki tanggungjawab tertentu; satu waktu menjadi dunianya manusia, satu waktu menjadi tempat tinggal semua makhluk yang ada di dalamnya, baik itu hewan ataupun tumbuh-tumbuhan yang terus tumbuh dan makhluk yang lain yang juga berkembang terus melewati perubahan zaman. 

 

Manusia juga demikian, memiliki multi fungsi. Pada satu posisi dia sebagai seorang hamba, dia sebagai khalifah di keluarga, dia sebagai orang tua bagi anak-anaknya, dia sebagai anggota atau ketua dalam tempat kerja, atau dia sebagai guru bagi anak didiknya, atau bahkan dia menjadi sosok kyai dari pondoknya;  dari hal-hal tersebut, cukup untuk mengatakan bahwasannya hidup dan bertumbuh adalah pilihan terbaik dalam menghadapi ragam posisi manusia itu sendiri.


Andakah Manusia Perfect Itu?

 

Beralih kepada manusia, akankah manusia bisa perfect di dalam semua bidang yang dia lakukan? Bisakah ia maksimal dalam semua fitrah yang dia miliki sebagai seorang makhluk? Sebab fakta yang sering terjadi di lapangan. Jika seseorang sangat konsen di tempat kerjanya, maka keluarga akan tertinggal. Jika fokus mengurus keluarga, pekerjaan akan terkesampingkan. Jika lebih intens pada profesi bisa jadi pekerjaan dan keluarga terbengkalai di waktu yang bersamaan. Semuanya tidak bisa maksimal, maka bagaimana caranya? Caranya adalah selesaikanlah satu persatu, hingga tuntas satu persatu. 

 

Apapun yang dilakukan seseorang, tidak mesti perfect di awal, sebagai contoh dalam menulis buku, tidak mesti harus sempurna baru diterbitkan, akan tetapi cukup setelah penulis merasa naskahnya sudah cukup untuk diterbitkan, maka berusalah untuk menerbitkannya. Setelah semuanya selesai, baru masuk fase kedua, merevisi yang sudah diselesaikan di awal tadi. 

 

Bagi Anda yang perfectsionis, selalu berfikir tentang kesempurnaan, tidak ingin melakukan kecuali nilainya sempurna tanpa cacat, menurut kaca mata pribadi penulis, sesekali jangan terbebani dengan pola kerja seperti ini, sebab inilah solusi agar Anda bisa adil dalam setiap bidang yang membutuhkan posisi Anda ada disana. Jika dibutuhkan menjadi seorang ayah, Anda bisa memberikan waktu untuk keluarga. Jika dijadikan sosok guru Anda dapat hadir di depan santri sebagai seorang guru. Ketika diminta pulang kampung, Anda bisa pulang kampung mengunjungi orang tua Anda. Sehingga pada akhirnya tentang perfect adalah tentang bagaimana upaya ekstra Anda, untuk melanjutkan perjuangan secara bertahap dan konsisten (Istiqomah), bukan tentang perfect atau tidak perfect itu sendiri.

 


Poin Pentingnya

 

Pada akhirnya jika manusia dalam hal ini pemimpin, berjalan dengan mengikuti ritme kewajibannya yang lebih diutamakan, lalu mengerjakan yang sunnah, kemudian menuntaskan yang mubah, maka tidak akan ada rasa gundah, dalam hatinya, sebab secara fitrah, hati kecil Anda mampu membedakan bagaimana bobot kerja yang harus diletakkan pada posisi  kewajiban, sunnah dan mubah. Jangan membohongi diri Anda sendiri lagi. Cukup katakan: "Ya Saya sadar, dan kini Saya insaf dan ingin memperbaikinya lagi."

 

Perfect adalah kata Ideal yang tidak ideal bagi pesantren. Sebab inti dari bekerja adalah pergerakan yang terus simultan dan tak pernah henti. Dalam bekerja, cobalah hal baru, terus berekplorasi, kolaborasi dan tetap saling berdiskusi; jangan takut untuk berbuat, tidak mesti perfect, tapi harus istiqomah dan tuntas. 

 

Keistiqomahan dengan sendirinya akan mengenalkan siapa sosokmu, bidangmu dan fokusmu. Lebih jauh, masyarakat akan mengenal kepribadianmu. Sedangkan kerja tuntas adalah akhir yang harus dikerjakan, sebab tidak ada amalan yang baik tanpa penuntasan. 

 

“…. Walakin Saddidu, bukan Syaddidu! Bi syin,” tetapi tepat-tepatkanlah. Apa itu tepat-tepatkanlah, di sinilah ada beberapa penafsiran yaitu menepatkan niat kita lillah, menetapkan bahwa apa saja yang kita kerjakan lillah, di sinilah letak arti istiqomah. Ujar KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA dalam Bekal Untuk Pemimpin Pengalaman Memimpin Gontor.

 

Maka bagi siapapun yang beristiqomah, sesungguhnya tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dalam menghadapi hidup ini, karena Allah swt telah memberikan kabar gembira dengan surga yang dijanjikan.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian meraka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjiakan Allah kepadamu” (QS. Fussilat: 30)

 

Wallahua’lam.

 

Sumber Inspirasi Dari:

Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Pemimpin Pengalaman Memimpin Gontor, Kedua (Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jatim: Trimurti Press, 2011).

Friday, September 23, 2022

Jajal Awakmu; Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Ada dua kata ampuh dalam dunia pendidikan yang mesti dimaknai dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh salah pengertian yaitu memaknai arti ujian dan belajar. Jika ujian dimaknai sebagai akhir dari proses belajar, maka setelah ujian tidak ada belajar lagi, namun jika ujian dimaknai sebagai proses yang terdapat di dalam prosesi belajar, maka ujian itu tidak memberikan efek selain mengetahui batas kemampuan, tahu atas kadar diri, agar kelak bisa evaluasi mandiri, untuk itu mesti benar pemahamannya dulu, barulah ujian bisa menjadi hasil yang mampu bergerak menggerakkan, berjalan menjalankan, berkiprah memberikan pencerahan.

 

Ada hal menarik dibalik kata ujian ini, salah satunya adalah semangat mengetahui kemampuan diri, dan proses belajar yang tak henti, dalam istilah pondok pesantren modern sering didengungkan dalam 2 ucapan sakral, yang hadir sebagai dzikir. “Jajal awakmu” dan “ping sewu”. Sebuah falsafah esensial yang memiliki arti mendalam, terutama bagi seluruh civitas akademik, baik ia sebagai murid, santri, santriwati, mahasiswa, mahasantri, mahasantriwati, karyawan, guru, dosen bahkan kyainya pun sendiri, tetap harus mempraktekkan dua kata istimewa ini. Sebab dengan kalimat sederhana ini pondok pesantren mampu menjadi sumber inspirasi dalam dinamika kehidupan pesantren. Ibaratkan sedang mengisi teka-teki silang, dua kalimat inilah jawaban yang benar-benar bisa mengisi kolom yang kosong, dua kolom yang menjadi penyempurna untuk menjawab seluruh teka-teki yang disajikan. 

 

“Jajal awakmu” adalah istilah jawa yang berarti ujilah dirimu, cobalah dirimu, tekan dirimu, beranilah mencoba hal baru, jangan takut melakukan hal baru untuk berkiprah di masa depan, dengan segala daya dan upayamu. Begitulah jika diartikan secara bebas, mudah-mudahan tidak menghilangkan esensinya. Efek dari kata sederhana ini, akan timbul semangat dalam diri yang mampu menjadi sumber pergerakan. Ketika dihadapkan pada berbagai macam bentuk ujian, mantranya “jajal awakmu” sehingga seketika menjadi berani mencoba. Untuk persoalan hasil adalah buah dari proses, dan itu tidak jadi masalah, karena biasanya proses yang baik tidak akan jauh dari hasil yang menggembirakan. Setiap kali datang kesempatan dan peluang baru, dzikirnya dalam hati “jajal awakmu”,  akan timbul semangat menggebu, bahwa kamu mampu dan kamu bisa mencobanya. Jika telah demikian, tidak ada yang terlewatkan selain semuanya siap untuk dicoba.

 

“Ping sewu” istilah jawa yang ini berarti hingga 1000 kali, menerangkan bahwa jika diri telah berani mencoba sesuatu, maka melakukannya harus dengan sungguh-sungguh. Jika belum membuahkan hasil, maka langkah berikutnya adalah cobalah hingga “ping sewu” coba hingga 1000 kali, biasanya segala sesuatu kalau semangatnya sudah semangat 1000, maka sebelum angka 999 apapun itu, sudah menghasilkan buah yang manis yang dapat dinikmati rasanya. Semangat ping sewu ini manifestasi dari sebuah ideologi sebuah pergerakan, dan komitmen perjuangan serta konsistensi dalam menuju sebuah tujuan, yang keseluruhannya tidak dapat berjalan jika tanpa kesungguhan yang matang. Maka cobalah terus “ping sewu” seribu kali.

 

Sejatinya jika manusia masih hidup, maka ujian dan belajar adalah dua kalimat yang takkan terpisahkan seumur hidupnya, seorang profesor sekalipun masih tetap harus belajar bagaimana menciptakan profesor-profesor yang lainnya; seorang rektor terus belajar bagaimana menggerakkan kampus, mengupgrade para dosen hingga belajar dan berpikir bagaimana cara mengisi kekosongan akal dan inteligensi mahasiswanya agar bisa tumbuh dan berkembang menjadi “agent of change”; seorang kyai memikirkan dan terus belajar bagaimana mengembangkan pondok dan santri/santriwatinya; orang tua yang telah berada di puncak derajat manusia istimewa di hadapan Allah swt, tetap juga harus belajar bagaimana mengetahui pribadi anaknya, belajar bagaimana mengatasi prilaku anaknya, belajar bagaimana memahami pola pikir dan tindakan anaknya, kadang kala orang tua diuji lewat kelakuan anak yang meminta perhatian, diuji lewat perilaku anak nakal yang tidak terprediksi sama sekali, bahkan kadang juga orang tua diuji untuk bisa menjadi uswah bagi anaknya yang notabene telah tumbuh menjadi pribadi baik, konsisten, suka membantu, rajin beribadah, dan kuat agamanya, kesemuannya tidak terlepas dari belajar dan ujian.

 

Jajal awakmu; ujian untuk belajar bukan belajar untuk ujian. Dicoba ping sewu, di kerjakan ping sewu, disosialisasikan ping sewu, diistiqomahkan ping sewu, diserukan ping sewu, untuk selanjutnya bertawakkallah, biarkan rahmat Allah yang akan menolongmu di dunia dan akhirat. Tidak ada tujuan kita selain “Jannah”.


*Sumber Inspirasi dari:

Ahmad Suharto, Senarai Kearifan Gontory Kata Bijak Para Perintis dan Masyayikh Gontor, 1 ed. (Yogyakarta: YPPWP Guru Muslich, 2016).

Thursday, September 22, 2022

Wajah Pendidikan Pesantren



 

Sebagaimana layaknya wajah, yang selalu terlihat di awal, dan diperlihatkan di depan. Maka seperti itu jugalah pendidikan pesantren. Selalu pendidikan yang dijadikan nilai jual bagi bangsa lain, seraya menjadi pembeda dari lembaga lain; sehingga diupayakan pendidikan pesantren ini, mampu menjadi pendidikan terbaik dalam membentuk generasi yang siap terjun dan berkiprah di masyarakat, agama, bangsa dan negaranya.

 

Meletakkan pendidikan sebagai wajah bagi pesantren, sama halnya menjadikannya pilar terbagunnya pesantren, baik dari sisi internal maupun kepercayaan eksternal. Di sini penulis merangkum wajah pendidikan pesantren ke dalam enam wajah esensial, yaitu: Pendidikan keikhlasan, pendidikan kesederhanaan, pendidikan kemandirian, pendidikan ukhuwah Islamiyah, pendidikan kebebasan dan pendidikan leadership.

 

Pendidikan keikhlasan, ialah pendidikan akan jiwa keikhlasan seseorang. Kyai ikhlas mendidik santrinya, dan santrinya ikhlas untuk taat pada kyainya, sehingga miliu yang tercipta adalah saling percaya, saling yakin dan saling dukung demi satu tujuan perjuangan dan pengorbanan lillah. Tanpa pendidikan keikhlasan jiwa besar untuk berbuat tanpa harap balasanpun tak akan pernah tercipta. Harapannya pola pendidikan Ikhlas ini dapat berjalan dan menjalankan sebuah tatanan pendidikan dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan proses tidurpun adalah bagian dari pendidikan keikhlasan itu sendiri. Pola hidup di dalamnya lebih dituntut untuk memberi, bersedekah, mendahulukan kewajiban dari pada menuntut hak-haknya. Maka niat berkorban dan berjuang untuk pesantren, agama, bangsa, dan negara karena Allah swt ialah hakikat kehidupan sesungguhnya.

 

Pendidikan kesederhanaan, ialah pendidikan cara hidup sederhana yang diciptakan pesantren dalam mendidik santrinya syarat akan nilai dan suasana kesederhanaan. Sederhana bukan berarti tidak mampu, miskin, melarat, papa dan tak berdaya. Justru ketika mampu untuk hidup mewah namun tetap memilih untuk sederhana ialah sebesar-besarnya jiwa orang yang bijaksana. Sebab jiwa kesederhanaan itulah yang kelak mudah diisi dengan nilai-nilai yang luhur, kekuatan jiwa, kesanggupan fisik, ketabahan hati dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Sebab di balik pola pendidikan inilah muncul sosok yang sederhana dalam penampilan namun besar jiwanya, sederhana dalam ucapan tapi konsisten dalam amalannya, sederhana dalam pola keseharian tapi sungguh-sungguh dalam perjuangannya. Semoga pedidikan ini bisa diterapkan bagi kita bersama.

 

Pendidikan kemandirian. Adalah pendidikan yang mengarah pada pendidikan mentalitas mandiri, di mana santri dan santriwati diharuskan mampu mengurus urusannya sendiri, tidak bergantung oleh siapapun dalam melakukan kewajiban dan kegiatan yang memang haus ia lakukan sendiri. Mental kemandirian ini akan membentuknya agar tidak selalu bergantung kepada orang lain. Nuraninya meyakini cukuplah Allah sebagai tempat berkeluh kesah, cukuplah Allah sebagai tempat kembali, dalam sujud panjang di atas sajadah setiap malam-malamnya.

 

Pendidikan ukhuwah islamiyah. Adalah pendidikan seni dalam merasa, dari pendidikan ini diharapkan santri dapat merasakan kesulitan temannya, sehingga dapat dibantunya. Dari pendidikan ukhuwah Islamiyah ini, secara spontan yang mampu akan membantu yang tidak mampu, yang tahu akan memberi tahu yang tidak tahu, tanpa sekalipun terucap kata meminta, sebab begitulah ukhuwah Islamiyah, mampu merasa sebelum keluh kesah terucap dalam kata dari saudaranya. Harapannya pendidikan ini, dapat terus tertanam bahkan terhujam di sanubari hingga akhir hayat santri.

 

 

Pendidikan kebebasan. Bukanlah mendidik secara bebas tanpa terarah, akan tetapi proses pendidikan kebebasan tanpa menghilangkan hal yang prinsipil sebagai seorang muslim dan mukmin. Sehingga hasil dari pola pendidikan kebebasan ini adalah bertindak sesuai petunjuk ilahi (hidayatullah). Pendidikan ini juga ditanamkan setelah seorang santri dan santriwati memiliki budi yang tinggi atau budi yang luhur nan agung, dan setelah ia berpengetahuan luas pastinya.

 

Pendidikan leadership, adalah proses pendidikan intensif dalam menyiapkan pemimpin masa depan, sebab calon pemimpin masa depan harus mampu menghadapi seluruh persoalan yang dihadapinya, dan anggotanya, baik itu materil maupun non materil. Dari dua persoalan ini, persoalan non materil itu adalah ujian yang benar-benar terasa berat, sebab harus berhadapan pada pola pikir, sikap dan prilaku manusia dalam beragam macam bentuk polanya. Untuk itu dibutuhkan pendidikan leadership yang akan memperkuat daya dorong, daya tahan, daya suai dan daya kreatif pemimpin.

 

Demikian catatan singkat, tentang enam wajah pendidikan pesantren, kiranya dapat sedikit memberikan insight baru bagi teman-teman pembaca. 

 

Terima kasih karena telah membaca hingga baris terakhir ini.

 

 

 

*Sumber Inspirasi dari: 

 

Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Pemimpin Pengalaman Memimpin Gontor, Kedua (Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jatim: Trimurti Press, 2011).

 

Nur Hadi Ihsan, Muhammad Akrimul Hakim, dan Ahmad Hasan Al-Banna, Profil Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur Indonesia, Kedua (Ponorogo, Jawa Timur: Darussalam Press Pondok Modern Darussalam Gontor, 2006).

 

 

Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.